Skripsi ini mengulas tentang konsep Gereja Toraja mengenai Gereja dan Politik dalam perjumpaannya dengan fenomena politik di Toraja Utara. Melalui tulisan ini diharapkan dapat memberi sumbangsih bagi warga gereja, tentang pentingnya memahmi politik sebagai medan pelayanan dalam menghadirkan damai sejahterah dalam kehidupan yang harmonis. Teori klasik Aristoteles, dari kodratnaya, manusia adalah makhluk ber-polis (anthropos physei politikon zoon). Menurut Aristoteles setiap orang adalah politisi. Dalam setiap interaksi politik, setiap orang (warga gereja) memiliki tanggung jawab besar dalam mengusahakan kesejahteraan bersama dalam suatu daerah (bdk. Yer 29:7). Meskipun Politik merupakan arena yang sarat dengan hal-hal yang melawan ketetapan Allah, namun politik harus dilihat sebagai (Theatrum gloriae Dei) pentas kemulian Allah. Kehadiran gereja dalam politik adalah suatu keharusan dimana gereja terus berorientasi pada nilai-nilai keadilan dan kebenaran demi kehidupan yang baik dan tentram. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan library research (penelitian pustaka) dan field research (penelitian lapangan). Adapun instrumen penelitiannya adalah wawancara, kajian pustaka dan peneliti sebagai instrumen kunci. Sumber data penelitian ini adalah hasil wawancara dari majelis dan anggota Jemaat Lempo Batusangbua serta buku-buku, jurnal dan internet yang terkait dengan Gereja dan Politik. Adapun hasilnya adalah Gereja Toraja perlu mengevaluasi pola hubungan gereja dengan pemerintah serta dalam keterpanggilannya gereja mengupayakan pemberdayaan dan pendewasaan politik dengan masif bagi warga Gereja Toraja (Jemaat Lempo Batusangbua) yang terlibat dalam politik praktis baik dalam lembaga legislatif maupun eksekutif yang berlangsung dalam hubungan yang baik dengan Allah Sang Pencipta untuk mewujudkan damai sejahtera Allah bagi semua.