Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AI CHATBOTS IN EFL: SYNTHESIZING COGNITIVE, PSYCHOLOGICAL, AND ETHICAL IMPLICATIONS Syaifulloh, Rizal Bagus; Yappi, Shierly Novalita
EDUTECH : Jurnal Inovasi Pendidikan Berbantuan Teknologi Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/edutech.v5i1.4701

Abstract

The integration of AI-powered chatbots into English as a Foreign Language (EFL) education has garnered increasing attention for its potential to enhance language learning outcomes. This study presents a systematic review of 43 peer-reviewed articles published between 2023 and 2025, aiming to synthesize current evidence on the cognitive, psychological, and ethical implications of chatbot use in EFL contexts. The findings are thematically categorized into three domains: (1) cognitive outcomes, including improvements in vocabulary acquisition, grammar mastery, and writing fluency; (2) psychological impact, such as increased learner confidence and reduced language anxiety; and (3) ethical concerns, particularly related to data privacy, algorithmic bias, and digital equity. While the overall impact of chatbots is positive, several studies caution against over-reliance on AI tools and highlight the need for more transparent and ethically grounded implementations. This review concludes that AI chatbots can serve as effective supplemental tools in EFL learning when integrated thoughtfully and ethically. The study offers practical recommendations for educators and proposes future research directions to address current gaps in evidence, particularly regarding long-term impact and ethical safeguards. ABSTRAKIntegrasi chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) semakin mendapat perhatian karena potensinya dalam meningkatkan hasil belajar bahasa. Studi ini menyajikan tinjauan sistematis terhadap 43 artikel ilmiah terbitan tahun 2023 hingga 2025 untuk mensintesis bukti terkini mengenai implikasi kognitif, psikologis, dan etis dari penggunaan chatbot dalam konteks EFL. Temuan dikategorikan ke dalam tiga domain tematik: (1) hasil kognitif, meliputi peningkatan penguasaan kosakata, tata bahasa, dan kelancaran menulis; (2) dampak psikologis, seperti peningkatan kepercayaan diri dan penurunan kecemasan berbahasa; serta (3) isu etis, khususnya terkait privasi data, bias algoritmik, dan kesenjangan digital. Meskipun dampak penggunaan chatbot secara umum bersifat positif, beberapa studi memperingatkan potensi ketergantungan berlebihan terhadap alat AI dan menyoroti perlunya penerapan yang transparan dan berlandaskan etika. Kajian ini menyimpulkan bahwa chatbot AI dapat berperan sebagai alat bantu pembelajaran yang efektif dalam konteks EFL jika diintegrasikan secara bijak dan etis. Studi ini juga menawarkan rekomendasi praktis bagi para pendidik serta mengusulkan arah penelitian lanjutan untuk menjawab kesenjangan bukti, khususnya terkait dampak jangka panjang dan perlindungan etis.
TRANSFORMASI PEDAGOGIS MELALUI DEEP LEARNING DALAM KURIKULUM MERDEKA: STUDI LITERATUR SISTEMATIS Syaifulloh, Rizal Bagus
STRATEGY : Jurnal Inovasi Strategi dan Model Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/strategi.v6i1.8793

Abstract

Global developments in education have prompted a paradigm shift from knowledge transmission–oriented learning toward deep, reflective, and contextual conceptual understanding. In Indonesia, the Deep Learning (DL) approach has been introduced as a pedagogical strategy to strengthen the implementation of the Merdeka Curriculum by fostering 21st-century competencies articulated in the 6Cs framework. However, numerous studies indicate a gap between the ideal conception of DL and its classroom implementation, where it is often narrowly interpreted as the use of digital technology or specific instructional models. This study aims to examine teachers’ understanding, implementation patterns, and systemic challenges related to Deep Learning in Indonesia through a Systematic Literature Review (SLR) guided by the PRISMA protocol. The findings reveal that while teachers generally demonstrate positive perceptions of DL, comprehensive instructional understanding remains limited. Learning practices that integrate meaningful, mindful, and joyful principles have been shown to enhance student engagement and reasoning skills, particularly when supported by strong pedagogical beliefs and a collaborative school culture. Major barriers include limited professional development, infrastructure disparities, and administrative workloads that constrain pedagogical innovation. This study concludes that Deep Learning holds substantial potential as a vehicle for pedagogical transformation and educational equity; however, its sustainability requires systemic change through the strengthening of teacher capacity and the cultivation of a holistic learning culture. ABSTRAKPerkembangan pendidikan global mendorong terjadinya pergeseran paradigma pembelajaran dari sekadar transfer pengetahuan menuju pemahaman konseptual yang mendalam, reflektif, dan kontekstual. Di Indonesia, pendekatan Deep Learning (DL) diperkenalkan sebagai strategi pedagogis untuk memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka melalui pengembangan kompetensi abad ke-21 yang dirumuskan dalam kerangka 6Cs. Namun, berbagai studi menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep ideal dan praktik di lapangan, di mana DL kerap dipersepsikan sebatas penggunaan teknologi atau model pembelajaran tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman guru, bentuk implementasi, serta hambatan sistemik dalam penerapan Deep Learning di Indonesia melalui metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada protokol PRISMA. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun guru umumnya memiliki persepsi positif terhadap DL, tingkat pemahaman instruksional yang komprehensif masih terbatas. Implementasi yang mengintegrasikan prinsip meaningful, mindful, dan joyful learning terbukti meningkatkan keterlibatan serta kemampuan bernalar peserta didik, terutama ketika didukung oleh keyakinan pedagogis guru dan budaya sekolah yang kolaboratif. Hambatan utama meliputi keterbatasan pelatihan, ketimpangan infrastruktur, serta beban administratif yang menghambat inovasi pembelajaran. Penelitian ini menegaskan bahwa Deep Learning berpotensi menjadi instrumen transformasi pedagogis dan keadilan pendidikan, namun keberlanjutannya menuntut perubahan sistemik melalui penguatan kapasitas guru dan pengembangan budaya belajar secara menyeluruh.