p-Index From 2021 - 2026
1.554
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dekonstruksi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Hermeneutika-Personalisasi: Menafsir Jejak Esensi Realitas dalam Struktur Teks Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 11 No. 02 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i02.303

Abstract

Artikel ini menyajikan sebuah kajian tentang hermeneutika dengan menggunakan pendekatan “hermeneutika-personalisasi.” Di dalam pendekatan ini, menafsirkan sebuah teks dinyatakan sebagai mempersonalisasikan jejak esensi realitas yang tersingkap di dalam dan melalui struktur teks. Ini menunjukkan bahwa membaca sebuah teks tidak membawa kepada perjumpaan dengan penulis atau “dunia” yang dibangunnya. Tetapi membawa kepada perjumpaan dengan jejak esensi realitas yang dipersonalisasikan penulis. Alhasil, memahami teks adalah memahami permainan personalisasi dalam hal mewujudkan jejak esensi realitas.
Teori Seni sebagai Medium Pembebasan dalam Pendekatan Personalisasi Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 11 No. 03 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i03.333

Abstract

Artikel ini mendiskusikan seni pada tataran teoretis dengan memberikan penekanan terhadap unsur epistemologinya. Teori yang menjadi perhatian secara khusus adalah teori seni berdasarkan pemikiran Immanuel Kant. Di dalam konteks ini, Kant menilai seni berdasarkan teori praktis yang dibatasi oleh regulasi atau konsep-konsep bawaan pada struktur pemahaman. Sehingga Kant menilai kualitas seni berdasarkan penilaian terhadap keindahan alami yang tidak hanya bersifat estetis tapi juga sublim. Dengan perkataan lain, meskipun seni dibangun berdasarkan hubungan dengan fakta sosial, tapi tetap memiliki potensi untuk menjadi objektif atau universal. Alhasil, seni adalah media atau alat yang merepresentasikan esensi keindahan alami realitas. Di sisi lain, artikel ini memandang seni sebagai medium yang membawa kepada pengalaman personal manusia yang terpapar langsung dengan esensi realitas. Karena artikel ini menunjukkan bahwa manusia memahami realitas dengan cara mempersonalisasikannya ke dalam bentuk karya dan karsa. Sehingga hasil karya dan karsa tidak mencerminkan esensi realitas secara langsung, tapi membawa kepada penyingkapan jejak-jejak keberadaannya yang telah dipersonalisasi. Oleh sebab itu, seni adalah platform bagi perwujudan kebebasan merekayasa esensi realitas ke dalam bentuk perspektif dan tindakan personal.
Komputasional yang Dipersonalisasi sebagai Tinjauan Filosofis terhadap Prinsip Dasar Pengembangan Teknologi Mesin-Pembelajaran Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 11 No. 04 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i04.355

Abstract

Uraian di dalam artikel ini berfokus pada tataran epistemologis dari pengembangan mesin-pembelajaran atau kecerdasan buatan. Uraian dimulai dengan menunjukkan kelemahan mendasar dari prinsip representasionalisme yang selama ini digunakan untuk mengembangkan mesin-pembelajaran. Singkatnya, mesin-pembelajaran yang didesain untuk memahami data atau perintah melalui sistem atau program pelatihan sudah tidak lagi memadai. Karena mesin dibatasi atau terkondisikan oleh program pembelajaran-mesin, sehingga tidak pernah memahami data atau perintah secara mandiri. Berdasarkan kelemahan tersebut, artikel ini mengusung sebuah prinsip yang lebih memadai, yaitu: a-propriasi atau personalisasi. Di bawah prinsip ini, mesin didesain untuk memahami data atau perintah secara langsung. Artinya, mesin didesain dengan algoritma untuk memahami dan menghasilkan data atau perintah yang sama sekali baru. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pemahaman mesin terhadap data atau perintah tidak merepresentasikan program pembelajaran-mesin. Karena mesin didesain untuk memahami data atau perintah secara langsung atau tanpa mediasi dari sistem atau program pelatihan. Dengan istilah lain, mesin didesain dengan kemampuan untuk melakukan personalisasi terhadap data atau perintah yang tersaji secara komputasional. Oleh sebab itu, topik yang dikaji di dalam artikel ini tidak bersifat teknologis. Meski objek kajiannya adalah proyeksi pengembangan teknologi dalam bentuk mesin-pembelajaran. Namun, karena artikel ini mengkaji aspek teoritis yang melibatkan prinsip dasar dari struktur pemahaman manusia, maka topik ini lebih bernuansa filosofis ketimbang teknologis. Sehingga artikel ini tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan mesin-pembelajaran, tapi juga pengembangan diskursus filsafat tentang bagaimana manusia memahami esensi realitas.
Menanti Demokrasi: Sebuah Ingatan Tentang Kedaulatan Individu, Kesetaraan, dan Keadilan Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 10 No. 02 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.2
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i02.233

