This Author published in this journals
All Journal Inovisi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

USULAN PERBAIKAN KUALITAS UNTUK MENGURANGI DEFECT PRODUK SODIUM LAURYL SULFATE (SLS) MENGGUNAKAN METODE STATISTICAL PROCESS CONTROL (SPC) DAN METODE FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) Di PT XYZ Busman, Adhitya Persada
Jurnal Inovisi (Teknik Industri) Vol 19, No 1 (2025): Jurnal Inovisi Teknik Industri
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada rasio produk Sodium Lauryl Sulfate (SLS) yang mengalami reject terhadap total keseluruhan produksi di PT XYZ yang masih melebihi target yakni 2,13% dibandingkan target perusahaan 2,00%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengatasi penyebab utama cacat yang paling sering ditemui selama proses produksi. Berdasarkan data yang diperoleh diketahui 8 jenis reject yakni yakni Defect pH low, pH High, Water Content, Big Diameter, Small Diameter, Many Dust, Unsulfated Matter dan Packaging. Berdasarkan analisis Pareto diketahui reject paling banyak terjadi yakni reject “Many Dust” dengan porsi 48% dari total keseluruhan reject. Banyaknya faktor penyebab pada Fishbone Diagram, diperlukan pembatasan pembahasan pada faktor yang paling dominan menggunakan penilaian bobot CTQ . Diketahui bahwa dari delapan faktor penyebab cacat Many Dust yang ditemukan di diagram Fishbone, dipilih tiga faktor dengan nilai bobot Critical to Quality (CTQ) tertinggi yakni 1) Suhu HSM yang tidak stabil dan tidak sesuai Setting Value (SV) akibat belum adanya prosedur pembersihan pada fasilitas HW Line. 2) Daya hisap Blower bawah pada proses Cooling yang rendah karena bak penampungan yang penuh 3) Vibrator Screen yang tersumbat. Analisis Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) menunjukkan bahwa ketidakstabilan suhu HSM memiliki Risk Priority Number (RPN) tertinggi sebesar 180, disebabkan oleh tersumbatnya jalur Hot Water (HW). Sebagai solusi, diusulkan prosedur pembersihan kimia (chemical cleaning) untuk membersihkan jalur HW, yang diadaptasi dari sister company di Thailand. Prosedur ini meliputi tahap flushing, sirkulasi larutan alkali dan asam, serta flushing akhir untuk memastikan tidak ada residu kimia yang tersisa, sehingga diharapkan dapat mengurangi persentase produk cacat dan meningkatkan stabilitas proses produksi SLS di PT XYZ.