kahrani kahrani
STIT Darul Ulum Kotabaru

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

kahrani HIPERREALITAS: PENGARUH MEDIA TERHADAP KAUM TERDIDIK DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0. kahrani kahrani
Darul Ulum: Jurnal Ilmiah Keagamaan, Pendidikan dan Kemasyarakatan Vol 11 No 2 (2020): Darul Ulum: Jurnal Ilmiah Keagamaan, Pendidikan dan Kemasyarakatan, Desember 202
Publisher : STIT DARUL ULUM KOTABARU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62815/darululum.v11i2.51

Abstract

Tulisan ini berusaha mengungkap pengaruh media terhadap kaum terdidik di era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan tayangan-tayangan kekerasan, kriminalitas, seksualitas dan mistik yang menjauhkan kaum terdidik dari nilai-nilai spiritual dan terjebak pada reekayasa intelegensi (artificial intelegence). Inilah menyebabkan terjadinya perubahan secara fundamental pada masyarakat, baik pada aspek ekonomi, sosial, politik, agama, terutama pada lingkaran pendidikan. Berdasarkan hasil analisa penulis dengan menggunakan metode semiotika (simbol verbal dan non verbal) ditemukan pengaruh media bagi kaum terdidik, diantaranya: Pertama, Kaum terdidik terjebak pada kelemahan penggunaan kognitif secara maksimal, akhirnya dijebak dalam ruang yang dikira nyata, namun isinya hanyalah khayalan dimana muaranya berpikir instant. Kedua,pada ranah afektif kaum terdidik terjebak pemenuhan gaya hidup hedon, trend, fashion, produk kecantikan, makanan cepat saji, dengan kata lain terjebak pada budaya populer bersifat negatif. Ketiga, pada aspek psikomotorik para kaum terdidik terjebak pada budaya mudah meniru yang bersifat ambivalen dan permisif (budaya bebas) tanpa pertimbangan etika, estetika, dan spiritual. Hiperrealitas (keadaan diamana tidak ada lagi dikotomi), misalnya antara nyata dan fantasi, antara benar dan salah, antara asli dan palsu, antara moral dan amoral, antara normal dan abnormal dan sebagainya. Gejala Hiperrealitas pada kaum terdidik, yang berkaitan dengan hiburan dan tontonan, seperti sepakbola, reality show, drama korea, tiktok, k-pop bentuk tayangan tersebut dianggap kebanyakan kaum terdidik asli padahal isinya palsu penuh dengan rekayasa. Hiperrealitas gaya hidup: konsumsi pada kaum terdidik banyak mengikuti karena trend apa yang ditampilkan media, seperti sihir iklan dengan tawaran produk yang ditampilkan, gaya hidup publik figur, merek produk, fashion branded, game (permainan) tempat wisata dan hiburan. Hiperrealitas tontonan pada kaum terdidik, yang juga berpengaruh pada kehidupan kaum terdidik, yakni tontonan yang menampilkan adegan erotis, pornografi, hal ini ditampilkan lewat media tanpa batas yang jelas, seolah bisnis selangkangan hadir untuk mengajari dan menyesatkan masyarakat. Jadi fungsi media sebagai pusat edukasi, informasi, lebih didominasi hiburan dan mempengaruhi yang kecenderungan bersifat negatif. Hiperrealitas dan hegemoni media hanya bisa dikurangi bahkan diatasi apabila masyarakat dalam hal ini kaum terdidik mampu bersikap kritis terhadap pesan yang ditampilkan oleh media. Sikap kritis ini hanya bisa tercipta apabila budaya literasi menguat dikalangan para kaum terdidik, sehingga lahirlah peserta didik kreatif, inovatif, kompetitif dan produktif. Jadi kaum terdidik tidak hanya dituntut mampu menyesuaikan zaman, tetapi harus mampu menafsirkan ulang dan terintegrasi dengan zaman, jika hal ini tidak dilakukan sampai kapan pun kaum terdidik hanya akan jadi budak kapitalisme melalui berbagai macam tawaran bujuk rayu media. Kata Kunci: Hiperrealitas, Pengaruh Media, dan Kaum Terdidik
PEMIKIRAN DAN KELEMBAGAAN ISLAM PADA MASA KOLONIAL DAN SEKARANG KAHRANI KAHRANI
Darul Ulum: Jurnal Ilmiah Keagamaan, Pendidikan dan Kemasyarakatan Vol 15 No 1 (2024): Darul Ulum: Jurnal Ilmiah Keagamaan, Pendidikan dan Kemasyarakatan, Juni 2024
Publisher : STIT DARUL ULUM KOTABARU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62815/darululum.v15i1.163

Abstract

Pada masa Kolonial Belanda pendidikan ditujukan skala prioritas terutama para pegawai VOC (Vereenigde Oost-indische Compagnie) dan keluarganya. Pendidikan yang dikembangkan bagi kalangan pribumi hanya untuk memenuhi kebutuhan para pekerja. Pada zaman ini Belanda juga fokus pada ketiga tujuan yang dikenal dengan kata Tre G yaitu Gold, Gospel dan Glory. Pada masa penjajahan Jepang pengembangan madrasah begitu gencar dilakukan secara luas oleh Majelis Islam terautama madrasah-madrasah awaliyah yang diperuntukan bagi anak-anak berusia minimal 7 tahun. Perubahan kurikulum Pendidikan Islam yang selalu berubah-rubah sehingga menyulitkan menetapkan kompetensi secara permanen yang bisa digunakan secara terus menerus. Kurikulum merupakan pedoman dan ruang lingkup materi yang digunakan untuk mengantarkan pendidikan kepada tujuannya, maka kurikulum perlu dirancang dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang agar relevan baik di dalam lembaga maupun bagi masyarakat dunia luar. Kurikulum beberapa tahun terakhir selalu berubah-rubah dimulai KTSP, K13, KBK dan sekarang Kurikulum Merdeka. Pendidikan harus mampu membekali peserta didik dengan kemampuan yang dibutuhkan di abad 21, yang meliputi: kemampuan berpikir kritis, kepekaan terhadap lingkungan dan permasalahan di masyarakat, kemampuan kreatif dan inovatif yaitu mampu berpikir untuk menciptakan banyak peluang dan solusi dari setiap permasalahan, kemampuan berkolaborasi meliputi kemampuan membangun jaringan seluas-luasnya, kemampuan memimpin dan dipimpin, dan kemampuan bekerja sama untuk memecahkan masalah. Kemampuan komunikasi yang efektif, yang memungkinkan untuk mengungkapkan ide dan pemikiran yang sudah ada di kepala seseorang kepada orang lain.