Ainul Hamdiyah
Universitas Negeri Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Children struggle towards discrimination in A Little Princess by Frances Hodgson Burnett Ainul Hamdiyah; Rini Susanti Wulandari
Rainbow: Journal of Literature, Linguistics and Culture Studies Vol. 14 (2025): Special Issue
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/rainbow.v14i.29561

Abstract

This study examines children's struggles in facing discrimination as depicted in A Little Princess by Frances Hodgson Burnett using the psychological Self-Determination Theory (SDT) approach by Ryan and Deci, which focuses on the fulfilment of basic psychological needs: autonomy, competence, and relatedness. In addition, Erikson's psychosocial development theory, particularly the stage of ‘industry versus inferiority,’ relates to the development of school-age children. Through this approach, the study should be able to deeply reveal the psychological and social processes through which Sara resists injustice within a social context. This study uses the qualitative descriptive method with a literary content analysis approach to explore Sara Crewe's struggle against discrimination. The results show that the novel uncovers the complex mechanisms behind Sara's independence, offering valuable lessons for educators, parents, and mental health practitioners in fostering children's resilience amid adversity.         
Diseminasi Komunitas Angklung Desa Duren Melalui Program Eksistensi Pagelaran Seni Kontemporer Ainul Hamdiyah; Ruly Indra Darmawan; Muhammad Raihan Adi Madana
Jurnal Abdimas Vol. 28 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ehaat762

Abstract

Desa Duren merupakan salah satu desa binaan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang yang terletak di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Desa Duren memiliki 18 kelompok ataupun komunitas yang bergelut dibidang seni dan budaya. Salah satu komunitas seni yang memiliki potensi pengembangan ialah komunitas kesenian angklung. Komunitas kesenian angklung dinilai masih baru jika dibandingkan dengan kesenian lain yang ada di Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Hal ini menyebabkan kurangnya atensi masyarakat terhadapnya. Komunitas kesenian angklung sendiri masih memerlukan banyak transformasi. Meskipun potensi masyarakat pada bidang kesenian khususnya Seni Pertunjukan sangatlah besar. Dibuktikan dengan kerap adanya acara rutinan tiap dusun di Desa Duren. Namun, komunitas angklung yang beranggotakan 15 orang tersebut terancam tidak dapat berkegiatan secara berkala. Dikarenakan alat penunjang latihan dan fasillitas untuk berlatih sangatlah kurang memadai dan tidak sesuai prosedur. Oleh karenanya, tim kami berencana untuk ikut serta dalam pengembangan komunitas baru tersebut. Mulai dari memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai kesenian angklung dengan cara membuat pertunjukan kecil di desa dengan alat musik yang tersedia. Lalu setelahnya diharapkan masyarakat tertarik untuk mempelajari alat musik angklung sehingga sumber daya komunitas semakin mumpuni. Rencana kami mengenai dana yang dihibahkan nantinya dapat memberikan beberapa alat musik guna menunjang kegiatan komunitas. Jika alat dan sarana sudah terpenuhi, maka tidak ada hambatan lagi untuk tidak berlatih bermain angklung. Setelah anggota komunitas berlatih beberapa bulan, maka akan ditampilkan pada panggung konser kolaborasi kesenian angklung.