Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Tantangan Anak Tuna Netra dalam Pembelajaran Intan Rahmayani; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Ilmiah Literasi Indonesia Vol. 1 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/p5zbct63

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman seorang guru dalam menghadapi tantangan pembelajaran bagi anak tuna netra di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bukesra Banda Aceh. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang guru kelas berinisial Ibu N, yang secara langsung mengajar siswa tuna netra di SLB tersebut. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa guru menghadapi berbagai hambatan dalam proses pembelajaran, antara lain keterbatasan media belajar seperti Braille dan audio, minimnya ketersediaan teknologi bantu seperti screen reader, serta kurangnya pelatihan dalam pendidikan inklusif. Guru juga mengungkapkan kesulitan dalam menyampaikan konsep-konsep visual dan tantangan dalam membangun interaksi sosial yang inklusif di lingkungan sekolah. Meskipun demikian, guru menggunakan strategi pembelajaran multisensori dan mendapatkan dukungan dari keluarga siswa serta adanya peran guru pendamping yang membantu dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini merekomendasikan perlunya dukungan berkelanjutan dari pemerintah, sekolah, dan masyarakat guna menciptakan sistem pembelajaran yang lebih inklusif dan aksesibel bagi anak-anak tuna netra.
Dukungan Orang Tua Dan Prestasi Belajar Anak Down syndrome di Sekolah Luar Biasa (SLB) Intan Intan; Sri Nurhayati Selian
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4427

Abstract

Pendidikan merupakan hak dasar setiap individu, termasuk bagi anak dengan Down Syndrome yang membutuhkan pendekatan pembelajaran khusus sesuai kemampuan mereka. Dalam proses belajar, mereka menghadapi hambatan kognitif, sosial, dan emosional sehingga memerlukan dukungan orang tua yang kuat. Dukungan tersebut berpengaruh besar terhadap kepercayaan diri dan prestasi belajar anak. Namun, masih ditemukan perbedaan tingkat keterlibatan orang tua, sebagian aktif mendampingi sementara lainnya masih kesulitan menerima kondisi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan orang tua dan prestasi belajar anak dengan Down Syndrome di Sekolah Luar Biasa (SLB). Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini merumuskan dua masalah utama: (1) bagaimana bentuk dukungan orang tua terhadap anak dengan Down Syndrome, dan (2) bagaimana tingkat prestasi belajar anak dengan Down Syndrome. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskribsikan bentuk-bentuk dukungan orang tua terhadap anak dengan Down Syndrome di sekolah luar biasa (SLB) dan mengetahui tingkat prestasi belajar anak dengan Down Syndrome di sekolah luar biasa (SLB) . Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami secara mendalam suatu fenomena sosial melalui pengumpulan data lapangan sebagai sumber utama, seperti hasil wawancara dan observasi. Penelitian ini menggunakan 3 subjek anak Down Syndrome. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua memberikan dukungan emosional, instrumental, informasional, dan penghargaan melalui perhatian, pendampingan belajar, serta komunikasi dengan guru. Dukungan tersebut berpengaruh positif terhadap motivasi dan prestasi anak dengan Down Syndrome di SLB Negeri, yang menunjukkan peningkatan kemampuan belajar berkat peran keluarga dan lingkungan sekolah yang inklusif. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan peran orang tua, kerja sama dengan guru, serta penerapan pembelajaran adaptif untuk mendukung perkembangan anak dengan Down Syndrome
Makna Stres Akademik terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa: Sebuah Studi Kualitatif Muhammad Fajar Riyadi; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i2.6462

Abstract

Mahasiswa rentan mengalami stres akademik akibat tuntutan tugas, tekanan sosial, dan keterbatasan waktu. Kondisi ini tidak hanya mengganggu performa belajar, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan memahami secara mendalam hubungan antara stres akademik dan kesehatan mental mahasiswa dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Tiga mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh dipilih sebagai informan melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres akademik muncul dari beban tugas berlebih, ekspektasi keluarga dan dosen, serta keterampilan manajemen waktu yang terbatas. Dampaknya meliputi kelelahan emosional, kecemasan, sulit tidur, mudah tersinggung, penurunan motivasi, dan kecenderungan menarik diri. Namun, strategi koping adaptif seperti manajemen waktu, relaksasi, journaling, aktivitas spiritual, serta dukungan sosial terbukti membantu mereduksi tekanan tersebut. Penelitian ini menegaskan adanya hubungan negatif antara stres akademik dan kesehatan mental mahasiswa, sekaligus menunjukkan pentingnya dukungan institusi dalam menyediakan layanan konseling dan pelatihan pengelolaan stres.
Menjelajahi Makna Citra Tubuh dalam Membentuk Kepercayaan Diri di Kalangan Mahasiswi Asmaul Husna; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia (JPPI) Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jppi.v3i2.6656

Abstract

Platform sosial media membentuk persepsi masyarakat tentang apa yang dianggap “cantik” dan “ideal”. Tubuh langsing, kulit cerah, wajah simetris, serta gaya hidup tertentu sering kali dijadikan patokan nilai estetika yang harus dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna citra tubuh (body image) dan bagaimana persepsi tersebut memengaruhi kepercayaan diri mahasiswi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis deskriptif, penelitian ini melibatkan tiga mahasiswi aktif sebagai partisipan yang memiliki latar belakang sosial dan pengalaman pribadi berbeda. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi nonpartisipatif, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan erat antara body image dan kepercayaan diri. Mahasiswi yang memiliki body image positif menunjukkan penerimaan diri yang tinggi, pandangan realistis terhadap tubuh, serta rasa percaya diri yang stabil dalam berinteraksi sosial. Sebaliknya, body image negatif berkaitan dengan munculnya rasa minder, ketidakpuasan terhadap tubuh, dan penurunan kepercayaan diri, terutama ketika terpapar komentar sosial dan media. Faktor lingkungan sosial, seperti keluarga, teman sebaya, serta media sosial, terbukti berperan signifikan dalam membentuk persepsi tubuh. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerimaan diri (self-acceptance), literasi media, dan dukungan sosial sebagai faktor pelindung dalam membangun kepercayaan diri yang sehat di kalangan mahasiswi.
Dampak Fatherless Pada Emosi Anak Remaja Nadiatul Hikmah; Sri Nurhayati Selian
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.18484

Abstract

Fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur ayah semakin banyak dijumpai di masyarakat modern, terutama akibat perceraian, kematian, atau ketidak terlibatan emosional ayah dalam keluarga. Kondisi ini berpotensi memengaruhi perkembangan emosi dan kepribadian remaja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman emosional remaja yang hidup tanpa kehadiran ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap tiga remaja berusia 15–16 tahun di Banda Aceh. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami kondisi fatherless bukan hanya berdampak pada aspek sosial dan akademik tetapi juga berdampak pada emosional yang beragam, mulai dari penarikan diri, kemarahan, hingga ekspresi kreatif, selain itu remaja farherless juga bergantung pada protektif lingkungan dan strategi coping individu. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan emosional keluarga dan layanan konseling bagi remaja fatherless agar mampu membangun keseimbangan emosi, konsep diri positif, serta resiliensi dalam menghadapi tantangan perkembangan psikologisnya  
Assesmen Psikososial Terhadap Korban Bullying Pada Anak Dengan Down Syndrome Riefky Aulia; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Sultra Elementary School Vol 7 No 2 (2026): Edisi May 2026
Publisher : Prodi PGSD Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/jses.v7i2.671

Abstract

This study aims to examine the psychosocial conditions of children with Down syndrome who are victims of bullying through a comprehensive psychosocial assessment. A qualitative, descriptive approach was used to gain an in-depth understanding of the children's experiences, the forms of bullying they experience, and the resulting impacts. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, with the children's families as the primary informants. The results indicate that children experience various forms of bullying, such as verbal and social exclusion, which result in decreased self-confidence, anxiety, and a tendency to withdraw from social circles. Family support has been shown to play a crucial role in helping children cope with these impacts through emotional support and the creation of a safe environment. Furthermore, a less inclusive social environment can exacerbate children's conditions, while a supportive environment can enhance social adaptation. A psychosocial assessment provides a comprehensive picture of a child's condition, helping to accurately identify psychological and social needs. The implications of this study suggest that effective interventions need to be implemented holistically, involving families, schools, and the community. Therefore, this study contributes to the development of support and intervention strategies for children with Down syndrome who are victims of bullying to improve their psychosocial well-being.
Konstruksi Identitas Digital pada Individu dengan Tingkat Narsisme Tinggi: Sebuah Studi Kualitatif tentang Motif Penggunaan Media Sosial Khairani Nabila; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38953

