Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Gereja dan Tanggung Jawab atas Lingkungan: Perspektif Biblika terhadap Pencegahan Ecocide Berdasarkan Kejadian 1 dan 2 John Jonathan Nap
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i3.56096

Abstract

Bumi beserta segala tatanannya adalah sebuah Mahakarya Ilahi yang diciptakan dari tidak ada menjadi ada (ex-nihilo). Manusia adalah puncak dari Mahakarya tersebut (Kej. 1:26-31) yang menjadi akhir seluruh proses penciptaan tersebut dengan kesimpulan, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kejadian 1:31a). Allah tidak hanya Pencipta; Dia juga bertanggungjawab memelihara ciptaan-Nya. Manusia yang ditempatkan di Taman Eden diajak bekerjasama untuk memelihara bumi (Kejadian 2:15). Ironisnya, dosa membuat manusia tidak mampu untuk bertanggungjawab atas ciptaan Allah ini. Bumi menjadi rusak dan mengancam kehidupan ekosistem di bumi. Pengrusakan besar-besaran terhadap bumi ini kemudian dikenal dengan nama ecocide (ekosida). Penelitian ini bertujuan untuk menelaah makna tanggung jawab manusia dalam memelihara bumi berdasarkan Kejadian 2:15 dengan pendekatan hermeneutik, khususnya eksegesis terhadap teks asli, untuk menggali pemahaman yang lebih dalam. Kajian ini adalah sebuah penelitian pustaka dengan pendekatan hermenetik secara khusus eksegesa Kejadian 2:15 untuk melihat apa makna dari tanggungjawab tersebut berdasarkan bahasa aslinya, kemudian mencoba menakar apa saja potensi yang sudah ada dalam gereja yang dapat dimaksimalkan dalam melaksanakan cultural mandate yang termaktub dalam narasi Alkitab tersebut.