ABSTRAK Adat merupakan seperangkat aturan atau norma-norma yang dipegang oleh suatu kelompok masyarakat dan menjadi panduan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Suku Dayak yang mendiami daerah Kalimantan adalah termasuk dari salah satu suku yang masih melestarikan tradisi atau adatnya, salah satunya adalah Adat Balala"™. Namun terdapat beberapa orang yang masih melanggar adat tersebut atau ngacabuh lala"™ dan dikenakan sanksi adat yaitu sanksi Siton kumkang.Pelaksanaan sanksi adat ngacabuh lala"™ atau melanggar Adat Balala"™ sudah dilaksanakan secara turun temurun ini mengalami pergeseran dalam alat paraga adat, yang digunakan sekarang sudah tidak lagi sama dengan alat paraga yang digunakan pada zaman dahulu. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apa sanksi adat terhadap pelanggaran adat balala"™ masyarakat adat Dayak Kanayatn di Desa Keranji Mancal Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan penerapan sanksi adat balala"™, untuk menjelaskan akibat hukum, faktor penyebab, serta upaya yang dilakukan fungsionaris adat dalam pelaksanaan penerapan sanksi adat.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Empiris dengan Pendekatan deskriptif yang dimana untuk menggambarkan dan menjelaskan kejadian secara terperinci dan sistematis, data dan sumber data yang digunakan yaitu data kepustakaan (Liberary Research) dan data lapangan (Field Research) dengan cara mengadakan wawancara dan menyebarkan angket pada responden.Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini ialah bahwa bagi masyarakat adat di Desa Keranji Mancal yang melanggar Adat Balala"™ (ngacabuh lala"™) akan dikenakan sanksi adat yaitu sanksi adat siton kumakng. Penerapan sanksi adat ini dapat dilakukan di pangkalatn adat lala"™ (pemangku adat) dengan membayar adat. namun dalam penerapan sanksi siton kumakng tersebut telah terjadi pergeseran alat paraga adat yang disebabkan oleh faktor perubahan zaman dan faktor sulitnya ditemukan alat paraga adat. upaya yang dilakukan fungsionaris adat dalam pelaksanaan penerapan sanksi adat balala"™ ini yaitu menghadiri upacara adat dan tetap melestarikan Adat Balala"™. Adapun saran dari penelitian ini kepada masyarakat adat di Desa Keranji Mancal bisa memahami lebih dalam terkait hukum Adat Balala"™ agar tidak terjadi lagi pelanggaran dan fungsionaris adat harus tetap menegakan sanksi adat kepada pelaku pelanggaran adat dan memberikan pemahaman tentang pelaksanaan sanksi adat dan penggunaan alat paraga adat.Kata kunci: Adat, Balala"™, Sanksi, Siton Kumakng. ABSTRACTCustom is a collection of rules or norms adopted by a community group and becomes a guideline in various aspects of daily life. Yhe Dayak tribe that inhabits the Kalimantan region is one of the tribes that still preserves is traditions of customs, one of whisch is the Balala"™ custom. However, there are some people who still violate the custom or ngacabuh lala"™ and are subject to customary sanctions, namely siton kumakng. The implementation of the customary sanction of ngacabuh lala"™ or the Balala"™ custom has been carried out of generation and has experienced changes in the tradisional paraga tools, which are now used are no langer the same as the paraga tools used in ancient times. The formulation of the problem in this study is what are the customary sanctions for violations of the Balala"™ custom of Dayak Kanayatn indigenous community in Keranji Mancal Village, Sengah Temila District, Lanadak Regency. This study aims to describe the implementation of the Balala"™ customary sanction, to explain the legal consequences, casual factors, and efforts made by customary functionaries in implementing customary sanctions.The method used in this study is an Empirical research method with a descriptive approach which is to describe and explain events in detail and systematically, the data and data sources used are library data (Liberary Research) and field data (Field Research) by conducting interviews and submitting questionnaires to respondents.The results obtained in this study are that for indigenous people in Keranji Mancal Village who violate the Balala' Custom (ngacabuh lala') will be subject to customary sanctions, namely the siton kumakng customary sanctions. The application of this customary sanction can be carried out at the base of the lala' customary (customary leader) by paying customary fees. However, in the application of the siton kumakng sanction, there has been a shift in the customary paraga tools caused by factors of changing times and the difficulty of finding customary paraga tools. The efforts made by customary functionaries in the application of this balala' customary sanction are to attend customary ceremonies and continue to preserve the Balala' Custom. The suggestion from this research to the indigenous people in Keranji Mancal Village is to understand more deeply about the Balala' Customary Law so that violations do not occur again and customary functionaries must continue to enforce customary sanctions against perpetrators of customary violations and provide an understanding of sanctions for implementing customary law and the use of customary paraga tools.Keywords: Custom, Balala', Sanction, Siton Kumakng.