Abstract This reseach will explain the crossing of Arab and Javanese cultures that occurred in the Alawiyyin ethnic Basyaiban family which has a long history, a unique process that is different from other Alawiyyan people, as well as a strong influence on the culture that developed in Magelang. This article attempts to explain the process of cultural mixing that occurred in the Basyaiban family in Magelang from Hadramaut to Magelang. The researcher uses the historical method which consists of four stages, namely: heuristic, verification, interpretation and historiography. The concepts used in this study are the genealogical concepts and theory from Hall, namely: Representation and Cultural Identity in compiling this paper. The findings from this study indicate that, first: the Basyaiban family in the process of cross-culturalism was strongly influenced by the Javanese sultanates, namely the Cirebon Sultanate and the Ngayogyakarta Sultanate. Second: By mixing Arabic and Javanese culture, the Basyaiban family gained its existence in the social elite for 126 years. Third: The Basyaiban family succeeded in bringing out its hybrid identity in many aspects such as marriage, religion, education, food and housing. Keywords: Arab Javanese, Alawiyyin, Basyaiban, Magelang Abstrak Penelitian ini bertujuan mengungkap persilangan budaya Arab dan Jawa yang terjadi pada etnik Alawiyyin keluarga Basyaiban. Mereka mempunyai sejarah panjang dan proses yang unik dalam akulturasi yang berbeda dengan kaum Alawiyyan lainnya, serta pengaruh yang kuat dalam budaya yang berkembang di Magelang. Artikel ini berusaha menjelaskan proses dari percampuran budaya yang terjadi di keluarga Basyaiban Magelang semenjak dari Hadramaut hingga Magelang. Peneliti menggunakan metode historis yang terdiri dari empat tahapan, yaitu: heuristic, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Adapun konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep genealogi dan teori dari Hall, yaitu: Representasi dan Cultural Identity dalam menyusun tulisan ini. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama: keluarga Basyaiban dalam proses persilangan budayanya sangat dipengaruhi oleh kesultanan Jawa yaitu Kasultanan Cirebon dan Kasultanan Ngayogyakarta. Kedua: Dengan mencampurkan budaya Arab dan Jawa Keluarga Basyaiban mendapatkan eksistensinya di elite sosial selama 126 tahun Ketiga: Keluarga Basyaiban berhasil memunculkan identitas hybridnya dalam banyak aspek seperti pernikahan, keagamaan, pendidikan, makanan dan tempat tinggal. Kata Kunci: Arab Jawa, Alawiyyin, Basyaiban, Magelang