Makam seringkali menjadi destinasi wisata religi karena dianggap sebagai tempat sakral yang memiliki makna spiritual bagi para pengunjung. Orang-orang sering mengunjungi makam untuk berdoa, mengenang tokoh-tokoh agama atau tokoh-tokoh terkenal yang dimakamkan di sana, serta mencari kedamaian dan ketenangan spiritual, dan Pulau Kalimantan adalah salah satu pulau di Indonesia yang memiliki potensi wisata religi ini. Untuk itu pengelolaan atau manajemennya menjadi sesuatu yang menarik dibahas. Guna mengkaji hal ini, digunakan metode penelitian studi literatur dengan objek penelitian, yaitu tiga kajian empiris yang membahas manajemen wisata religi Makam Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri di Kalimantan Barat, manajemen wisata religi Makam Tunggang Parangan di Kalimantan Timur, dan manajemen wisata religi Makam Datu Bagul Martapura di Kalimantan Selatan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa 1) beberapa makam yang ada di Pulau Kalimantan telah berupaya menerapkan prinsip-prinsip manajemen – perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan makam sebagai destinasi wisata religi; 2) manajemen wisata religi beberapa makam yang ada di Pulau Kalimantan berbeda antara makam yang satu dengan lainnya, sesuai dengan situasi dan kondisi makam masing-masing; dan 3) ada baiknya jika pengelolaan makam sebagai destinasi wisata religi memiliki standar baku dalam manajemennya karena hal ini akan berdampak positif bagi pengelola, pengunjung, dan juga masyarakat sekitar