Ella Fitriana
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Korelasi Pola Asuh Orang Tua Terhadap Tingkat Kemandirian Anak Ella Fitriana; Kusmawati Hatta; Nur Izah Hastuti; Cut Alfidhatul Nadhirah; Mulia Mardi
Jurnal Serambi Ilmu Vol. 26 No. 1 (2025): Jurnal Serambi Ilmu
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jsi.v26i1.2723

Abstract

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pola asuh memang sangat berpengaruh. Pola asuh terdiri dari tiga jenis yang sudah diketahui, yaitu pola asuh otoriter, demokratis, dan permisif. Ketiga pola asuh ini memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing. Namun, dari ketiga jenis pola asuh tersebut, yang paling baik adalah pola asuh demokratis. Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang menerima dan melibatkan anak sepenuhnya. Orang tua dengan tipe ini memiliki tingkat pengendalian yang tinggi dan mengharuskan anak-anak bertindak pada tingkat intelektual dan sosial sesuai dengan usia dan kemampuan mereka. Namun, orang tua juga memberikan kehangatan, bimbingan, dan komunikasi dua arah. Mereka memberikan alasan atas hukuman dan larangan yang mereka berikan, sehingga anak lebih paham, tidak hanya diberi hukuman tetapi juga penjelasan mengenai alasan tersebut. Temuan ini mengidentifikasi bahwa pola asuh yang memberikan kebebasan yang bertanggung jawab dan dukungan emosional kepada anak cenderung mendukung perkembangan kemandirian pada anak. Namun, perlu juga diingat bahwa faktor-faktor lain seperti karakteristik anak, lingkungan sosial, dan konteks kebudayaan juga dapat mempengaruhi tingkat kemandirian anak. Berdasarkan hasil penelitian ini, sangat dipahami bahwa masih banyak kekurangan dari berbagai sisi, sehingga disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan melibatkan berbagai budaya untuk menganalisis temuan. Selain itu, untuk penelitian selanjutnya, dapat dikembangkan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh dan aspek-aspek lain dari perkembangan anak, seperti yang berkaitan dengan prestasi akademik dan kesehatan emosional
Komunikasi Rekonsiliasi melalui Tradisi Mangan Murum di Bener Meriah Arief Fadhillah; Rusli Yusuf; Ishak Hasan; Masrizal; Ella Fitriana
Jurnal Peurawi: Media Kajian Komunikasi Islam Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Peurawi: Media Kajian Komunikasi Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/a94zf928

Abstract

This study examines reconciliation communication through the Mangan Murum tradition in Bener Meriah Regency as a sociocultural space for rebuilding relationships among post-conflict multiethnic communities, particularly the Acehnese, Gayo, and Javanese. It analyzes how reconciliation communication is constructed through local cultural practices involving multiple social actors across the stages of initiation, dialogue, and collective ritual enactment. Using a qualitative approach with critical autoethnography, the researcher actively participated in the reconciliation process from stakeholder engagement to the implementation of the Mangan Murum ritual on August 10, 2025. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, documentation, and reflective field notes. The findings show that reconciliation is gradually constructed through communication processes embedded in social interactions and cultural rituals rather than formal institutional mechanisms alone. The Mangan Murum tradition functions as a symbolic communicative space that restores trust, solidarity, and collective identity among communities affected by conflict. This study proposes the concept of Ritual Reconciliation Communication, defined as reconciliation enacted through communal ritual practices that reconstruct post-conflict social relations. The concept extends ritual communication and conflict transformation perspectives while highlighting indigenous cultural traditions as sustainable instruments for peacebuilding in multicultural societies.