Abstract

Media sosial telah menjadi ruang penting dalam pembentukan identitas diri, di mana individu cenderung mengonstruksi citra yang lebih ideal melalui proses kurasi dan pengelolaan kesan dibandingkan kehidupan nyata. Dalam praktiknya, pengguna mempertimbangkan berbagai aspek seperti penilaian sosial, estetika, serta dampak etis sebelum mengunggah konten, yang menunjukkan adanya tekanan sosial sekaligus kesadaran dalam membangun identitas digital. Respons audiens berupa likes dan komentar dimaknai secara beragam, mulai dari bentuk validasi hingga bahan evaluasi diri, meskipun sebagian individu berusaha mengurangi ketergantungan terhadap penilaian eksternal. Interaksi di media sosial juga berpengaruh terhadap kondisi emosional individu, baik secara positif maupun negatif, serta mendorong proses refleksi dan adaptasi dalam pengelolaan emosi, sekaligus berfungsi sebagai ruang kontrol diri dan pengembangan pribadi secara berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus interpretatif terhadap tiga informan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik untuk memahami konstruksi identitas digital serta motif penggunaan media sosial secara lebih mendalam.
Strategi Guru Dalam Mendukung Regulasi Emosi Anak Dengan Autism Spectrum Disorder Muhammad Thoriq Huwaidi; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Mahasiswa dan Akademisi Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Prodi PGSD Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/intelektual.v2i1.663

Abstract

Regulasi emosi merupakan kemampuan penting yang mendukung perkembangan sosial dan keberhasilan pembelajaran anak; namun, anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) sering mengalami kesulitan dalam mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara adaptif, sehingga berdampak pada partisipasi mereka di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, guru memiliki peran strategis dalam memberikan dukungan yang tepat terhadap regulasi emosi anak dengan ASD di sekolah inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi guru dalam mendukung regulasi emosi anak dengan ASD di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pengalaman dan praktik guru. Subjek penelitian terdiri atas tiga orang guru yang secara langsung mendampingi anak dengan ASD dalam kegiatan pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan enam tema utama, yaitu pemahaman guru terhadap karakteristik emosi anak, penciptaan lingkungan belajar yang terstruktur dan aman secara emosional, penggunaan strategi pembelajaran, pendekatan empatik, tantangan yang dihadapi guru, serta kolaborasi dengan orang tua dan tenaga profesional. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa dukungan regulasi emosi anak dengan ASD memerlukan pendekatan yang terstruktur, empatik, dan kolaboratif, serta menekankan peran penting guru dalam pendidikan inklusif`.
Pengalaman Menjadi People pleaser Pada Individu Dengan Karakter Agreeableness Tinggi Denada Yuliza; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Mahasiswa dan Akademisi Vol. 2 No. 3 (2026)
Publisher : Prodi PGSD Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/intelektual.v2i3.701

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman menjadi people pleaser pada individu dengan karakter agreeableness tinggi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif partisipan secara mendalam. Subjek penelitian berjumlah tiga responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria memiliki tingkat agreeableness tinggi dan kecenderungan perilaku people pleasing. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview), kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan agreeableness tinggi memiliki kecenderungan kuat untuk membantu dan menyenangkan orang lain sebagai bentuk empati dan upaya menjaga hubungan sosial. Namun, mereka juga mengalami kesulitan dalam mengatakan “tidak”, yang dipengaruhi oleh rasa tidak enak, takut mengecewakan orang lain, serta keinginan menghindari konflik. Faktor yang memengaruhi perilaku tersebut meliputi faktor internal seperti kepribadian dan empati, serta faktor eksternal seperti lingkungan sosial. Perilaku people pleaser memberikan dampak positif berupa hubungan sosial yang harmonis, namun juga berdampak negatif seperti kelelahan emosional, stres, dan burnout. Meskipun demikian, partisipan menunjukkan upaya untuk mengelola perilaku tersebut dengan menetapkan batasan diri dan menyeimbangkan kebutuhan pribadi dengan orang lain. Kesimpulannya, karakter agreeableness yang tinggi berperan dalam munculnya perilaku people pleaser, sehingga diperlukan kemampuan asertivitas dan self-boundaries agar individu dapat menjaga kesejahteraan diri tanpa mengabaikan hubungan sosial.
Narasi Orang Tua tentang Regulasi Emosi pada Anak dengan Oppositional Defiant Disorder Nurraihan Nurraihan; Sri Nurhayati Selian
Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 4 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/pjp.v3i4.5718

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi narasi orang tua mengenai regulasi emosi pada anak dengan Oppositional Defiant Disorder (ODD). ODD merupakan gangguan perkembangan yang ditandai dengan pola perilaku pembangkangan, mudah tersinggung, dan sulit dikelola, yang memberikan dampak signifikan bagi orang tua dan dinamika keluarga. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan tiga partisipan orang tua yang memiliki anak usia 8–9 tahun dengan diagnosis ODD. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi lima tema utama: (1) ekspresi emosi anak yang intens; (2) keterbatasan kemampuan regulasi emosi anak; (3) perubahan strategi pengasuhan dari respons reaktif menuju koregulasi; (4) kelelahan emosional orang tua serta upaya regulasi diri; dan (5) pengaruh stigma sosial yang memperparah tekanan pengasuhan. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya dukungan psikologis bagi orang tua anak dengan ODD serta perlunya edukasi publik untuk mengurangi stigma.