Tujuan: Membuat skor infertilitas berdasarkan faktor risiko, dari keluhan
klinik, sehingga memudahkan sistem rujukan. Penatalaksanaan infertilitas
menjadi lebih efektif dan efisien.
Tempat: --
Bahan dan cara kerja: Rangkuman Kajian Pustaka.
Infertilitas yang mempunyai angka kejadian sekitar 12%, merupakan
masalah yang kompleks. Penatalaksanaannya memerlukan dana yang
banyak, waktu yang lama, pada sisi lain umur, terutama umur isteri, sangat
mempengaruhi kesuburan. Kesuburan isteri mulai menurun pada
umur 30 tahun, menurun tajam setelah umur 35 tahun. Oleh karenanya
bila umur isteri < 30 tahun, diberi skor 1, umur 31 - 35 tahun skor 2,
dan skor 3 untuk umur isteri > 35 tahun. Hinting (2001) pada penelitiannya
mendapatkan hubungan antara lama infertilitas dan angka kehamilan
kumulatif dengan perawatan konvensional. Angka kehamilan kumulatif
menurun bermakna pada lama infertilitas 2 tahun atau lebih. Berdasarkan
hasil ini, maka skor 1 untuk lama infertilitas 1 - 2 tahun, 2 untuk
> 2 tahun, dan 3 untuk lama infertilitas > 3 tahun. Sedangkan dari
faktor infertilitas, faktor yang dominan adalah faktor ovulasi, tuba/peritoneum,
dan faktor sperma. Secara klinis faktor ovulasi dapat diketahui
dari siklus haid. Siklus haid teratur (siklus ovulasi) mempunyai skor 1,
oligomenore atau perdarahan uterus disfungsi skor 2 dan amenore skor
3. Pada faktor tuba/peritoneum, terdapat dua kemungkinan penyebab,
pertama adalah akibat endometriosis, dan kedua karena sisa/cacat akibat
infeksi panggul, terutama penyakit hubungan seksual (PHS), ataupun
pascaoperasi panggul. Secara klinis endometriosis dicurigai bila pada
wanita infertil mengeluh adanya nyeri haid, nyeri panggul, nyeri sanggama
ataupun adanya massa diadneksa. Sedangkan perlekatan pascainfeksi
dapat dicurigai bila ada riwayat infeksi/operasi panggul. Makin
sering terkena infeksi/operasi panggul makin besar kemungkinan adanya
faktor peritoneum. Faktor endometriosis, diberi skor 1 bila tidak ada gejala
klinik, skor 2 bila ada satu macam keluhan nyeri, dan skor 3 bila
ada dua macam keluhan nyeri atau adanya massa adneksa. Kecurigaan
perlekatan pascainfeksi, skor 1 bila tidak ada riwayat infeksi/operasi
panggul, skor 2 bila ada riwayat satu kali, dan skor 3 bila ada riwayat 2
kali atau lebih. Faktor infertilitas terakhir adalah faktor sperma. Normozoospermia,
diberi skor 1. Skor 2 bila ada kelainan salah satu dari densitas
antara 10 - 20 juta/ml, motilitas a + b: 25 - 50%, atau morfologi 5
- 15%. Skor 3 diberikan bila didapatkan salah satu dari, densitas < 10
juta, motilitas a + b < 25%, atau morfologi normal < 5%. Pasangan infertil
dikatakan risiko rendah bila, skor total: < 8, termasuk sedang bila
mempunyai skor total antara 9 - 12 dan berat bila > 12. Apabila salah
satu komponen skor mempunyai skor 3, maka total skor langsung menjadi
> 12. Pasangan dengan risiko rendah dapat ditangani di pusat pelayanan
kesehatan primer, risiko sedang sebaiknya ditangani di pusat
pelayanan kesehatan sekunder, dan tertier untuk yang risiko berat.
Kesimpulan: Skor infertilitas ini cukup sederhana, memudahkan sistem
rujukan bagi semua pihak yang terkait, mulai dari dokter umum sampai
dokter spesialis, ataupun oleh paramedik untuk konseling pada
pasangan.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-1: 49-57]
Kata kunci: skor infertilitas, rujukan infertilitas