Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Polifarmasi Terhadap Interaksi Obat Di Rumah Sakit Umum Kota Pekalongan Permadi, Yulian Wahyu; Akrom; Imam Riadi; St Rahmatullah
Lamda: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA dan Aplikasinya Vol. 5 No. 1 (2025): April
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/lambda.v5i1.1200

Abstract

The use of drugo in large quantities is called polypharmacy. The number of drug interactions depends on the number of drugs consumed, the possibility of drug interactions increases as more drugs are used in the prescription. This study aims to analyze the incidence of polypharmacy and drug interactions in outpatient prescriptions at Pekalongan City General Hospital. This study is a retrospective descriptive study conducted by analyzing outpatient prescription data for the period March–May 2023 at the hospital pharmacy depot. Prescription sheets containing two or more drugs (R/) were identified through reliable literature sources, namely www.drugs.com and www.medscape.com. Data were grouped and analyzed using SPSS spearman test. The results showed that of the total incidence of drug interactions of 877 patients, the gender of the patients was mostly female (68%), the age of the most was 26-45 years (58%), the number of drugs in the prescription was the largest two drugs with potential interactions 44%, the level of polypharmacy was moderate (48%), minor (21%), major (13%) and no interaction (18%). The largest number of diagnoses in the prescription was two diagnoses at 44%. The highest drug interaction mechanisms are pharmacodynamics (57.3%), pharmacokinetics (13%), unknown (29.7%). The most interacting drug combinations are rifampicin isoniazid 6.9%, furosemide cefixime 4.5% and sertraline gabapentin 4.5%. The correlation between the number of drug use and diagnosis according to the results of this study is a significant, strong and unidirectional correlation. Based on the results of this study, it is recommended that polypharmacy in prescriptions can be minimized and drug interaction monitoring be tightened to reduce the risk of dangerous side effects.
Analisis Pengaruh Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD) dan Health Belief Model (HBM) terhadap Kepatuhan Pengobatan serta Kualitas Hidup Pasien Penderita Penyakit TBC Yulian; St Rahmatullah; Silvana Azizah
E-Jurnal Kajen Vol 9 No 02 (2025): Kajen:Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pembangunan
Publisher : Bapperida Kabupaten Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54687/jurnalkajenv9203.

Abstract

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada April 2021, jumlah kasus TBC di Indonesia tercatat sebanyak 357.199 menurut SITB (Software System Information TB). TBC menjadi penyakit menular paling mematikan kedua di dunia setelah Covid-19 pada tahun 2021 dan berada di urutan ketiga belas sebagai penyebab utama kematian global. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang tahun 2023 menunjukkan 1.382 kasus TBC di seluruh puskesmas. Kepatuhan pengobatan menjadi tantangan utama dalam pengobatan TBC, yang juga dipengaruhi oleh kualitas hidup pasien. Reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD) dapat menghentikan pengobatan, meningkatkan risiko resistensi, gagal pengobatan, penurunan kualitas hidup dan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ROTD terhadap kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup pasien TB berbasis Health Belief Model di Puskesmas Mulyoharjo. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner MMAS-8, WHOQOL-BREEF dan Teori Health Belief Model, kemudian dianalisis dengan regresi linier berganda menggunakan SPSS. ROTD memiliki hubungan negatif dengan kepatuhan (-0,029) dan kualitas hidup (-5,313). Sementara itu, Health Belief Model memiliki hubungan positif dengan kepatuhan (0,409) dan kualitas hidup (0,409).