Introduction: Intrauterine fetal demise (IUFD) is fetal death at ≥20 weeks of pregnancy or ≥350 grams birth weight. In 2015, the stillbirth rate was 18.4 per 1,000 live births worldwide, with Indonesia having one of the highest infant mortality rates. Despite the recommendation for antenatal care (ANC) to be performed six times, it is typically only conducted twice in NTT, particularly in Atambua. Limited ANC, low education, and cultural practices such as betel chewing and alcohol intake affect maternal and fetal health.Case Illustration: A 32-year-old multigravida (G7P4A2) woman with IUFD at 33 weeks had only one ANC visit during her first pregnancy. She consumed alcohol three times daily and chewed betel nut four times a day. The patient complained of weakness, sore throat, and mild abdominal pain. Examination revealed an absent fetal heart rate and pale conjunctiva. Lab tests confirmed HSV-1 infection and anemia. She was treated with acyclovir and ferrous sulfate.Conclusion: The lack of ANC increases susceptibility to infections, while other challenges include socio-demographic problems and cultural concerns. Improving ANC for early detection, and education on alcohol and betel chewing are crucial to enhancing maternal and fetal health in high-risk areas.Kematian Janin Intrauterin dengan Tantangan Pelayanan Antenatal, Faktor Sosiodemografis, dan Budaya di Atambua, Nusa Tenggara Timur: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Kematian Janin Dalam Rahim (KJDR) adalah kematian janin pada usia kehamilan ≥20 minggu atau berat lahir ≥350 gram. Pada tahun 2015, angka mortalitas bayi lahir mati secara global adalah 18,4 per 1.000 kelahiran; dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka kematian bayi tertinggi. elayanan antenatal (ANC) direkomendasikan enam kali kunjungan, namun sering terjadi dua kali di NTT, khususnya Atambua. ANC yang terbatas, pendidikan rendah, serta praktik budaya, seperti konsumsi pinang dan alkohol berdampak terhadap kesehatan ibu dan janin.Ilustrasi Kasus: Wanita berusia 32 tahun (G7P4A2) multigravida dengan KJDR pada usia kehamilan 33 minggu, hanya melakukan ANC satu kali selama kehamilan pertama, mengonsumsi alkohol tiga kali sehari, dan buah pinang empat kali sehari. Keluhan pasien lemas, sakit tenggorokan, disertai nyeri perut. Pemeriksaan fisik terdapat konjungtiva pucat, dan tidak ditemukan denyut jantung janin. Tes lab menunjukkan infeksi HSV-1 dan anemia. Pasien diobati dengan asiklovir dan sulfas ferosus.Kesimpulan: Kurangnya ANC mengakibatkan kerentanan terhadap risiko infeksi, sedangkan masalah sosiodemografis dan faktor budaya menjadi tantangan. Upaya meningkatkan ANC dalam deteksi dini disertai edukasi terkait konsumsi alkohol dan pinang merupakan kunci untuk meningkatkan kesehatan ibu dan janin, terutama di daerah berisiko tinggi.Kata kunci: Budaya, Kematian janin dalam rahim, Pelayanan antenatal, Sosiodemografis