alvi ratna Yuliana
akperkrida

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA CACAT MATA MIOPIA PADA SISWA SMP GUNUNGWUNGKAL KABUPATEN PATI alvi ratna Yuliana
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v5i1.47

Abstract

AbstrakMata merupakan organ penting dalam tubuh kita sekitar 95% informasiyang diterima otak, masuk melalui panca indera penglihatan. Diperkirakan separuh dari penduduk dunia akan mengalami myopia tahun 2020. Jawa tengah sendiri menduduki peringkat nomer 6 untuk masalah miomia.frekuensi puncaknya terlihat pada usia 15-19 tahun, kejadiannya lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki dimana pelajar SMA dan mahasiswa menduduki peringkat teratas penderita miopia dan mahasiswa kedokteran menduduki peringkat tertinggi. Cacat mata miopia dapat disebabkan oleh faktor keturunan dan kebiasaan penggunaan mata yang tidak semestinya seperti membaca sambil tidur, menonton televisi terlalu dekat, membaca di tempat yang gelap dan terlalu lama di depan layar komputer sehingga menyebabkan mata lelah. Akibat penggunaan mata yang berlebihan mata menjadi mudah lelah, sayu, dan kadang berair serta mengakibatkan penglihatan kabur. Siswa SMP memiliki aktivitas yang tinggi dalam penggunaan indra penglihatannya. Dalam satu hari rata-rata menjalani pelajaran 12 jam ditambah lagi tugas yang menggunakan akses internet dan buku yang harus dibaca.Tujuan Penelitian: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan faktor risiko yangpaling dominan terhadap terjadinya cacat mata miopia.Metode: penelitian ini merupakan penelitian deskriptif ,case controlyang menggunakaninstrumen penelitian berupa kuesioner. Perhitungan hasil menggunakan rumus odds ratio(OR) dengan table 2x2 dan chi-square dengan tingkat kemaknaan yang dipakai 5% danCI 95%.Hasil: Faktor kelelahan mata seperti jarak menonton televisi < 3x diameter televisimemiliki nilai p=0,068 sedangkan tidak pernah mengistirahatkan mata memiliki nilai p= 0,008 & OR= 5,264, gambar dan kontras yang tidak sesuai memiliki nilai p= 0,000 & OR= 5,509 dan seringnya mengalami keluhan pada mata memiliki nilai p= 0,000 & OR= 4,915. Faktor posisi membaca seperti posisi tubuh yang tidak duduk tegak saat membaca memiliki nilai p= 0,059, jarak baca < 33 cm dari bacaan memiliki nilai p= 0,869 dan posisi bacaan yang diletakkan diatas meja memiliki nilai p= 0,246. Faktor keturunan memiliki hubungan terhadap terjadinya cacat mata miopia memiliki nilai p= 0,005 & OR 2,390 sedangkan faktor pencahayaan memiliki nilai p= 0,245.Kesimpulan: Faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya cacat mata miopia adalah faktor kelelahan mata seperti tidak mengistirahatkan mata, gambar dan kontras yang tidak sesuai, kelelahan mata serta faktor keturunan. Faktor yang paling dominan yang berhubungan terhadap terjadinya cacat mata adalah faktor kelelahan mata akibat gambar dan kontras yang tidak sesuai.  Kata Kunci: miopia, kelelahan mata, posisi membaca, keturunan dan pencahayaan     ABSTRACTAlvi Ratna YulianaBackground: Eyes are a vital organ of our body. Approximately 95% ofinformation received by the brain come through visual senses. the world until half of the world's populations are suffer from myopia in 2020.Central Java’s ranked is sixth for the problems of myopia, Peak frequency happens to those of 15 – 19 years old, more female than male and senior high school and college students are major patients of myopia whereby students of the Faculty of Medicine are at the highest rank. Myopia may be caused by heredity and high frequency of improper use of the eye of such as reading while lying on the back, watching television too close to the monitor, reading without sufficient light and looking at the computer monitor for too long, all of which cause fatigue to the eye. Excessive use of the eye can cause the eye to easily get tired, droopy, and watery, ending in blurred vision. The junior high school have high intensity use of their eye. They attend lectures in average for 12  hours a day and have additional activities for doing assignments by making use of internet and reading books.Objective: To identify factors related to and most dominant risk factors of theprevalence of myopia eye defect.Method: This was a case control descriptive study which used questionnaires asresearch instruments. Result analysis used OR with x2 and chi square with CI 95%.Result: Factors related to the prevalence of myopia were eye fatigue such asdistance of watching television < 3x of television diameter p= 0.068, never resting the eye p= 0.008 & OR= 5.264, inappropriate picture and contrast p= 0.000 & OR= 5.509 and frequent complaints in the eye p= 0.000 & OR= 4.915; reading position such as not sitting straight while reading p= 0.059, reading distance < 33 cm from the object p= 0.869 and the position of the reading object on the desk p= 0.246; heredity p= 0.005 & OR= 2.390; and lighting p=0.245.Conclusion: Risk factors related to the prevalence of myopia were eye fatiguesuch as not resting the eye, inappropriate picture and contrast, and heredity. The most dominant risk factor related to the prevalence of myopia eye defect was eye fatigue caused by inappropriate picture and contrast.Keywords: myopia, eye fatigue, position of reading, heredity, lighting 
TERAPI NEBULIZER MENGURANGI SESAK NAFAS PADA SERANGAN ASMA BRONKIALE di RUANG IGD RSUD dr. LOEKMONO HADI KUDUS alvi ratna Yuliana; S I agustina
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v4i1.28

Abstract

Penulisan ini merupakan laporan kasus yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi nebulizer mengurangi sesak nafas pada serangan asma bronkiale. Metode ini menggunakan analisa deskriptif terhadap Tn.M dengan serangan asma bronkiale, penulis menyimpulkan bahwa untuk mengatasi sesak nafas pada serangan asma bronkiale dilakukan terapi nebulizer cukup efektif, tetapi terapi nebulizer dengan obat-obat bronkodilator hanya bekerja sementara, cara kerjanya yakni mengencerkan dahak pada saluran pernafasan sehingga hal ini tidak mengakibatkan obstruksi dan sumbatan jalan nafas. Terapi nebulizer dengan obat bronkodilator diantaranya bisolvon 20 tetes, combivent 2,5 mg dan ventolin 2,5 mg berfungsi mengencerkan dahak, pencegahan bronkospasme dan melonggarkan saluran nafas. serangan asma bronkiale yang terjadi pada Tn.M karena  bronkospasme yang memicu akumulasi secret dan menimbulkan sesak nafas karena jalan nafas tersumbat oleh mukus mengakibatkan saluran pernafas menyempit dan ventilasi alveolus berkurang, dapat diatasi menggunakan terapi nebulizer dengan obat bronkodilator  yang dirubah menjadi partikel aerosol  karena terdapat tekanan udara, efek puncak dari obat-obat bronkodilator sekitar 15-20 menit punjak akhir 1-2 jam dan lama kerja obat-obat bronkodilator adalah 6-8 jam. Pengelolaan yang dilakukan pada Tn.M selama 3 hari memberikan terapi nebulizer 3X/hari dengan bisolvon 20 tetes, combivent 2,5 mg dan ventolin 2,5 mg dengan hasil  Rr yang semula 30X/menit menjadi 24 X/menit sehingga pasien terlihat nyaman dan tidak terdengar suara tambahan wheezing.