Penelitian ini mengkaji subordinasi perempuan dalam konteks keluarga pemuka agama Islam dengan menerapkan teori patriarki yang dikemukakan oleh Sylvia Walby sebagai landasan analisis. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa subordinasi perempuan dalam keluarga pemuka agama Islam dapat dipahami sebagai akibat dari dominasi laki-laki dalam pembagian tugas di rumah tangga yang tidak seimbang. Dalam struktur ini, laki-laki memiliki kontrol penuh atas pengambilan keputusan, sementara perempuan sering kali dianggap sebagai pihak yang mengikuti atau melaksanakan keputusan tersebut. Seringkali, perspektif agama digunakan untuk membenarkan struktur hierarki ini, di mana laki-laki dianggap memiliki otoritas yang diberikan oleh Tuhan untuk mengatur kehidupan keluarga. Selain itu, norma-norma agama dan kontrol dari laki-laki dalam keluarga (baik suami maupun ayah) sering kali mengatur seksualitas perempuan, yang dihubungkan dengan kehormatan keluarga, sehingga membatasi kebebasan perempuan dalam menentukan pilihan terkait seksual dan reproduktif. Penelitian ini juga menyoroti bahwa subordinasi perempuan dalam keluarga Pemuka Agama Islam dapat terlihat dalam berbagai aturan mengenai kesucian pernikahan dan peran reproduktif yang ditekankan oleh ajaran agama. Lebih jauh, kontrol yang dilakukan oleh agama dalam budaya sering kali memperkuat posisi subordinasi perempuan, menempatkan mereka dalam posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa subordinasi perempuan dalam keluarga pemuka agama Islam merupakan hasil dari interaksi antara faktor sosial, budaya, dan agama yang saling memperkuat patriarki.