Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan bahasa baku di TikTok serta respons mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED) terhadapnya. Dengan pendekatan kuantitatif dan metode deskriptif, data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 100 mahasiswa aktif UNIMED yang menggunakan TikTok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa lebih sering menggunakan bahasa tidak baku (76%) dalam interaksi mereka di TikTok, dengan alasan kenyamanan, kebiasaan dalam percakapan sehari-hari, serta pengaruh tren media sosial. Sebaliknya, hanya 24% yang lebih memilih menggunakan bahasa baku, terutama dalam konten edukatif dan formal. Respons terhadap penggunaan bahasa baku di TikTok bervariasi; sebagian mahasiswa menganggap bahasa baku terlalu formal dan tidak sesuai dengan gaya komunikasi di TikTok, namun ada juga yang menyadari pentingnya bahasa baku dalam konteks edukatif. Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor jenis kelamin dan latar belakang akademik mempengaruhi preferensi penggunaan bahasa. Laki-laki lebih dominan menggunakan bahasa tidak baku, sementara mahasiswa dari jurusan Pendidikan Bahasa cenderung lebih memperhatikan penggunaan bahasa baku. Secara keseluruhan, meskipun bahasa tidak baku lebih dominan di TikTok, bahasa baku tetap dihargai dalam konteks tertentu, terutama dalam konten formal dan edukatif. Penelitian ini menyarankan perlunya pendekatan kreatif untuk mengedukasi mahasiswa dalam menjaga keseimbangan antara penggunaan bahasa baku dan tidak baku di era digital.