Latar Belakang : Stunting masih menjadi isu krusial di Lombok Utara meskipun prevalensinya berhasil turun dari 33,8% pada 2020 menjadi 13,5% pada Agustus 2024, melampaui target nasional. Namun, upaya eliminasi dan keberlanjutan program tetap menghadapi tantangan besar akibat faktor risiko seperti pernikahan dini, sanitasi buruk, layanan antenatal (ANC) yang kurang optimal, kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil, serta pengaruh mitos dan budaya. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merumuskan strategi komunikasi kesehatan yang humanis dan kontekstual guna lebih mengakselerasi penurunan stunting di KLU. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD) bersama ibu balita, kader, petugas kesehatan, dan tokoh masyarakat, serta observasi partisipatif dan analisis dokumen terkait program stunting di KLU. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil dan Pembahasan : Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan masyarakat tentang stunting meningkat, masih terdapat kesenjangan dengan praktik akibat pengaruh budaya, sosial-ekonomi, dan persepsi terhadap layanan kesehatan. Praktik komunikasi yang ada cenderung bersifat informatif dan belum sepenuhnya mengadopsi pendekatan humanis yang empatik dan partisipatif, serta belum optimal dalam mengintegrasikan konteks budaya lokal secara mendalam. Tantangan utama meliputi mitos yang mengakar, keterbatasan sumber daya, dan kendala koordinasi lintas sektor. Namun, terdapat peluang besar melalui peran aktif Tim Pendamping Keluarga (TPK), Posyandu, komitmen pemerintah daerah, dan potensi pelibatan tokoh lokal yang lebih strategis. Kesimpulan : Strategi komunikasi kesehatan yang humanis, menekankan empati, partisipasi aktif, dan pemberdayaan, serta kontekstual dengan mengadaptasi pesan dan saluran pada kearifan lokal, budaya, dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat KLU, memiliki potensi signifikan untuk mengatasi hambatan yang ada dan mempercepat penurunan stunting secara berkelanjutan. Rekomendasi difokuskan pada penguatan kapasitas komunikator lokal, pengembangan pesan partisipatif, pemanfaatan saluran komunikasi multi kanal yang relevan, dan penguatan kemitraan multisektor.