Dian Pitaloka Priasmoro
ITSK RS dr.Soepraoen Malang Kesdam V/Brawijaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LAYANAN 24/7 SEBAGAI STRATEGI PENCEGAHAN SELF-HARM UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PADA REMAJA YANG MENGALAMI DEPRESI: TINJAUAN SISTEMATIK Vania Meysha Belinda Azzahra; Dian Pitaloka Priasmoro; Zelda Amalia; Santa Naftali Tesalonika; Triyas Rachmawati
Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 11 No 1 (2025): Jurnal Penelitian Keperawatan
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32660/jpk.v11i1.823

Abstract

Masa remaja adalah periode transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, di mana terjadi banyak perubahan dalam tubuh, perilaku, dan peran sosial. Jika perubahan ini tidak diiringi dengan kemampuan adaptasi yang baik, remaja bisa mengalami stres, kecemasan, depresi, bahkan berisiko melakukan tindakan melukai diri sendiri atau self-harm. Self-harm adalah perilaku melukai diri sendiri yang dilakukan akibat respon masalah kompleks dan keadaan yang terasa di luar kendali, yang bisa berakibat fatal bagi individu tersebut. Faktor penyebab self-harm yaitu gangguan depresi, gangguan mood, masalah sosial dan kekerasan, pengaruh media sosial, serta kondisi emosional yang intens. Dengan banyaknya kejadian kasus self harm untuk itu muncul inovasi terkait pelayanan pencegahan self harm pada remaja, dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup remaja khususnya di Indonesia. Pada perkembangan IPTEK saat ini inovasi layanan kesehatan berbasis revolusi 4.0 dapat mengupayakan layanan kesehatan pada penderita self-harm. Diantaranya adalah layanan e-health, layanan psikologi online, layanan aplikasi atau kits/kit yang dapat diandalkan. Keempat inovasi ini tergolong dalam inovasi layanan 24/7. Dengan adanya inovasi layanan 24/7 berbasis revolusi 4.0 dapat mencegah terjadinya self-harm dan meningkatkan kualitas hidup remaja indonesia dengan mengembangkan diri dan pola pikiran yang baik.
INSIDEN TOXIC RELATIONSHIP PADA REMAJA JURUSAN KEPERAWATAN Shafa Agista Tiara Auberta; Dian Pitaloka Priasmoro; Musthika Wida Mashita
Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 11 No 1 (2025): Jurnal Penelitian Keperawatan
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32660/jpk.v11i1.824

Abstract

Fenomena toxic relationship atau hubungan beracun banyak terjadi pada remaja di era ini. Toxic relationship merupakan hubungan yang merugikan satu pihak, baik itu dalam hubungan pertemanan, asmara, maupun hubungan dengan keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang gambaran insiden toxic relationship pada remaja di program studi D III keperawatan TK III ITSK RS dr Soepraoen.. Desain penelitian ini merupakan desain penelitian deskriptif. Populasi berjumlah 130 mahasiswa D III Keperawatan TK III ITSK RS Dr. Soepraoen. Sampel berjumlah 130 mahasiswa. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Penelitian ini dilakukan pada 1-5 Juli 2024. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner toxic relationship dan variabel yang diteliti adalah toxic relationship. Analisa data menggunakan analisa data univariat. Hasil penelitian diatas disimpulkan bahwa insiden toxic relationship dengan jumlah 130 responden, menunjukkan sebagian besar mahasiswa tidak toxic relationship sejumlah 91 orang (70%) dan hampir setengah mahasiswa toxic relationship sejumlah 39 orang (30%). Ini terjadi karena masing-masing individu tidak membatasi satu sama lain dalam pertemanan, memberikan kebebasan kepada orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, tidak terbentuk lingkaran pertemanan yang beracun. Dari hasil penelitian dimungkinkan toxic relationship banyak terjadi pada perempuan rentang usia 20-21 tahun yang mempunyai kelompok pertemanan hal ini diharapkan responden lebih baik mempunyai teman sedikit tetapi nyaman atau bahagia daripada mempunyai banyak teman atau kelompok pertemanan tetapi menjadi hubungan yang beracun.