Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

“ANALISIS MATERI BUKU SUPER DEUTSCH LEKTION 4 “DIE KLASSENFAHRT: EINE UNVERGESSLICHE” DENGAN GER DAN PROFILE DEUTCSH” Maharani, Yesika; Siagian, Natasya Engel; Siregar, Hana Gloria
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 7 No. 3 (2025): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v7i3.12137

Abstract

The Super Deutsch book is a German language learning reference designed according to the Common European Framework of Reference for Languages (CEFR). Lesson 4, titled "Die Klassenfahrt: Eine unvergessliche Reiseerfahrung" (The Class Trip: An Unforgettable Travel Experience), explores the experience of a class trip while integrating various language skills, such as text comprehension, the use of Akkusativ and Dativ cases, and the application of Präpositionen. This article analyzes the alignment of the Super Deutsch materials with Profile Deutsch, a guideline detailing German language competencies from levels A1 to C2. The primary focus of the analysis is on linguistic aspects, communication skills, and the cultural relevance presented in Lesson 4. The findings indicate that the content of Super Deutsch is primarily oriented toward levels A2-B1, with an emphasis on reading and writing skills in the context of a class trip. Additionally, the integration of cultural elements, such as introducing tourist destinations and social interactions during travel, supports a communicative approach to learning German. Pembelajaran bahasa asing menuntut penggunaan bahan ajar yang sesuai dengan standar internasional agar dapat mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif. Dalam konteks pembelajaran bahasa Jerman, Gemeinsamer Europäischer Referenzrahmen für Sprachen (GER) atau Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) menjadi standar utama dalam menentukan tingkat kompetensi bahasa. GER membagi keterampilan bahasa menjadi enam level, dari A1 (pemula) hingga C2 (mahiran), dengan fokus pada aspek mendengar, membaca, berbicara, dan menulis (Council of Europe, 2001). Salah satu buku ajar yang mengikuti pendekatan berbasis GER adalah Super Deutsch. Buku ini mengadopsi pendekatan komunikatif (kommunikativer Ansatz), yang menekankan penggunaan bahasa dalam konteks kehidupan nyata (Richards & Rodgers, 2014). Salah satu unit dalam buku ini, Lektion 4: Die Klassenfahrt: Eine unvergessliche Reiseerfahrung, membahas pengalaman perjalanan studi (Klassenfahrt), yang mencakup keterampilan membaca teks deskriptif, penggunaan kasus Akkusativ dan Dativ, serta pemahaman struktur kalimat dalam deskripsi perjalanan. Untuk menilai efektivitas materi ini, penelitian ini menggunakan Profile Deutsch sebagai kerangka analisis. Profile Deutsch adalah pedoman yang lebih rinci dalam menjabarkan kompetensi bahasa Jerman berdasarkan GER, yang dikembangkan oleh Schneider dan North (2000). Pedoman ini menyediakan deskripsi keterampilan yang lebih spesifik untuk setiap level dan menjadi acuan dalam penyusunan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan pembelajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana materi dalam Super Deutsch Lektion 4 sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Profile Deutsch. Fokus utama adalah pada relevansi linguistik dan integrasi aspek budaya dalam pembelajaran. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh wawasan mengenai efektivitas buku Super Deutsch sebagai bahan ajar dalam meningkatkan kompetensi bahasa Jerman di tingkat A2-B1, khususnya dalam konteks perjalanan studi.
“ANALISIS MATERI BUKU SUPER DEUTSCH LEKTION 4 “DIE KLASSENFAHRT: EINE UNVERGESSLICHE” DENGAN GER DAN PROFILE DEUTCSH” Maharani, Yesika; Siagian, Natasya Engel; Siregar, Hana Gloria
Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa Vol. 7 No. 3 (2025): Argopuro: Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6734/argopuro.v7i3.12137

