p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Kurios Voice of HAMI
parulian hutasoit
Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH CARA HIDUP JEMAAT MULA-MULA DALAM KISAH PARA RASUL 2:41-47 TERHADAP PERINTISAN GEREJA GBI ARAS 1 INDRAPURA SUMATERA UTARA parulian hutasoit; Novi Lesnusa
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 7, No 2 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v7i2.128

Abstract

Dalam pelaksanaan perintisan gereja ada banyak hal yang dapat mempengaruhi berjalanya kegiatan perintisan gereja dengan baik, Salah satunya yaitu cara hidup jemaat mula-mula. Keterlibatan jemaat mula-mula dalam perintisan dimulai pada waktu pencurahan Roh Kudus. Rasul-rasul memberikan pengajaran kepada jemaat, kemudian jemaat melanjutkannya melalui kesaksian hidup mereka, Sehingga mengakibatkan kegerakan rohani terjadi dan banyak orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Pelayanan para murid dapat berhasil tentu tidak lepas dari sikap hidup jemaat mula-mula yang dapat menjadi berkat bagi orang lain sehingga dikatakan dalam kisah para rasul mereka disukai oleh semua orang. Hal ini membuktikan sikap hidup jemaat mula-mula sungguh-sungguh menjadi berkat bagi orang lain. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan gembala GBI Aras 1 Indrapura mengenai pengaruh cara hidup jemaat mula-mula yang telah diterapkan dalam melaksanakan perintisan gereja  di GBI Indrapura sangat minim. Dikarenakan situasi dan kondisi saat ini karena covid-19 dan imbauan pemerintah juga supaya kita tidak boleh berkumpul, harus menjaga jarak sehingga di gereja GBI Aras 1 Indrapura untuk sementara hanya ibadah raya yang masih berjalan. Situasi saat ini sangat menentukan kesetiaan jemaat untuk datang beribadah ke Gereja. kondisi inilah yang menghambat pertumbuhan jemaat, karena ibadah dilaksanakan melalui aplikasi zoom, youtube dll membuat jemaat tidak maksimal dalam beribadah.  Hal inilah membuat cara hidup jemaat mula-mula sulit untuk diterapkan. Meskipun gereja berusaha untuk menerapkannya namun, dibatasi dengan keterbatasan dan kondisi yang ada. Adapun Penelitian ini mengunakan metode penelitian kuantitafif. Setelah melakukan penelitian sesuai dengan metodologi yang baku, maka didapat hasil perhitungan korelasi antara kedua variabel adalah 0,308 dan masuk pada kategori positif  dan rendah. Berdasarkan uji regresi didapat hasil regresi antara kedua variabel sebesar 0,095 atau 10% yang berarti pengaruh cara hidup jemaat mula-mula memberi kontribusi sebesar 10% terhadap perintisan gereja
Restorasi di tepi danau: Yohanes 21:15–19 sebagai paradigma pemulihan moral bagi jiwa yang terluka Parulian Hutasoit; Abraham Johannis; Sudiharjono Simanungkalit
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.1040

Abstract

Pastoral counseling in Indonesia typically operates with two categories: sin requiring forgiveness and trauma requiring psychological recovery. This article argues that a third and largely unaddressed category exists, namely moral injury, the rupture of moral identity caused by perpetrating, failing to prevent, or witnessing acts that transgress deeply held moral convictions. Through a narrative-critical reading of John 21:15–19, placed in critical correlation with moral injury literature and elaborated dogmatically, the article proposes Peter's restoration as a paradigm of moral repair. The analysis yields four restorative movements: reconstructing the site of injury through the charcoal fire; questioning that repeats rather than interrogates; recommissioning as the restoration of moral identity; and renewed discipleship within community. Dogmatically, the article distinguishes culpa, which calls for absolution, from vulnus morale, which calls for restoration, while resisting both cheap grace and the medicalization of moral failure. The article draws implications for pastoral practice, liturgy, and theological education in Indonesia.   Abstrak Konseling pastoral di Indonesia umumnya bekerja dengan dua kategori: dosa yang menuntut pengampunan dan trauma yang menuntut pemulihan psikologis. Artikel ini berargumen bahwa terdapat kategori ketiga yang belum tergarap, yaitu luka moral, yakni keretakan identitas moral akibat melakukan, gagal mencegah, atau menyaksikan tindakan yang melanggar keyakinan moral yang dipegang teguh. Melalui kritik naratif atas Yohanes 21:15–19 yang dikorelasikan secara kritis dengan literatur luka moral dan dielaborasi secara dogmatis, artikel ini mengusulkan restorasi Petrus sebagai paradigma pemulihan moral. Analisis menghasilkan empat gerak restoratif: rekonstruksi tempat luka melalui api arang, pertanyaan yang mengulang alih-alih menginterogasi, penugasan ulang sebagai pemulihan identitas moral, dan pengikutan yang diperbarui dalam komunitas. Secara dogmatis, artikel ini membedakan culpa yang menuntut absolusi dari vulnus morale yang menuntut restorasi, sambil menolak baik pemurahan anugerah maupun medikalisasi kegagalan moral. Implikasinya dirumuskan untuk praktik pendampingan, liturgi, dan pendidikan teologi di Indonesia.