Malaka dianugerahi sebagai wilayah yang strategis dalam hubungan dagang, bahkan tidak ada wilayah yang lebih cocok dibandingkan wilayah Malaka untuk dijadikan sebagai tempat melakukan transaksi jual beli yang lebih menguntungkan. Berbagai bangsa seperti Arab, Persia, India, China, dan juga wilayah terdekat berbondong-bondong berkunjung ke Malaka untuk melakukan transaksi yang membawa keuntungan. Sukses menjadi emporium besar pada masanya yang membawa Malaka pada ketenaran yang tiada bandingnya. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi emporium Malaka yang ditinjau dari surat kabar ToméPires. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka. Hal ini bertujuan untuk memaparkan kembali kemegahan emporium Malaka yang sempat berkuasa menjadi jalur perdagangan penting yang tidak boleh dilewatkan. Berdasarkan catatan Suma Oriental karya Tomé Pires, penelitian ini membahas bagaimana Malaka berkembang sebagai emporium utama dan perannya dalam perdagangan global sebelum pada akhirnya jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Sejalan dengan hal tersebut, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa letaknya yang strategis, menjadikannya sebagai pusat transaksi komoditas utama seperti rempah-rempah, logam, dan hasil laut. Namun, perubahan besar terjadi ketika Portugis menguasai Malaka, sistem perdagangan mengalami perubahan drastis akibat kebijakan monopoli dan pajak yang tinggi. Akibatnya, banyak pedagang yang memilih untuk beralih ke wilayah lain seperti Aceh dan Banten, lalu kemudian berkembang sebagai pusat perdagangan alternatif.