Kusumawikan, James William
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Clash of Liberties: Religious Freedom, Human Rights, and the Ascendance of Christian Nationalism in the United States Kusumawikan, James William
Global Strategis Vol. 19 No. 1 (2025): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.19.1.2025.21-44

Abstract

The guarantee of religious freedom enshrined in the United States Constitution, intended to protect the diverse religious beliefs of its citizens, has inadvertently spawned unforeseen consequences. This article examines how the noble principle of religious freedom has intersected with the rise of Christian nationalism, posing a significant threat to democracy and human rights within the nation. Despite the Constitution's emphasis on individual liberties, the emergence of Christian nationalism has fueled a divisive narrative that privileges certain religious identities over others, thereby undermining the foundational principles of equality and pluralism. Through an analysis of historical contexts, legal frameworks, and contemporary socio-political dynamics, this article explores the complex interplay between religious freedom, human rights, and the encroachment of Christian nationalism on democratic norms. It sheds light on the challenges posed by this paradoxical situation and underscores the urgent need for safeguarding both religious freedom and human rights within the United States' democratic framework. Keywords: Religious freedom, US Constitution, Christian nationalism, Democracy, Human rights, Pluralism, Socio-political dynamics. Jaminan kebebasan beragama yang diabadikan dalam Konstitusi Amerika Serikat, yang dimaksudkan untuk melindungi beragam keyakinan agama warga negaranya, telah secara tidak sengaja menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga. Artikel ini mengkaji bagaimana prinsip mulia kebebasan beragama telah bersinggungan dengan kebangkitan nasionalisme Kristen, yang menimbulkan ancaman signifikan terhadap demokrasi dan hak asasi manusia di dalam negara tersebut. Meskipun Konstitusi menekankan kebebasan individu, kemunculan nasionalisme Kristen telah memicu narasi yang memprivilesekan identitas agama tertentu di atas yang lain, sehingga merongrong prinsip-prinsip dasar kesetaraan dan pluralisme. Melalui analisis konteks historis, kerangka hukum, dan dinamika sosial-politik kontemporer, artikel ini mengeksplorasi interaksi kompleks antara kebebasan beragama, hak asasi manusia, dan merambahnya nasionalisme Kristen pada norma-norma demokrasi. Artikel ini mengeksplorasi tantangan yang ditimbulkan oleh situasi paradoksal yang ditimbulkan dan menekankan perlunya upaya yang mendesak untuk melindungi baik kebebasan beragama maupun hak asasi manusia dalam kerangka demokrasi Amerika Serikat. Kata-kata Kunci: Kebebasan beragama, Konstitusi AS, Nasionalisme Kristen, Demokrasi, Hak asasi manusia, Pluralisme, Dinamika sosial-politik.
Warisan Budaya Pemikat Dunia: Revitalisasi Kota Lama Semarang dalam Paradiplomasi Global Kusumawikan, James William; Siregar, Ramsan
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024): JHII Juli 2024
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v6i1.56

Abstract

Abstrak Revitalisasi Kota Lama Semarang merupakan upaya penting dalam melestarikan warisan budaya Indonesia sekaligus meningkatkan diplomasi budaya di kancah internasional. Kawasan ini tidak hanya dipulihkan untuk mempertahankan identitas sejarahnya, tetapi juga diposisikan sebagai alat untuk memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dengan negara lain melalui pendekatan paradiplomasi. Penelitian ini membahas bagaimana revitalisasi Kota Lama berfungsi sebagai bagian dari soft power, di mana budaya digunakan sebagai sarana untuk memperkenalkan identitas Indonesia ke dunia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur kualitatif dengan menelaah berbagai sumber terkait pelestarian budaya dan diplomasi. Hasilnya menunjukkan bahwa kolaborasi internasional, pemanfaatan teknologi digital, dan keterlibatan masyarakat lokal menjadi langkah penting dalam mempertahankan keberlanjutan dan memperkuat daya tarik Kota Lama di tingkat global. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan revitalisasi terletak pada sinergi antara pelestarian budaya dan modernisasi, yang menjadikan Kota Lama sebagai ikon budaya dan bagian dari diplomasi lunak Indonesia. Kata Kunci: Revitalisasi, Paradiplomasi, Soft power, Identitas, Globalisasi, Kota Lama Semarang, Pelestarian Abstract The revitalization of Semarang Old Town is a crucial initiative aimed at preserving Indonesia’s cultural heritage while enhancing its cultural diplomacy on the international stage. This site is not only restored to retain its historical identity but is also positioned as a tool for strengthening Indonesia’s diplomatic ties with other countries through paradiplomacy. This study examines how the revitalization of Semarang Old Town functions as a component of soft power, where culture is utilized as a medium for introducing Indonesia's identity globally. The research method used is a qualitative literature review, analyzing various sources related to cultural preservation and diplomacy. The findings indicate that international collaboration, the use of digital technology, and local community involvement are essential steps in maintaining sustainability and enhancing the appeal of Semarang Old Town globally. The study concludes that the success of revitalization lies in balancing cultural preservation with modernization, establishing Semarang Old Town as a cultural icon and part of Indonesia's soft diplomacy. Keywords: Revitalization, Paradiplomacy, Soft power, Identity, Globalization, Semarang Old Town, Preservation