Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

STRATEGI KOMUNIKASI TRANSFORMATIF UNTUK PENCEGAHAN PERNIKAHAN USIA DINI DI WILAYAH PEDESAAN LOMBOK UTARA Bernardus Herdian Nugroho
Journal Central Publisher Vol 2 No 7 (2024): Jurnal Central
Publisher : Central Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60145/jcp.v2i7.472

Abstract

Latar Belakang : Pernikahan usia dini merupakan isu kompleks yang persisten di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, dengan implikasi serius terhadap hak anak, kesehatan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif strategi komunikasi yang dapat dikembangkan untuk mencegah pernikahan usia dini di kawasan pedesaan Lombok Utara, dengan mempertimbangkan sensitivitas budaya, keterlibatan komunitas, serta keterkaitannya dengan isu stunting dan tradisi lokal seperti nyongkolan dan merariq. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah tinjauan pustaka mendalam terhadap data sekunder, laporan penelitian, artikel jurnal ilmiah, dan berita terkini. Hasil dan Pembahasan : Hasil analisis menunjukkan bahwa pernikahan dini di Lombok Utara dipicu oleh faktor ekonomi, rendahnya pendidikan, norma budaya, dan pola asuh keluarga, serta diperkuat oleh tradisi seperti merariq dan nyongkolan. Dampaknya meliputi masalah kesehatan, stunting, putus sekolah, dan kemiskinan berkelanjutan. Strategi komunikasi yang ada belum efektif mengubah norma secara transformatif, dan masih terdapat kesenjangan dalam literatur mengenai pendekatan komunikasi yang terintegrasi dengan budaya lokal dan evaluasi program yang sistematis. Kesimpulan : Direkomendasikan pengembangan model strategi komunikasi terpadu yang bersifat partisipatif, memberdayakan tokoh agama dan adat sebagai agen perubahan, mengintegrasikan isu stunting dan hak anak dalam narasi yang resonan, serta memanfaatkan kanal komunikasi multipel. Penguatan kapasitas pelaku komunikasi lokal dan sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan dan keberlanjutan upaya pencegahan pernikahan usia dini di Lombok Utara.
STRATEGI KOMUNIKASI KESEHATAN HUMANIS DAN KONTEKSTUAL UNTUK PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING DI KABUPATEN LOMBOK UTARA Bernardus Herdian Nugroho
Journal Central Publisher Vol 2 No 7 (2024): Jurnal Central
Publisher : Central Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60145/jcp.v2i7.473

Abstract

Latar Belakang : Stunting masih menjadi isu krusial di Lombok Utara meskipun prevalensinya berhasil turun dari 33,8% pada 2020 menjadi 13,5% pada Agustus 2024, melampaui target nasional. Namun, upaya eliminasi dan keberlanjutan program tetap menghadapi tantangan besar akibat faktor risiko seperti pernikahan dini, sanitasi buruk, layanan antenatal (ANC) yang kurang optimal, kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil, serta pengaruh mitos dan budaya. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merumuskan strategi komunikasi kesehatan yang humanis dan kontekstual guna lebih mengakselerasi penurunan stunting di KLU. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD) bersama ibu balita, kader, petugas kesehatan, dan tokoh masyarakat, serta observasi partisipatif dan analisis dokumen terkait program stunting di KLU. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil dan Pembahasan : Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan masyarakat tentang stunting meningkat, masih terdapat kesenjangan dengan praktik akibat pengaruh budaya, sosial-ekonomi, dan persepsi terhadap layanan kesehatan. Praktik komunikasi yang ada cenderung bersifat informatif dan belum sepenuhnya mengadopsi pendekatan humanis yang empatik dan partisipatif, serta belum optimal dalam mengintegrasikan konteks budaya lokal secara mendalam. Tantangan utama meliputi mitos yang mengakar, keterbatasan sumber daya, dan kendala koordinasi lintas sektor. Namun, terdapat peluang besar melalui peran aktif Tim Pendamping Keluarga (TPK), Posyandu, komitmen pemerintah daerah, dan potensi pelibatan tokoh lokal yang lebih strategis. Kesimpulan : Strategi komunikasi kesehatan yang humanis, menekankan empati, partisipasi aktif, dan pemberdayaan, serta kontekstual dengan mengadaptasi pesan dan saluran pada kearifan lokal, budaya, dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat KLU, memiliki potensi signifikan untuk mengatasi hambatan yang ada dan mempercepat penurunan stunting secara berkelanjutan. Rekomendasi difokuskan pada penguatan kapasitas komunikator lokal, pengembangan pesan partisipatif, pemanfaatan saluran komunikasi multi kanal yang relevan, dan penguatan kemitraan multisektor.
SINISME POLITIK DI MEDIA SOSIAL: ANALISIS KRITIK SOSIAL LAGU VIRAL “BAYAR BAYAR BAYAR” BAND SUKATANI Bernardus Herdian Nugroho
Jurnal Dinamika Sosial dan Sains Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Dinamika Sosial dan Sains
Publisher : CV.Sentral Bisnis Manajemen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60145/jdss.v2i3.166

Abstract

Fenomena sinisme politik di media sosial Indonesia semakin berkembang seiring meningkatnya ekspresi publik melalui konten digital bernuansa kritik sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi sinisme politik dalam lagu viral “Bayar Bayar Bayar” karya band Sukatani, yang menyuarakan keresahan masyarakat terhadap beban ekonomi dan ketidakadilan sosial melalui media sosial. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode analisis wacana kritis (CDA) menurut model Fairclough. Data diperoleh dari dokumentasi lirik lagu, video distribusi di YouTube dan TikTok, serta respons publik melalui komentar dan unggahan ulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu tersebut merepresentasikan sinisme politik sebagai bentuk kritik kolektif terhadap elite dan institusi negara yang dianggap tidak berpihak pada rakyat. Media sosial memainkan peran signifikan dalam memperkuat distribusi pesan dan membentuk ruang partisipasi politik non-konvensional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya populer digital, seperti lagu viral, dapat menjadi kanal efektif untuk mengartikulasikan kritik politik dan memperluas ruang demokrasi digital, meskipun juga berisiko melahirkan apatisme jika tidak disertai dengan upaya advokatif.