Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Dengan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di RW 02 Kelurahan Kramat Pela Kecamatan Kebayoran Baru Jakarta Selatan Tahun 2025 Nanny Harmani; Hasna Ibadurrahmi
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.48740

Abstract

Buang Air Besar Sembarangan (BABS) merupakan salah satu masalah sanitasi yang masih menjadi tantangan di banyak negara berkembang. Indonesia menargetkan eliminasi Buang Air Besar Sembarangan (BABS) pada 2025, namun 86% keluarga di RW 02 Kramat Pela masih BABS, menunjukkan rendahnya kesadaran sanitasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan hasil bervariasi terkait hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku BABS, terutama di lingkungan perkotaan padat penduduk. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku BABS di RW 02 Kelurahan Kramat Pela, Jakarta Selatan pada tahun 2025. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan disain cross sectional serta dilakukan pada Februari-Maret 2025 di RW 02. Populasi penelitian 279 KK dengan menggunakan metode purposive sampling. Kriteria inklusi responden berdomisili, usia produktif/lansia, dan bersedia berpartisipasi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa Sebagian besar responden adalah perempuan (87,6%), berusia 40-50 tahun (37,1%), ibu rumah tangga (77,5%), pendidikan SMA (44,9%), penghasilan < Rp1.000.000/bulan (53,9%), dan 4-5 anggota keluarga (53,9%). Tingkat pengetahuan 62% berpengetahuan tinggi dan 55% bersikap baik. Meskipun 100% melaporkan tidak BABS sebulan terakhir, 53% perilaku diklasifikasikan tidak baik karena rendahnya kepemilikan tangki septik (52,8% tidak punya) dan jamban (47,2% tidak punya), serta tingginya penggunaan jamban bersama (56,2%). Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0,283) maupun sikap (p=1,000) dengan perilaku BABS. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap yang baik belum menjamin perilaku BABS yang baik di RW 02. Keterbatasan infrastruktur, faktor ekonomi, serta norma sosial dan kebiasaan lama dapat lebih berperan dalam menentukan praktik sanitasi masyarakat.
Pelatihan Zero Waste Living Melalui Pengolahan Sampah Menggunakan Maggot BSF Nanny Harmani; Nur Asiah; Meitiyani
NuCSJo : Nusantara Community Service Journal Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Publikasi Ilmiah (lppi) Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/nucsjo.v1i2.33

Abstract

Krisis lingkungan global dalam pengelolaan sampah membutuhkan perhatian yang serius. Timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2023 sebanyak 33.064.997,81 ton/tahun. Meningkatnya volume sampah rumah tangga dan industri, terutama sampah organik berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat dan ekosistem yang ada, seperti tempat berkembang biak lalat, tikus, pencemaran lingkungan, sumber penyakit, banjir apabila musim hujan, dan menimbulkan bau menyengat. Peran serta masyarakat dalam meminimalkan sampah sangat besar termasuk peran organisasi Aisyiyah sebagai organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Dalam kegiatan ini bekerja sama dengan PRA Aisyiyah Kayu Manis Utara. Metode yang dilakukan melalui observasi lapangan, sosialisasi cara pemilahan sampah organik dan anorganik, memperkenalkan media organik yang disukai maggot BSF, mengedukasi masyarakat tentang potensi maggot BSF dan menjelaskan tahapan siklus maggot BSF, serta informasi fase terbaik yang dapat dimanfaatkan dalam merombak sampah organik serta mengedukasi cara pengolahan sampah menggunakan maggot BSF yang benar. Hasil yang didapatkan dari 52 orang peserta yang turut serta 44,2% berasal dari utusan Aisyiyah dan 55,8% dari utusan warga, jenis kelamin didominasi oleh perempuan, yaitu sebesar 82,7%, kelompok umur tidak produktif (di atas 64 tahun) sebanyak 11,5% dan kelompok umur produktif (15-64 tahun) sebanyak 88,5%. Tingkat pendidikan tinggi (SMA ke atas) sebanyak 90,4%. Responden tidak bekerja/IRT sebanyak 69,2% dan yang bekerja sebanyak 30,8%. Nilai rata-rata pengetahuan peserta pada pre test adalah sebesar 12,19 dan pada post test sebesar 12,75. Hal tersebut menunjukkan peningkatan pengetahuan pengolahan sampah organik dengan menggunakan maggot BSF sebelum dan setelah diberikan pelatihan dengan kenaikan sebesar 0,56. Peserta kegiatan menunjukkan respon positif dan antusias sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik.