AYU MY LESTARI SARAGIH
Universitas Bhakti Asih Tangerang

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENINGKATAN KOMPETENSI PERAWAT TERHADAP BUDAYA KESELAMATAN PASIEN MELALUI SEMINAR BERBASIS KASUS DI RS MEDIKA LESTARI Fitri Annisa; Merri Silaban; Tiffatul Jannah Firdausya; Ayu My Lestari Saragih; Asha Grace Sicilia
Community Service Articles Vol.2 No.2 (Nov 2025)
Publisher : Universitas Bhakti Asih Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65344/comers.v2i2.135

Abstract

Budaya keselamatan pasien merupakan elemen penting dalam sistem pelayanan kesehatan yang berfokus pada pencegahan insiden dan peningkatan mutu pelayanan. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang berada di garis depan memiliki peran strategis dalam menerapkan prinsip keselamatan pasien. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi perawat dalam memahami dan menerapkan budaya keselamatan pasien melalui pelatihan berbentuk seminar. Kegiatan dilaksanakan di RS Medika Lestari, Ciledug–Tangerang, dengan jumlah peserta sebanyak 11 perawat dari berbagai unit pelayanan seperti IGD, ICU, poliklinik, dan ruang rawat inap. Metode pelaksanaan terdiri dari lima tahapan, yaitu identifikasi masalah, persiapan kegiatan, penyusunan materi, pelaksanaan seminar, serta evaluasi. Materi yang diberikan mencakup konsep dasar budaya keselamatan pasien, prosedur identifikasi pasien, komunikasi SBAR, serta pengenalan obat-obatan berisiko tinggi (LASA). Proses seminar dilengkapi dengan diskusi interaktif, demonstrasi, studi kasus, dan evaluasi pre-test dan post-test guna mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapatkan respon positif dari peserta. Skor rata-rata pre-test sebesar 76 meningkat menjadi 90 pada post-test, menandakan peningkatan pemahaman dan kompetensi yang signifikan. Peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi dan keterlibatan aktif selama proses pelatihan berlangsung. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pendidikan dan pelatihan keselamatan pasien dapat meningkatkan kesadaran dan keterampilan perawat dalam mencegah kejadian yang tidak diinginkan. Kegiatan ini merekomendasikan pelatihan berkelanjutan dan dukungan dari manajemen rumah sakit agar budaya keselamatan menjadi bagian integral dalam praktik keperawatan sehari-hari untuk meningkatkan mutu dan keamanan layanan kesehatan.
APLIKASI YOGA KEPADA PASIEN HIV/AIDS YANG MENGALAMI INSOMNIA : LITERATURE REVIEW EKBERTH MANDAKU; AYU MY LESTARI SARAGIH; ASHA GRACE SICILIA
Medical Nurse Journal Vol.1 No.1 (2024 Jun)
Publisher : Universitas Bhakti Asih Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65344/menu.v1i1.22

Abstract

Human immunodeficiency virus (HIV) adalah infeksi yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, terdapat kurang lebih 39.900.000 orang yang hidup dengan HIV di tahun 2024. Yang baru terinfeksi ditahun 2021 berjumlah 1.500.000 orang, dan jumlah yang meninggal karena HIV di tahun 2021 berjumlah 650.000 orang. Penderita HIV Indonesia berjumlah 50.282 sampai di tahun 2019, Besarnya angka ODHA yang mengalami insomnia tetapi hanya sekitar 11,19% yang mengkonsumsi obat tidur (Huang et al., 2017, Latif et al., 2014, Jean-Louis et al., 2012, & CDC, 2022). gangguan tidur dapat memperburuk komplikasi umum terkait HIV seperti gangguan kognitif, neuropati perifer yang menyakitkan, dan kelelahan kronis. Yoga dapat membantu dalam pengelolaan insomnia dan gangguan terkait tidur lainnya bersamaan dengan farmakoterapi dan intervensi psikologis.
TINJAUAN SISTEMATIS: FAKTOR-FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP PELAKSANAAN PERAWATAN PALIATIF OLEH PERAWAT DI LINGKUP RUMAH SAKIT ASHA GRACE SICILIA; AYU MY LESTARI SARAGIH; EKBERTH MANDAKU
Medical Nurse Journal Vol.1 No.1 (2024 Jun)
Publisher : Universitas Bhakti Asih Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65344/menu.v1i1.25

Abstract

Perawatan paliatif (Palliative care) merupakan pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini, penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual. Jumlah kebutuhan akan pelayanan paliatif terus meningkat tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan pengetahuan dan sikap perawat. Pengetahuan perawat yang terbatas tentang perawatan paliatif menjadi hambatan paling sering dilaporkan dalam pemberian perawatan paliatif. Selain itu, penelitian bagaimana praktik perawatan paliatif itu dilakukan oleh perawat masih jarang diteliti. Tujuan dari sistematik ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor terkait pelaksanaan perawatan paliatif yang dilakukan oleh perawat dan mengidentifikasi kesenjangan literatur. Strategi pencarian dilakukan pada database PUBMED, CINAHL, dan Google Scholar, kemudian strategi pencarian lainnya dilakukan secara manual (handsearch) pada database lain yaitu Journal of Palliative Care. Studi yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris dan tahun 2009-2019 dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam tinjauan ini. Terdapat 9 studi yang masuk kedalam kriteria inklusi kami. Hasil dari tinjauan sistematis ini mengungkapkan faktor-faktor yang terkait dengan perawatan paliatif yang dilakukan oleh perawat adalah pengetahuan, sikap, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, pengalaman sebelumnya dalam merawat pasien terminal, area klinis, usia, pelatihan perawatan paliatif, institusi rumah sakit. Perlu eksplorasi lebih lanjut terkait faktor-faktor tersebut guna mendukung peningkatan implementasi perawatan paliatif, khususnya oleh perawat.  
SUPERVISI KEPALA RUANGAN DALAM PENERAPAN KOMUNIKASI SBAR (SITUATION, BACKGROUND, ASSESMENT, RECOMMENDATION) SAAT HANDOVER: LITERATURE REVIEW AYU MY LESTARI SARAGIH; ASHA GRACE SICILIA; EKBERTH MANDAKU
Medical Nurse Journal Vol.1 No.1 (2024 Jun)
Publisher : Universitas Bhakti Asih Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65344/menu.v1i1.27

Abstract

Keterampilan komunikasi yang efektif dari perawat sangat penting untuk memastikan keselamatan pasien dan kualitas perawatan dan komunikasi dalam keperawatan saat melakukan handover. Supervisi yang dilakukan kepala ruangan terhadap perawat yang sedang melakukan handover antar shift akan dapat mengoptimalkan asuhan keperawatan yang diberikan. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh supervisi dengan mengembangkan pembuatan tools monitoring dan evaluasi sebagai alat yang bertujuan untuk memudahkan kepala ruangan melakukan evaluasi selanjutnya untuk memperbaiki mutu pelayanan dalam memberikan asuhan keperawatan.  Metode yang digunakan adalah literatur review yang dilakukan dengan menganalisa artikel yang terkait. Pencarian artikel dengan menggunakan database online yaitu google scholar, Science direct, Mendeley, kata kunci handover or SBAR or komunikasi efektif SBAR or patient safety rentang waktu 2017-2021. Hasil telaah ditemukan dengan menggunakan model handover SBAR dan supervisi kepala ruang dapat meningkatkan kualitas komunikasi antar perawat yang berdampak terhadap meningkatkan keselamatan pasien. Kesimpulan Model handover dengan metode SBAR dapat meningkatkan kualitas komunikasi antar perawat yang berdampak terhadap meningkatkan keselamatan pasien, dan agar komunikasi SBAR menjadi efektif pada saat handover, kepala ruangan wajib melakukan supervisi sehingga komunikasi efektif ini menjadi budaya dalam keselamatan pasien.
Hubungan Peran Pengawas Minum Obat (PMO) dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tb Paru di RS. ML Ciledug AYU MY LESTARI SARAGIH; EKA INDRIYANI; RIZKI HALLIFAH ASHRI; ADIN SYAEFUDIN
Medical Nurse Journal Vol.1 No.2 (2024 Des)
Publisher : Universitas Bhakti Asih Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65344/menu.v1i2.81

Abstract

Penyakit Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit kronis menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia, Tuberkulosis paru masih menjadi masalah utama kesehatan di masyarakat dengan angka kematian yang tinggi. Cakupan pengobatan penderita TB Paru belum mencapai seratus persen bahkan ditemukan penderita yang drop out dikarenakan tidak patuh berobat sehingga mengalami resistensi dan risiko kekambuhan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan pasien TB paru adalah PMO yang berperan aktif menjalankan tugasnya. Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kesehatan mencatat pada 2020, ditemukan sebanyak 3.908 kasus Tuberkulosis (TBC) dan 78 diantaranya atau 2,2% meninggal. Sedangkan pada 2021 ditemukan sebanyak 4.414 kasus TBC dan 35 diantaranya atau 0,8% meninggal. Jika dibandingkan dengan Covid-19, tingkat kematian penyakit TBC dinyatakan hampir sama. Sedangkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang menyebutkan jumlah kasus tuberkulosis atau TBC di wilayahnya mengalami peningkatan. Angkanya, hingga mencapai 9.000 kasus dengan penderita yang terserang adalah usia produktif, yaitu usia 18 sampai 45 tahun (Dinkes. 2022). Prevalensi Kasus TB PARU diRS, Medika Lestari Ciledug Tangerang pada tahun 2023 meningkat 60% dari tahun 2022 dengan jumlah kasus 275 kasus setiap bulannya. Tuberkulosis (TBC) membutuhkan pengobatan jangka panjang, yang sering kali menyebabkan kebosanan dan ketidakpatuhan di antara pasien. Program DOTS melibatkan Pengawas Minum Obat (PMO), yang dapat dilakukan oleh anggota keluarga untuk memastikan pasien menjalani regimen pengobatan mereka dengan benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran keluarga sebagai PMO dan kepatuhan minum obat pada pasien TB di Poliklinik Rawat Jalan RS ML Ciledug. Penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 50 pasien TB yang dipilih secara acak pada Oktober hingga November 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas anggota keluarga yang bertindak sebagai PMO memiliki peran yang baik (70%), dan tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat berada pada tingkat sedang (72%). Namun, analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara peran keluarga sebagai PMO dengan kepatuhan minum obat (p > 0,05). Penelitian ini menyarankan pentingnya meningkatkan program dukungan keluarga untuk membantu meningkatkan kepatuhan pengobatan TB.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas  Kehidupan Kerja Perawat: Literature Review Upi Farida; Ayu My Lestari Saragih; Latifah Yuliana
Medical Nurse Journal Vol.2 No.1 (2025 Jun)
Publisher : Universitas Bhakti Asih Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65344/menu.v2i1.108

Abstract

Kualitas kehidupan kerja perawat atau quality of nursing work life (QNWL) adalah konsep yang dapat menggambarkan persepsi perawat dalam pemenuhan kebutuhan kerja melalui pengalaman agar dapat memaksimalkan produktivitas kerja. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas kehidupan kerja perawat agar dapat diperbaiki maupun ditingkatkan. Metode yang digunakan adalah literatur review yang dilakukan dengan menganalisa artikel yang terkait. Pencarian artikel dengan menggunakan database online yaitu EBSCO dan PROQUEST dengan kata kunci Nursing, Quality, Work Life rentang waktu 2015-2019. Hasil telaah ditemukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas kehidupan kerja perawat adalah 1) Penghasilan per bulan; 2) Lingkungan kerja; 3) Komitmen organisasi; 4) Stres kerja; 5) Transformational Leadership; 6) Kekerasan di tempat kerja; 7) Dukungan sosial; 8) Rasa kebersamaan; 9) Pendidikan; 10) unit kerja;  dan 10) Gangguan muskuloskeletal. Berdasarkan hasil tersebut maka sudah seharusnya perawat maupun Rumah Sakit memperhatikan faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas kehidupan kerja perawat agar dalam keadaan tetap baik.