Abstract

The Super Deutsch book is a German language learning reference designed according to the Common European Framework of Reference for Languages (CEFR). Lesson 4, titled "Die Klassenfahrt: Eine unvergessliche Reiseerfahrung" (The Class Trip: An Unforgettable Travel Experience), explores the experience of a class trip while integrating various language skills, such as text comprehension, the use of Akkusativ and Dativ cases, and the application of Präpositionen. This article analyzes the alignment of the Super Deutsch materials with Profile Deutsch, a guideline detailing German language competencies from levels A1 to C2. The primary focus of the analysis is on linguistic aspects, communication skills, and the cultural relevance presented in Lesson 4. The findings indicate that the content of Super Deutsch is primarily oriented toward levels A2-B1, with an emphasis on reading and writing skills in the context of a class trip. Additionally, the integration of cultural elements, such as introducing tourist destinations and social interactions during travel, supports a communicative approach to learning German. Pembelajaran bahasa asing menuntut penggunaan bahan ajar yang sesuai dengan standar internasional agar dapat mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif. Dalam konteks pembelajaran bahasa Jerman, Gemeinsamer Europäischer Referenzrahmen für Sprachen (GER) atau Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) menjadi standar utama dalam menentukan tingkat kompetensi bahasa. GER membagi keterampilan bahasa menjadi enam level, dari A1 (pemula) hingga C2 (mahiran), dengan fokus pada aspek mendengar, membaca, berbicara, dan menulis (Council of Europe, 2001). Salah satu buku ajar yang mengikuti pendekatan berbasis GER adalah Super Deutsch. Buku ini mengadopsi pendekatan komunikatif (kommunikativer Ansatz), yang menekankan penggunaan bahasa dalam konteks kehidupan nyata (Richards & Rodgers, 2014). Salah satu unit dalam buku ini, Lektion 4: Die Klassenfahrt: Eine unvergessliche Reiseerfahrung, membahas pengalaman perjalanan studi (Klassenfahrt), yang mencakup keterampilan membaca teks deskriptif, penggunaan kasus Akkusativ dan Dativ, serta pemahaman struktur kalimat dalam deskripsi perjalanan. Untuk menilai efektivitas materi ini, penelitian ini menggunakan Profile Deutsch sebagai kerangka analisis. Profile Deutsch adalah pedoman yang lebih rinci dalam menjabarkan kompetensi bahasa Jerman berdasarkan GER, yang dikembangkan oleh Schneider dan North (2000). Pedoman ini menyediakan deskripsi keterampilan yang lebih spesifik untuk setiap level dan menjadi acuan dalam penyusunan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan pembelajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana materi dalam Super Deutsch Lektion 4 sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Profile Deutsch. Fokus utama adalah pada relevansi linguistik dan integrasi aspek budaya dalam pembelajaran. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh wawasan mengenai efektivitas buku Super Deutsch sebagai bahan ajar dalam meningkatkan kompetensi bahasa Jerman di tingkat A2-B1, khususnya dalam konteks perjalanan studi.
Aschenputtel and Cinderella in Intertextual Dialogue: A Study of the Fairy by Grimm and Perrault Daulay, Jihan Nur Alfiana; Siregar, Hana Gloria; Manalu, Elvrida Melvawati; Siagian, Natasya Engel; Sumari, Binti Aisiah Daning
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37675

Abstract

Penelitian ini menganalisis hubungan intertekstual antara Aschenputtel dalam Deutsche Märchen und Sagen karya Rosemarie Griesbach dan Cinderella karya Charles Perrault. Menggunakan teori intertekstualitas Graham Allen, penelitian kualitatif deskriptif ini membandingkan empat aspek naratif: tokoh penolong, benda ajaib, alur, dan akhir cerita. Temuan menunjukkan bahwa meskipun kedua dongeng memiliki alur dasar yang sama, gadis tertindas mendapat bantuan, pergi ke pesta, kehilangan sepatu, lalu menikah dengan pangeran, terdapat perbedaan signifikan. Aschenputtel menggunakan pohon hazel sebagai penolong dan berakhir dengan saudari tiri dibutakan, mencerminkan nilai keadilan retributif dan hubungan spiritual dengan leluhur dalam masyarakat Jerman abad ke-19. Sebaliknya, Cinderella menggunakan ibu peri dan berakhir dengan pengampunan serta rekonsiliasi, mencerminkan nilai humanisme masyarakat Prancis abad ke-17 yang menekankan keanggunan dan harmoni. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Perrault tidak sekadar menceritakan ulang cerita yang sama, tetapi mentransformasi dan menafsir ulang tradisi dongeng Jerman melalui pilihan naratifnya.