Ahmad Mujahid
Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Resepsi Estetis Terhadap Seni Baca Al-Qur’an di Majelis Tilawah Al-Qur’an Ummul Qura Sungai Lulut Kabupaten Banjar Najib Irsyadi; Warliza Warliza; Ahmad Mujahid
Al Washliyah : Jurnal Penelitian Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Washiliyah Barabai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70943/jsh.v2i2.67

Abstract

In the lives of Muslims, there are many practices of reception of the Al-Qur'an, both in the form of reading, understanding, practicing it and in the form of socio-cultural reception. In South Kalimantan, many people are found who receive, respond to or treat the Al-Qur'an by reading it and singing it or what is usually called the art of reading the Al-Qur'an. This is proven by the productivity of South Kalimantan in producing national and international qari'ah. This research aims to examine further the aesthetic reception of the art of reading the Qur'an and the process of training in the art of reading the Qur'an by taking place, namely the Ummul Qura Al-Qur'an Recitation Council which is in Sungai Lulut, Sungai Tabuk District, Regency. Banjar is a place to learn the art of reading the Koran, especially vocals and songs, which has produced many national and international reciters. This type of research is field research using descriptive qualitative methods. Data collection techniques were carried out using observation, interviews and documentation. The results of the research found that all the reciters in the Al-Qur'an Recitation Council Ummul Qura received the Al-Qur'an by reading it with songs. Departing from this aesthetic reception produces very diverse effects. This is because the aesthetic reception of the Al-Qur'an has a psychological interest that can invite reactions to awaken the reader's mental energy. The authors grouped the effects they felt into four aspects, namely emotional and spiritual aspects, functional aspects, beneficial aspects and habitual aspects. In this research the author discovered something unique, namely that the aesthetic reception of the art of reading the Qur'an can give birth to other reception patterns such as functional reception as actualized by several reciters in the Ummul Qura Al-Qur'an Recitation Council.
Amtsal Ayat-Ayat Infak dan Tafsirnya dalam Kitab Al-Qur’an dan Tafsirnya Kementerian Agama Republik Indonesia Nor Syifa Faiziah; Ahmad Mujahid; Ali Mu'ammar ZA
JIA (Jurnal Ilmu Agama) Vol 24 No 2 (2023): Jurnal Ilmu Agama : Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jia.v24i2.19024

Abstract

Salah satu uslub Al-Qur’an, amtsȃl, memberikan makna yang indah dan menggelitik dengan maksud menggugah jiwa pembacanya dengan menyamakan yang gaib dengan yang terlihat, yang abstrak dengan yang konkrit, atau dengan menarik analogi antara hal-hal yang serupa. Ayat yang berbicara tentang infak merupakan salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang mengandung amtsȃl. Banyak ayat yang memberikan inspirasi dan memberikan contoh betapa beruntungnya mereka yang gemar mengeluarkan harta untuk berinfak, dan betapa malangnya mereka yang tidak ingin melakukan hal tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Kementerian Agama Republik Indonesia menafsirkan ayat-ayat amtsȃl infak dalam sudut pandang kitab Al-Qur’an dan Tafsirnya. Ini adalah bentuk penelitian perpustakaan atau literatur. Metode analisis data penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Untuk sumber primernya, kajian ini mengkaji ayat-ayat infak yang beredaksi amtsȃl dalam perspektif kitab Al-Qur’an dan tafsirnya. Sumber sekunder diambil dari berbagai literatur yang membicarakan mengenai ayat-ayat infak yang beredaksi amtsȃl. Berdasarkan temuan penelitian diketahui bahwa tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia terhadap ayat amtsȃl infak dalam kitab Al-Qur’an dan Tafsirnya menggambarkan seseorang yang menafkahkan hartanya sebagai benih yang menumbuhkan ratusan benih, taman di dataran tinggi yang disiram hujan lebat, taman yang ditiup angin kencang berisi api, batu halus yang disiram hujan deras, dan anjuran bersikap pertengahan, tidak boros dan tidak pula kikir.