Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Relationship between Vitiligo Disease and Quality of Life of Patients at Sanjiwani Gianyar Regional General Hospital Prasanthi Dewi, Ratih; Puspasari, Ni Made Indah; Sumadewi, Komang Trisna
Muhammadiyah Medical Journal Vol. 6 No. 1 (2025): Muhammadiyah Medical Journal (MMJ)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mmj.6.1.31-40

Abstract

Background: Vitiligo is an idiopathic skin disorder of acquired depigmentation that burdens patients’ lives. This disorder often causes problems that can affect the psychological and social well-being of patients and ultimately affect their quality of life. Purposes: This study aims to determine the relationship between vitiligo disease and patients’ quality of life at Sanjiwani Gianyar Hospital. Methods: This type of research is analytically observational with a cross-sectional approach. Data were collected by filling out the DLQI questionnaire. All data collected was analyzed using univariate and bivariate analysis. The research results are declared significant if the p-value is <0.05 and not significant if the p-value is >0.05. Results: The results showed that most vitiligo patients were in the age range of 30-39 years (30%), female (26%), high school education level (28%), unmarried (38%), self-employed and traders (20%), and generalized vitiligo classification (80%). The PR value of 3.33 (95% CI: 1.614-6.879) indicates vitiligo patients have at least a moderate to considerable influence on their quality of life by three times and at most six times. Based on the results of bivariate statistical tests using chi-square, the p-value = 0.000 (p < 0.05), which means the result is significant. Conclusion: Vitiligo disease is significantly related to patients' quality of life at Sanjiwani Gianyar Regional General Hospital.
Kesenjangan Modalitas Penunjang FNAB Terhadap Biopsi Eksisi pada Kasus Karsinoma Sel Skuamosa dengan Ukuran Tumor yang Besar: Laporan Kasus Amukty, I Nyoman Fidry Octora Young; Puspasari, Ni Made Indah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i5.15858

Abstract

Karsinoma sel skuamosa adalah neoplasma ganas dan kasus kanker kulit tersering nomor dua. kasus ini terus meningkat sebesar 2 – 4% setiap tahunnya. Karsinoma sel skuamosa memiliki predileksi pada daerah yang terpapar matahari dengan gambaran plak berisik merah. Dermatofibroma merupakan tumor jinak yang dapat muncul di seluruh bagian tubuh dengan bagian tersering adalah ektremitas. etiologi dari dermatofibroma masih belum di ketahui tetapi, diduga akibat tusukan ataupun trauma. Laki – laki berusia 71 tahun dengan benjolan di paha kiri yang di curigai dermatofibroma dengan diagnosis banding KSS. pemeriksaan penunjang pre operasi dilakukan FNAB memberikan hasil dermatofibroma dan hasil eksisi post operasi di dapatkan hasil histopatologi dengan KSS. Pengambilan sampel yang sedikit dan area yang tidak tepat terutama pada KSS dengan gambaran histologi poorly differentiated dapat mengacaukan hasil patologi anatomi. Eksisi lebih disarankan karena diperlukan sampel yang luas. Pemeriksaan FNAB tidak anjurkan untuk menegakkan diagnosis tumor kulit berukuran besar baik yang pada area yang terpapar sinar matahari maupun tidak, karena dapat mengacaukan hasil pemeriksaan. Biopsi eksisi lebih disarankan untuk sampel yang lebih luas.
Karakteristik Penderita Kusta di Kabupatjen Tabanan Periode Tahun 2016 Sampai dengan Tahun 2021 Amukty, I Nyoman Fidry Octora Young; Mahayani, Ni Putu Aniek; Puspasari, Ni Made Indah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i9.16105

Abstract

Berdasarkan WHO pada tahun 2016 terdapat 200.000 kasus baru. Prevalensi kusta di Indonesia pada tahun 2017 sebesar 0,7 kasus per 10.000 dengan kasus baru sebesar 6,08 per 100.000 dan Bali di tahun yang sama Bali terlapor 70 kasus baru. Kabupaten Tabanan memiliki laporan 2 kasus baru dengan angka temuas sebesar 0.0446 kasus per 100.000 penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penderita kusta dan melibatkan seluruh data sekunder di kabupaten Tabanan. Penelitian ini merupakan studi retrospektif dengan 31 pasien dari seluruh faskes di Tabanan tahun 2016 sampai dengan tahun 2021. Hasil dari studi di dominasi oleh laki – laki (67,74%) dan kelompok usia dewasa awal (35.48%). Tipe kusta yang paling umum adalah tipe multi basiler (MB) (83,87%) dan eritema nodosum leprosum (ENL) sebagai reaksi kusta terbanyak (66,67%). Lama pengobatan pasien dengan kusta di dapatkan pada rentang 6 sampai 12 bulan (59,26%). Kasus kusta di Indonesia di derita terbanyak oleh laki – laki dewasa awal. Tipe kusta terbanyak ada MB dengan reaksi kusta tipe ENL sebagai reaksi tersering. Rata – rata pasien dengan kusta berobat selama 6 sampai 12 bulan.
Karakteristik Penderita Dermatofitosis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Tabanan Periode Tahun 2016-2021 Amukty, I Nyoman Fidry Octora Young; Puspasari, Ni Made Indah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i9.16107

Abstract

Dermatofitosis merupakan penyakit yang di sebabkan oleh kolonisasi jamur dermatofita menyerang jaringan yang mengandung keratin, seperti stratum korneum pada epidermis kulit, rambut dan kuku. Penelitian ini bertujuan untukmendapatkan karakteristik penderita dermatofitosis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Tabanan tahun 2016-2021. Penelitian deskriptif restrospektif ini mengambil sampel secara konsekutif dengan mengevaluasi rekam medis untukmendapatkan karakteristik dermatofitosis berdasarkan umur, jenis kelamin, diagnosis, pengobatan dan lama pengobatan. Laki-laki (61,50%) dan kelompok umur dewasa awal (40,38%) merupakan penderita dermatofitosis terbanyak. Diagnosis tersering adalah Tinea kruris (43,66%). Pengobatan topikal dengan salep mikonazole 2% (42,08%) paling sering digunakan,sedangkan lama pengobatan paling banyak selama 4 minggu (38,97).