Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam pembelajaran seni tari di Sanggar Tari Baratha Kudus. Di tengah tantangan globalisasi dan risiko "amnesia budaya," sanggar ini berupaya mencetak penari yang tidak hanya mahir secara teknis melalui konsep Wiraga, Wirama, dan Wirasa, tetapi juga memiliki karakter yang matang dan siap pentas (performance-ready). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, kuesioner, dan studi dokumentasi terhadap 30 peserta didik dan staf pengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pendekatan holistik didukung oleh tiga pilar utama: (1) Diferensiasi struktural melalui metode Play-Based Learning untuk kelas usia dini dan eksplorasi koreografi untuk kelas lanjutan; (2) Evaluasi komprehensif yang memanfaatkan media digital untuk refleksi mandiri; dan (3) Lingkungan belajar suportif yang demokratis dan non-intimidatif. Data empiris menunjukkan peningkatan koordinasi motorik sebesar 78% pada kelas usia dini dan tingkat kehadiran siswa di atas 90%. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa model pendidikan seni non-formal yang holistik mampu meningkatkan kreativitas dan resiliensi afektif siswa, sehingga layak direplikasi sebagai upaya pelestarian budaya nasional.