Keamanan pangan merupakan aspek krusial dalam pembangunan ekonomi suatu negara, terutama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan bibliometrik untuk menganalisis tren penelitian terkait percepatan kemandirian pangan dari perspektif ekonomi Islam. Data dikumpulkan dari Google Scholar dalam periode 2020-2025 dengan kata kunci kemandirian pangan dan ekonomi kesejahteraan. Analisis dilakukan dengan menghitung jumlah publikasi, sitasi, serta indeks bibliometrik seperti h-index, g-index, dan AW-index untuk memahami dampak dan relevansi akademik dari topik ini. Visualisasi jaringan juga digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara konsep utama dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiayaan Islam memiliki potensi besar dalam mendukung kemandirian pangan melalui instrumen seperti sukuk, zakat, dan wakaf produktif. Distribusi yang dikelola oleh Baitul Maal dapat meningkatkan efisiensi dan pemerataan hasil pertanian, sementara pemberdayaan petani dan adopsi agritech berkontribusi pada peningkatan produktivitas. Sebagai kesimpulan, ekonomi Islam tidak hanya menawarkan solusi keuangan yang lebih inklusif dan berkeadilan, tetapi juga mampu menciptakan sistem pangan yang lebih stabil dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan Islam, dan masyarakat untuk mengoptimalkan potensi ini guna mencapai kemandirian pangan yang lebih kuat di Indonesia. Food security is a crucial aspect of a country's economic development, especially in realizing community welfare. This study uses a bibliometric approach to analyze research trends related to accelerating food self-sufficiency from an Islamic economic perspective. Data were collected from Google Scholar in the period 2020-2025 with the keywords food self-sufficiency and welfare economics. The analysis was carried out by calculating the number of publications, citations, and bibliometric indexes such as h-index, g-index, and AW-index to understand the impact and academic relevance of this topic. Network visualization was also used to identify the relationship between the main concepts in this study. The results of the study indicate that Islamic financing has great potential to support food self-sufficiency through instruments such as sukuk, zakat, and productive waqf. Distribution managed by Baitul Maal can increase the efficiency and equity of agricultural products, while farmer empowerment and agritech adoption contribute to increased productivity. In conclusion, Islamic economics not only offers more inclusive and equitable financial solutions but is also able to create a more stable and sustainable food system. Therefore, synergy is needed between the government, Islamic financial institutions, and the community to optimize this potential in order to achieve stronger food self-sufficiency in Indonesia.