Abstract

Dalam percakapan apapun mengenai sistem atau tatanan politik, topik demokrasi dan demokratisasi selalu relevan. Sebelum merenungkannya sebagai sebuah tatanan, ada baiknya kita lebih dulu memahaminya sebagai konsep filosofis. Dengan menggunakan pemikiran Derrida sebagai sumber primer, artikel ini mengeksplorasi demokrasi sebagai sebuah konsep filosofis untuk memperoleh pemahaman menyeluruh tentang demokrasi dan perbedaannya dengan demokratisasi. Selain itu, hakikat demokrasi dijelaskan dalam artikel ini melalui lensa hermeneutika. Oleh karena itu, demokrasi, menurut artikel ini, bukanlah sebuah Idea tentang tatanan dunia yang ideal, melainkan sebuah a-propriasi terhadap “dunia” yang akan datang. Demokrasi adalah sebuah keberadaan meski tidak pernah hadir di dunia aktual. Ini adalah sebuah keberadaan yang muncul dalam kesadaran manusia. Maka, demokratisasi merupakan upaya manusia untuk merawat ingatan tentang kedaulatan individu, kesetaraan, dan keadilan. Artikel ini ditujukan bagi mereka yang mempelajari pemikiran Derrida, pengamat dan praktisi politik, serta pecinta kebijaksanaan.
Personalisasi Diri dan Dunia sebagai Jati Diri Manusia: Pengembangan dari Dekonstruksi terhadap Analisis Diri Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.256

Abstract

Artikel ini memberikan sebuah cara pandang baru terhadap realitas diri manusia. Cara pandang ini dihasilkan melalui pengembangan dari dekonstruksi terhadap analisis diri manusia. Analisis terhadap diri dibangun atas pandangan bahwa di dalam diri manusia terdapat pertentangan-pertentangan (resistances). Sedangkan dekonstruksi menunjukkan bahwa pertentangan itu tidak terjadi pada realitas diri manusia, tapi pada penggambarannya di dalam bahasa yang bersifat biner. Alhasil, dekonstruksi terhadap diri manusia hanya menyingkapkan atau membongkar kerangka pertentangan (biner) yang ada di dalam bahasa. Oleh karenanya, artikel ini menyuguhkan sebuah pandangan baru terhadap diri manusia dengan sedikit-banyaknya mengikuti kerangka dekonstruksi.
Personalisasi sebagai Sistem Tata Bahasa, Pengaruh Dekonstruksi Derrida terhadap Strukturalisme Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 10 No. 04 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.4
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i04.271

Abstract

Tata bahasa merupakan sebuah sistem abstrak yang mengatur bentuk narasi lisan dan tulisan. Secara prima facie sering dianggap bahwa tata bahasa berkaitan langsung dengan perwujudan narasi lisan dan tulisan. Padahal, diskursus tentang hal ini tidak menunjukkan kenyataan tersebut. Semisal, di dalam pemikiran Saussure ditemukan bahwa sistem abstrak tata bahasa berbeda dengan sistem yang mengatur perwujudannya di dalam narasi lisan dan tulisan. Di sisi yang lain, Derrida menegaskan bahwa sistem tata bahasa sebagai realitas pada pikiran tidak memiliki kaitan sama sekali dengan sistem bahasa lisan dan tulisan. Berdasarkan kajian terhadap kedua pemikiran tadi, penelitian ini menemukan bahwa sistem tata bahasa merupakan bagian dari mekanisme tubuh-pikiran.
Unveiling the Principle of Personalization in Moral Theories Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 11 No. 01 (2025): Jurnal Dekonstruksi Volume 11.1
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v11i01.297

