Y Susilowati
akperkrida

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENATALAKSANAAN PASIEN GANGGUAN JIWA DENGAN PERILAKU KEKERASAN DI RUANG CITRO ANGGODO RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Y Susilowati; D W Ningsih
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v2i2.15

Abstract

Pemberian strategi pelaksanaan pada klien dengan perilaku kekerasan bertujuan agar klien dapat mengontrol marah dengan cara yang konstruktif serta mencegah terjadinya perilaku kekerasan yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dilakukan oleh penulis selama 3 hari yaitu mengajarkan SP1P, SP2P dan SP3P, dimana pasien sudah mulai mampu membina hubungan saling percaya. Klien tampak kooperatif, akan tetapi masih bicara cepat dan keras. Klien mampu menyebutkan tanda gejala marah yaitu mata melotot, tangan mengepal, berdebar-debar dan bicara keras. Klien mampu menyebutkan penyebab marah yaitu karena bercerai dengan istri dan tidak bekerja lagi. Klien mampu menyebutkan perilaku kekerasan yang dilakukan yaitu memukul televisi dan membanting barang. Klien mampu menyebutkan dampak negatif dari perilaku kekerasan yaitu tangan sakit dan barang rusak. Klien mampu mendemonstrasikan cara mengontrol marah dengan tarik nafas dalam namun untuk jadwal kegiatan harian masih diingatkan.
PENATALAKSANAAN PASIEN GANGGUAN JIWA DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI: HARGA DIRI RENDAH DI RUANG GATHOTKOCO RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG R Purwasih; Y Susilowati
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v3i2.26

Abstract

Harga diri rendah merupakan perasaan negatif terhadap dirinya sendiri, termasuk kehilangan kepercayaan diri, tidak berharga, tidak berguna, pesimis, tidak ada arapan dan putus asa. Tindakan yang dilakukan perawat dalam mengurangi resiko masalah yang terjadi pada kasus harga diri rendah salah satunya dengan melakukan komunikasi terapeutik, dampak yang terjadi jika tidak dilakukan komunikasi terapeutik maka dapat mengakibatkan gangguan interaksi sosial: menarik diri, perubahan penampilan peran, keputusasaan maupun munculnya perilaku kekerasan yang beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dilakukan oleh penulis selama 3 hari yaitu mengajarkan SP1P, SP2P dan SP3P, dimana pasien sudahmenunjukkan hasil yang positif yaitu klien sudah mulai mau berbicara, kontak mata bisa dipertahankan dan pasien sudah mau melakukan kegiatan mencuci piring setiap hari.
PENATALAKSANAAN PASIEN GANGGUAN JIWA DENGAN ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI DI RUANG ARIMBI RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang M Afandi; Y Susilowati
Jurnal Profesi Keperawatan Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jprokep.v1i1.2

Abstract

Setelah pasien isolasi social: menarik diri dilakukan stategi pelaksanaan dapat disimpulkan bahwa strategi pelaksanaan (SP) merupakan pendekatan yang bersifat membina hubungan saling percaya antara klien dengan perawat, dampak yang terjadi jika tidak diberikan strategi pelaksanaan (SP) maka akan beresiko terjadinya kasus yang berkepanjangan sehingga dapat mengakibatkan perubahan persepsi sensori halusinasi. Walaupun perkembangan pada pasien hanya sedikit, hal ini sangat wajar karena pada klien dengan isolasi sosial: menarik diri membutuhkan waktu yang lama untuk saling mempercayai antara yang satu dengan yang lain, karena orang lain dianggap menyatakan sikap negatif dan mengancam dirinya, maka dari itu klien tampak menghindari interaksi dengan orang lain dalam jangka waktu yang lama. Hal ini sesuai dengan apa yang telah penulis lakukan selama 3 hari yaitu mengajarkan SP1P, dimana pasien sedikit menunjukkan hasil yang positif yaitu pasien sudah tampak berbicara dan mau menjawab pertanyaan dari penulis.