This Author published in this journals
All Journal Jurnal KACA
Achmad Imam Bashori
Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Fithrah Surabaya, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pergeseran Tafsir Tahlili Menuju Tafsir Ijmali Achmad Imam Bashori
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 9 No. 1 (2019): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i1.3007

Abstract

Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat Islam, tidak dapat berkata dan berbuat banyak jika tanpa ada interpretasi atau penafsiran terhadap kandungan isinya. Keberadaan nabi Muhammad sebagai interpretator memang penting adanya, namun tugas utama sebagai penyampai risalah Tuhan tidak mampu mengingkari esensi lahiriahnya sebagai manusia yang terbatas ruang dan waktu. Semasa hidup Rasulullah, bahasa al-Qur’an yang kadang sulit dimengerti memang mudah untuk ditafsirkan karena para sahabat hanya tinggal bertanya pada Rasulullah, hal ini karena memang Rasulullah yang berposisi sebagai mubayyin adalah satu-satunya rujukan dalam memahami kandungan al-Qur’an. Namun sepeninggal beliau, dinamika dan persoalan umat tidaklah menjadi tuntas. Beragam persoalan dan perkembangan keilmuan menuntut berkembang pula metode dalam memberikan interpretasi terhadap alquran, dalam artian kegiatan penafsiran terus berjalan dan harus berkembang. Jika pada masa sahabat penafsiran seringkali berdasar pada riwayah semata, pada perkembangan selanjutnya lahir pula tafsir bi al-ra’yi yang bersumber pada ijtihad dan penalaran. Dari dua sumber penafsiran ini, pola penafsiran selanjutnya berkembang dalam empat metode yang lazim digunakan dalam proses penafsiran, yakni metode tahlili (analitis), ijmali (global), muqarin (perbandingan) serta maudu’i (tematik). Dan dalam tulisan ringkas ini, penulis mencoba menguraikan pengertian dan pergeseran metode tahlili menuju ijmali.
Mediasi Pengampunan Dosa: (Studi Komparatif Ayat 48 dan Ayat 123 dalam Surah Al-Baqarah) Achmad Imam Bashori
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 9 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i2.3031

Abstract

Pembahasan tentang mediasi atau yang biasa disebut shafa’ah dalam kaitannya dengan pengampunan dosa dan siksaan yang dilakukan oleh manusia, merupakan pembahasan yang tak lekang olah masa, dimana sebagian manusia sangat bergantung dan mengandalkannya sehingga lupa dengan amal perbuatan yang dilakukannya, di sisi yang lain bagi yang tidak mempercayainya, mereka terlena dengan amal perbuatannya yang kemudian menjadikannya bangga dan lupa hakikat yang sebenarnya, pemahaman mereka tentang shafa’ah ternyata telah digambarkan dengan jelas di dalam al-Qur’an, untuk menjelaskan perbandingan pola pikir mereka dapat telisik dengan menggunakan metode penafsiran, diantaranya adalah pendekatan metode muqorin. Tafsir muqaran ialah metode tafsir yang ditempuh oleh seorang mufassir dengan cara mengambil sejumlah ayat al-Quran, kemudian mengemukakan penafsiran para ulama tafsir terhadap ayat-ayat itu, baik mereka termasuk ulama salaf atau ulama hadith yang metode dan kecenderungan mereka berbeda-beda, baik penafsiran mereka berdasarkan riwayat atau berdasarkan rasio, selanjutnya membandingkan perbedaan kecenderungan mereka. Kata kunci: metode, muqarin, komparatif, shafa’ah
Kehidupan Setelah Kematian: (Telaah Kritis Sabab Nuzul Surah Ali Imran ayat 144 dan 169) Achmad Imam Bashori
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 10 No. 1 (2020): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v10i1.3070

Abstract

Pemahaman yang mendalam tentang kandungan ayat al-Qur’an, bagi seorang mufasir mewajibkan memahami dengan baik serta mendalami ilmu-ilmu atau alat bantu yang berkaitan dengan dunia tafsir. Salah satu alat bantu dan ilmu yang harus dikuasai adalah ilmu asbab al-nuzul. Asbab al-nuzul merupakan piranti yang tidak boleh ditinggalkan dalam menafsirkan dan menakwilkan Qur’an. Dalam pandangan Abd al-Qadir Mansur, saat menafsirkan sebuah ayat, seorang mufasir harus benar-benar memperhatikan dengan seksama asbab al-nuzul dari sebuah ayat. Sebab dengan mengetahui asbab al-nuzul seorang mufasir dapat mengejawentahkan makna yang terkandung dari sebuah ayat dengan dalam serta mendekatkan penafsiran pada kebenaran. Oleh karenanya tak salah bila Sahiron Syamsuddin dalam tesisnya yang berjudul An Examination of Bint al-Shati’’s Methode of Interpreting the Qur’an mengatakan bahwa tiada perselisihan paham dalam urgensi ilmu asba>b al-nuzu>l bagi seorang mufasir saat melakukan interpretasi ayat Qur’an. Hal itu berguna ketika ada pertanyaan tentang bagaimana aplikasi sebuah ayat saat ditemukan ketidakpahaman pada tekstualitas ayat. Pada taraf yang lebih jauh, jika kita menelaah isi al-Qur’an maka akan ditemukan ayat-ayat al-Qur’an yang turun tanpa adanya asba>b nuzu>l-nya. Umumnya diketahui bahwa ayat yang turun tanpa asba>b al-nuzu>l adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan keimanan pada Allah, hari akhir, problematika tauhid, sifat surga dan neraka, cerita-cerita umat terdahulu, serta yang tak ketinggalan cerita sepak terjang para nabi-nabinya. Adapun asba>b al-nuzu>l menemukan perannya yang disignifikan pada tashri’ hukum halal-haram, perundang-undangan serta legal-formal aturan-aturan yang berkaitan dengan interaksi dalam beragama. Biasanya asba>b al-nuzu>l muncul oleh sebuah kejadian ataupun pertanyaan yang datang dari para sahabat Nabi. Kata kunci: Kehidupan, kematian, Ilmu Sabab Nuzul