Muhilal Muhilal
Kelompok Program Penelitian Penanggulangan Gizi Utama, Puslitbang Gizi, Bogor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN VITAMIN A TAKARAN TINGGI PADA TIKUS HAMIL MUDA TERHADAP ANAK YANG DILAHIRKAN Endi Ridwan; Sari P.; Hanny M.; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 13 (1990)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1959.

Abstract

Salah satu usaha jangka pendek dan dianggap paling efektif, dapat memberikan hasil nyata dalam waktu singkat untuk penanggulangan kekurangan vitamin A adalah pemberian vitamin A takaran tinggi. Pengunaan vitamin A yang berlebihan pada ibu hamil dapat menimbulkan efek negatif yang tidak diinginkan terhadap janin. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kebenaran dugaan tersebut diatas, dengan melihat kelainan anatomis dari anak yang dilahirkan, status vitamin A anak dan perkembangan pertumbuhan berat badan anak akibat pemberian vitamin A takaran tinggi pada ibu hamil muda dengan menggunakan tikus percobaan sebagai model. Perlakuan yang diberikan pada induk tikus hamil adalah pemberian vitamin A dengan takaran per kilogram berat badan setara dengan pemberian vitamin A pada ibu menyusui yaitu; 0 SI, 200.000 SI, 400.000 SI, 1 juta SI dan 2 juta SI dengan satu kali pemberian pada hari pertama setelah dikawinkan, serta 2 juta SI dengan 4 kali pemberian pada hari ke 1, 3, 5 dan 7 sesudah dikawinkan. Masing-masing perlakuan dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari pengamatan secara visual tidak didapatkan adanya kelainan anatomis pada anak tikus yang dilahirkan, sehingga dapat dinyatakan bahwa sampai dengan takaran 2 juta SI vitamin A belum dapat menimbulkan kelainan anatomis pada anak tikus yang dilahirkan. Perkembangan berat badan dan status vitamin A anak tikus berbeda sangat nyata dengan kelompok kontrol, perkembangan berat badan dan status vitamin A anak tikus menunjukkan nilai tertingi pada takaran pemberian vitamin A satu Juta SI. Diduga pengaruh penelitian hypervitaminosis A mulai terjadi pada pemberian vitamin A setara dengan 2 juta SI, ditandai dengan penurunan berat badan dan status vitamin A anak.
RISIKO RELATIF KAMBUH KEMBALI (RELAPTATION) DAN KEMATIAN PENDERITA XEROFTALMIA Sukati Sukati; Ance Murdiana; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 13 (1990)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1960.

Abstract

Telah dilakukan analisis data hasil penelitlan "Rintisan Penanggulangan Kekurangan Vitamin A dan Xeroftalmia dengan Mono Sodium Glutamat (MSG) yang difortifikasi Vitamin A (MSG-A)" di Kecamatan Cijeruk dan Caringin, Kabupaten Bogor. Dari 8000 anak balita yang diperiksa, sebanyak 5758 anak dapat dianalisis pada evaluasi pertama dan 5612 anak dapat dianalisis pada evaluasi kedua, yang terbagi menjadi kelompok perlakuan dan pembanding. Anak Balita penderita xeroftalmia pada kelompok perlakuan selain mendapatkan vitamin A dari kapsul vitamin A dosis tinggi juga mendapatkan tambahan dari MSG-A. Sedangkan pada kelompok pembanding anak balita xeroftalmia hanya mendapatkan vitamin A dari kapsul vitamin A dosis tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko relatif (RR) kambuh kembali anak penderlta xeroftalmia, secara keseluruhan (perlakuan dan pembanding) pada evaluasi I dan II, berturut-turut sebesar 20,2 kali dan 18,2 kali dibandingkan dengan anak bukan xeroftalmia (normal). Bila dipisahkan antara kelompok perlakuan dan pembanding maka RR kambuh kembali anak penderita xeroftalmia kelompok perlakuan pada evaluasi I sebesar 28,6 kali dibandingkan dengan anak normal, dan pada evaluasi II, tidak ada anak penderita xeroftalmia yang kambuh kembali. Sedangkan di kelompok pembanding, RR kambuh kembali pada evaluasi I dan II adalah 20 kali dan 17,5 kali. Risiko relatif kematian anak penderita xeroftalmia secara keseluruhan (perlakuan dan pembanding) sebesar 2,9 kali dibanding dengan anak normal. Bila dirinci menurut kelompok perlakuan dan pembanding, maka RR kematian anak penderita xeroftalmia di daerah perlakuan sebesar 3 kali dibandingkan dengan RR kematian anak normal. Sedangkan di daerah pembanding, RR kematian sebesar 5 kali dibanding dengan anak normal.