M. Burhanuddin Ubaidillah
STAI Darusslam Nganjuk

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Desakralisasi Mitos dan Rekayasa Spiritual Pernikahan Jilu dan Lusan Besan Dalam Adat Jawa M. Burhanuddin Ubaidillah; Faizatul Adawiyyah; Lailatul Zakiya
JAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : ADIDAS: Asosiasi Dosen Syari'ah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid advancement of digital technology has transformed patterns of social interaction within families, including the increasing prevalence of online gaming among married adults. Excessive online gaming by husbands has emerged as a significant challenge to family resilience, potentially disrupting marital communication, emotional intimacy, and household responsibilities. This study aims to examine the dynamics of family resilience in households where husbands experience online gaming addiction by analyzing patterns of family adaptation and the risk of family disintegration. This research employed a normative juridical approach using library research, drawing upon scholarly literature, legal regulations, and relevant theoretical perspectives concerning family resilience and behavioral addiction. The findings indicate that online gaming addiction does not inevitably lead to family disintegration. Family resilience is influenced by the family's capacity to adapt through effective communication, emotional support, shared commitment, and balanced role distribution. However, persistent addictive behavior characterized by neglect of family obligations, financial irresponsibility, and deteriorating marital interaction significantly increases the likelihood of marital conflict and family breakdown. The study concludes that strengthening family resilience requires not only individual awareness of digital behavior but also collaborative adaptation among family members to maintain marital stability amid the challenges of the digital era.
Wali Nikah dan Hak Waris Anak Zina dalam Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam (KHI M. Burhanuddin Ubaidillah
USRATUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 9 No. 2 (2026): USRATUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : ProdiĀ  Ahwal al-Syakhsiyah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65356/usratuna.v9i2.1100

Abstract

Tidak semua anak beruntung terlahir dari pernikahan yang sah. Ada yang lahir dari hubungan perzinaan yang biasa disebut sebagai anak zina, anak haram, anak jadah, anak di luar pernikahan dan sebutan lain yang bernada merendahkan. Selain itu, mereka juga kehilangan segala apa yang menjadi hak-haknya, baik Nasab, wali nikah dan hak waris. Zina adalah hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan tanpa adanya ikatan perkawinan yang sah dan dilakukan dengan sadar tanpa adanya unsur subhat. Jika hubungan kelamin terjadi karena unsur kesalahan, perbuatan tersebut tidak dapat disebut sebagai zina. Hukum menikahi pezina hamil ada dua pendapat. Pertama, membolehkan dan sah menurut. Kedua, tidak membolehkan dan tidak sah. Wali Nikah anak zina megikuti kaidah ahaq al-awliya, jika tidak ada dari Wali nasab, atau Wali dari kerabat, maka Wali hakim yang akan menjadi wali nikahnya. Semua ulama empat madzhab sepakat bahwa Anak zina tidak mempunyai hubungan nasab dengan bapaknya. Karena nasab itu mulia dan dimuliakan, sedangkan zina sesuatu yang keji dan haram, maka sesuatu yang mulia (nasab) tidak akan bisa di sebabkan karena sesuatu yang keji dan haram (zina). Dengan demikian, anak zina tidak mempunyai hak waris. Atikel ini difocuskan pada kajian Konsepsi Zina Dalam Islam, Hukum Menikahi Pezina Hamil, Wali Nikah Anak Zina, dan Hak Waris bagi Anak Zina dalam Prespektif Hukum Islam & Kompilasi Hukum Islam (KHI).