Dani Firmanto Simanjuntak
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EKLESIOLOGI DIGITAL DI ERA PANDEMI DAN PASCA PANDEMI COVID-19 Dani Firmanto Simanjuntak
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.54 KB)

Abstract

AbstractDigital Ecclesiology is a concept that the author may offer to us (the church) as an effort to build a church that always exists, is strong and adaptive in the era of the pandemic and post-covid-19 pandemic. Our fellowship as a community of believers who come together (face to face) turns into a virtual community. Through digital technology, virtual space is an opportunity to meet other believers, as well as being interpreted as a space for spiritual encounters. In the historical series of ecclesiology in the Old Testament, New Testament, after the Reformation Period and until now, it is a sign for us that the church is constantly adapting to new cultures and phenomena. This Digital Ecclesiology means churches and ministries must move towards a more confident Digital Church than ever before. Churches globally must adapt quickly and innovatively to the challenges presented by the Covid-19 pandemic. Abstrak Eklesiologi Digital merupakan konsep yang boleh ditawarkan penulis bagi kita (gereja) sebagai upaya membangun gereja yang senantiasa eksis, kuat dan adaptif di era pandemi dan pasca pandemi covid-19. Persekutuan kita sebagai komunitas orang percaya yang berkumpul bersama (tatap muka) berubah menjadi komunitas virtual. Melalui teknologi digital, ruang virtual menjadi kesempatan bagi berjumpa dengan orang-orang percaya lainnya, sekaligus dapat dimaknai sebagai ruang perjumpaan spiritualitas. Dalam rentetan sejarah eklesiologi dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Masa setelah Reformasi hingga saat ini menjadi pertanda bagi kita bahwa gereja senantiasa beradaptasi dengan budaya dan fenomena baru. Eklesiologi Digital ini berarti gereja dan pelayanan harus menuju ke Gereja Digital yang lebih percaya diri daripada sebelumnya. Gereja secara global harus beradaptasi dengan cepat dan inovatif terhadap tantangan yang dihadirkan oleh pandemi Covid-19.
Anything Goes Ala Paul Feyerabend, Pendidikan Finlandia Sampai Ke Nadiem Makarim Dani Firmanto Simanjuntak
Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia Vol 4 No 2 (2023): Jurnal Pendidikan Kristen dan Ilmu Teologi Marturia
Publisher : Marturia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract I, as a [college] student of Indonesian standard education products, have experienced a barren of knowledge because of the ‘doctrine’ system in accordance with the prevailing interests in the Indonesian education system. Learning from the principle of anything goes, Feyerabend disassembles all projections of the unity of science and theory in the division of reality into an open space for other studies or theories. Freedom is the right word to express and actualize human beings themselves with others. The education system, which consists of scientific content, is an effort to liberate humans but is trapped in a system that enslaves them. Students no longer learn ‘for’, but learn ‘from’ which restrains them as humans playing (homo ludens) and learning. I compare Finnish education with Indonesian education, as an effort called Nadiem Makarim, simultaneous and moving changes. Abstrak Saya sebagai [maha] siswa produk pendidikan baku Indonesia selama ini mengalami kemandulan ilmu pengetahuan karena sistem ‘doktrin’ sesuai dengan kepentingan yang berlaku di dalam sistem pendidikan Indonesia. Belajar dari prinsip anything goes, Feyerabend membongkar semua proyeksi kesatuan ilmu dan teori di dalam kepelbagian realitas menjadi ruang terbuka untuk kajian-kajian atau teori yang lainnya. Kebebasan adalah kata yang tepat untuk mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri manusia itu sendiri dengan yang lain. Sistem Pendidikan yang di dalamnya terdiri muatan ilmu pengetahuan adalah upaya membebaskan manusia, tetapi terjebak dalam sistem yang memperbudak. Siswa tidak lagi belajar ‘untuk’, tetapi belajar ‘dari’ yang mengekang dirinya sebagai manusia bermain (homo ludens) dan belajar. Saya membandingkan pendidikan Finlandia dengan Pendidikan Indonesia, sebagai upaya yang disebut Nadiem Makarim, perubahan yang serentak dan bergerak.