Sejarah karya Suster Santo Fransiskus di Semarang pada era kolonial dimulai dari kompleks Biara Suster Santo Fransiskus di Jalan Ronggowarsito. Awalnya kompleks biara merupakan rumah sakit milik VOC yang dibeli oleh Romo Scholten karena kebutuhan bagi asrama anak yatim piatu. Di dalamnya, terdapat bangunan kapel yang menjadi pusat aktifitas peribadatan bagi para suster yang tinggal di dalam kompleks. Saat ini, kondisi bangunan kapel mulai memprihatinkan, dimana setiap tahun mengalami banjir rob. Selain itu peninggian dan betonisasi Jalan Ronggowarsito yang berdampak terhadap peninggian pagar kompleks biara, membuat fasad bangunan kapel tidak terlihat dari luar kompleks. Pembahasan ini kemudian diangkat guna menganalisa dan mengidentifikasi elemen arsitektur pada fasad bangunan kapel Biara Suster Santo Fransiskus di Jalan Ronggowarsito. Analisa dan identifikasi dilakukan menggunakan teori fasad bangunan dan teori arsitektur kolonial. Teori fasad bangunan bertujuan untuk mengidentifikasi elemen pembentuk pada fasad bangunan kapel. Sedangkan teori arsitektur kolonial bertujuan untuk menganalisa faktor dari usia bangunan. Metode penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti adalah melalui survei lokasi guna mendapatkan data lapangan melalui pengukuran, dokumentasi gambar, hingga wawancara dengan beberapa pihak terkait yang memahami sejarah perkembangan kolonial di kota Semarang. Data yang didapatkan tersebut kemudian dianalisa dan diidentifikasi menggunakan teori fasad dan teori arsitektur kolonial.