Abstract

The morality discussed in this paper is presented as part of human personae. It is not a distant notion but a concept embodied within human personae. It is also not a construct of human capability to perceive the essence of reality. Rather, morality is a phenomenon that appears in perception and is personalized into a concept understandable to humans. Therefore, the objective of morality is to comprehend the authenticity of human experiences and integrate it into human personae.
Hakikat Bahasa di dalam Metode Apropriasi menurut Ricoeur dan Pengembangannya di dalam Prinsip Personalisasi Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 12 No. 01 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 01, Tahun 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i01.375

Abstract

Artikel ini memfokuskan uraiannya pada penjelasan tentang hakikat bahasa dari sudut pandang pendekatan personalisasi. Kajian dimulai dengan menunjukkan hakikat bahasa menurut pemikiran Ricoeur yang kemudian dikembangkan berdasarkan keterhubungan bahasa dengan pengalaman personal. Di dalam konteks ini, Ricoeur memandang bahasa sebagai medium yang membawa kepada penyingkapan esensi realitas secara objektif. Sehingga dinyatakan bahwa esensi realitas dapat mewujud melalui perspektif dan tindakan manusia—dan perwujudannya secara objektif dapat ditemukan pada struktur logis tata bahasa tulisan. Sedangkan penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa adalah perwujudan dari pengalaman personal manusia yang terhubung langsung dengan esensi realitas. Kerangka keterhubungan ini dijelaskan dengan menunjukkan kemampuan manusia untuk melakukan personalisasi atau manipulasi terhadap penyingkapan esensi realitas pada kesadaran. Oleh sebab itu, penelitian ini mengungkapkan bahwa esensi realitas tidak hadir secara utuh ke dalam ruang dan waktu, karena telah selalu mengalami personalisasi atau rekayasa. Singkatnya, bahasa tidak dipandang sebagai medium yang membawa kepada penyingkapan esensi realitas, tapi membawa kepada permainan personalisasi terhadap penyingkapan esensi realitas yang muncul di kesadaran.
Apropriasi dan Anarki: Memahami State of Nature sebagai Perang Interpretasi dan Kebutuhan akan Kebenaran Formal Ruhupatty, Chris
Dekonstruksi Vol. 12 No. 02 (2026): Jurnal Dekonstruksi Volume 12, Nomor 02, 2026
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v12i02.400

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menyingkap dinamika transisi kebenaran dari ranah personal menuju ranah institusional dengan menggunakan pendekatan hermeneutika apropriasi. Selama ini, ketegangan dalam state of nature sering kali hanya dipandang sebagai konflik fisik, tetapi artikel ini berargumen bahwa konflik tersebut pada dasarnya adalah sebuah anarki hermeneutika. Dengan mengintegrasikan pemikiran Dilthey, Ricoeur, Searle, Foucault, dan Butler, artikel ini mengajukan teori a-propriasi untuk menjelaskan bagaimana esensi realitas yang muncul dalam kesadaran ditransformasikan menjadi kebenaran formal. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebenaran institusional bukanlah representasi absolut dari realitas, melainkan sebuah kebenaran alternatif yang lahir dari permainan apropriasi yang tidak pernah final. Oleh karena itu, institusi harus senantiasa terbuka terhadap alteritas guna menghindari kekerasan hegemonik. Artikel ini memberikan refleksi bagi situasi politik global bahwa perbedaan pandangan adalah perwujudan kebenaran alternatif yang seharusnya memperkaya, bukan mengancam, kehidupan bersama.