Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI KALIMANTAN SELATAN PADA MASA KESULTANAN PANGERAN SAMUDERA Amelia Bangsa
TARBIYAH DARUSSALAM: JURNAL ILMIAH KEPENDIDIKAN DAN KEAGAMAAN Vol. 9 No. 01 (2025): Tarbiyah Darussalam : Jurnal Ilmiah Kependidikan dan Keagamaan
Publisher : Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58791/tadrs.v9i01.230

Abstract

Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi di Pulau Kalimantan. Provinsi ini juga dikenal sebagai "Negeri Seribu Sungai" karena banyaknya sungai yang mengalir di wilayah tersebut. Masyarakat Kalimantan Selatan dikenal sangat taat pada adat istiadat, khususnya penghormatan yang mendalam kepada ulama. Islam merupakan agama mayoritas di wilayah ini. Namun, hal ini tidak serta merta berarti bahwa Islam merupakan agama pertama yang dianut oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah perkembangan Islam di Kalimantan Selatan, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Pangeran Samudera. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan, yang dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Proses pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan literatur yang terkait dengan masalah penelitian, kemudian dilanjutkan dengan telaah mendalam dan pemeriksaan langsung terhadap berbagai sumber yang menjelaskan topik yang relevan dengan penelitian. Hasil penelitian ini mengungkap Kesultanan Banjar memainkan peran penting dalam Islamisasi di Kalimantan Selatan melalui jalur perdagangan, perkawinan, dan politik. Pangeran Samudera bersekutu dengan Kesultanan Demak untuk merebut kekuasaan, yang menjadikan Islam sebagai agama resmi. Ulama seperti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari turut memperdalam ajaran Islam melalui pendidikan dan penulisan kitab. Islamisasi berdampak pada hukum dan pemerintahan, dibuktikan dengan Undang-Undang Sultan Adam (1835), serta memengaruhi budaya melalui penggunaan tulisan Arab Melayu. Warisan Islam yang ditinggalkan Kesultanan Banjar terus membentuk identitas masyarakat Banjar hingga saat ini.