Muslimin Muslimin
Universitas Lampung, Bandar Lampung, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SATU DASAWARSA BRICS: PELUANG DAN TANTANGAN: Narrative Literature Review Muslimin Muslimin; Muji Rahmat Ramelan; Lis Andriani
Peradaban Journal of Economic and Business Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Pustaka Peradaban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59001/pjeb.v4i1.278

Abstract

This narrative literature review examines the opportunities and challenges faced by BRICS (Brazil, Russia, India, China, and South Africa) over the past decade, focusing on Indonesia's potential integration into the alliance. The study highlights key areas such as green growth, renewable energy adoption, economic integration, and geopolitical dynamics. BRICS countries have shown varying progress in transitioning to cleaner energy sources, with Brazil and China leading in renewable energy investments, while Indonesia faces challenges in reducing fossil fuel dependency. The review also explores the role of human capital, financial development, and intellectual property rights in driving sustainable growth. Despite internal disparities and geopolitical tensions, BRICS strengthens its influence in global economic governance. Indonesia's participation in BRICS offers strategic economic and geopolitical advantages, including diversification of trade partnerships and technology transfer, but requires careful management of risks such as fossil fuel dependency and geopolitical competition. The study concludes that BRICS must address internal challenges, including corruption and institutional weaknesses, to fully realize its potential as a global economic force. Tinjauan literatur naratif ini mengkaji peluang dan tantangan yang dihadapi oleh BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) selama dekade terakhir, dengan fokus pada potensi integrasi Indonesia ke dalam aliansi tersebut. Studi ini menyoroti area-area  kunci seperti pertumbuhan hijau, adopsi energi terbarukan, integrasi ekonomi, dan dinamika geopolitik. Negara-negara BRICS telah menunjukkan kemajuan yang bervariasi dalam transisi ke sumber energi yang lebih bersih, dengan Brasil dan China memimpin dalam investasi energi terbarukan, sementara Indonesia menghadapi tantangan dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Tinjauan ini juga mengeksplorasi peran modal manusia, pengembangan keuangan, dan hak kekayaan intelektual dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Meskipun terdapat disparitas internal dan ketegangan geopolitik, BRICS terus memperkuat pengaruhnya dalam tata kelola ekonomi global. Partisipasi Indonesia dalam BRICS menawarkan keuntungan ekonomi dan geopolitik strategis, termasuk diversifikasi kemitraan perdagangan dan transfer teknologi, tetapi memerlukan pengelolaan risiko yang cermat seperti ketergantungan pada bahan bakar fosil dan persaingan geopolitik. Studi ini menyimpulkan bahwa BRICS harus mengatasi tantangan internal, termasuk korupsi dan kelemahan institusional, untuk sepenuhnya mewujudkan potensinya sebagai kekuatan ekonomi global.
Pendampingan Akses Pasar Ekspor Specialty Coffee di Provinsi Lampung Muslimin Muslimin; Mahatma Kufepaksi; Fajrin Satria Dwi Kesumah; Fiska Huzaimah
Peradaban Journal of Community Service Vol. 1 No. 1 (2025)
Publisher : Pustaka Peradaban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59001/dpj.v1i1.316

Abstract

This community service activity aims to expand export market access for processed coffee, particularly specialty coffee, produced by middle-class export entrepreneurs in Lampung Province. Additionally, this activity endeavors to provide input on processed coffee export policy to enhance commodity added value, generate foreign exchange, and encourage investment in Lampung. The Community Based Development plus (CBD+) approach by Sambodo et al. (2023) was adapted, identifying four key factors for community development. The focus group discussion (FGD) method involved relevant stakeholders in Lampung. Results indicate that coffee is a strategic commodity for both Lampung and Indonesia, significantly contributing to the Gross Regional Domestic Product (GRDP) and Gross Domestic Product (GDP). The innovative efforts of Lampung's middle-class exporters to enter the Singaporean and Malaysian specialty coffee markets require affirmative policy support. In conclusion, middle-level specialty coffee exporters have transformative potential in driving community development and sustainable coffee production in Lampung through social innovation and ethical sustainable practices, contributing to the well-being of coffee-farming communities and their business success. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memperluas akses pasar ekspor kopi olahan, khususnya specialty coffee, produksi pengusaha ekspor kelas menengah Lampung. Selain itu, kegiatan ini berupaya memberikan masukan kebijakan ekspor kopi olahan untuk meningkatkan nilai tambah, devisa, dan investasi di Lampung. Pendekatan Community Based Development plus (CBD+) dari Sambodo et al. (2023) diadaptasi, mengidentifikasi empat faktor kunci pengembangan masyarakat. Metode forum diskusi kelompok (Focus Group Discussion) melibatkan pemangku kepentingan di Lampung. Hasil menunjukkan kopi sebagai komoditas strategis bagi Lampung dan Indonesia, berkontribusi signifikan pada PDRB dan PDB. Upaya inovatif eksportir kelas menengah Lampung memasuki pasar specialty coffee Singapura dan Malaysia memerlukan dukungan kebijakan afirmatif. Disimpulkan bahwa eksportir specialty coffee tingkat menengah berpotensi transformatif mendorong pembangunan masyarakat dan produksi kopi berkelanjutan di Lampung melalui inovasi sosial dan praktik etis berkelanjutan, berkontribusi pada kesejahteraan komunitas petani kopi dan keberhasilan bisnis mereka.
Analyst Forecasts and the Cost of Capital: Evidence from Indonesian State-Owned Enterprises Muslimin Muslimin; R. A. Fiska Huzaimah
Peradaban Journal of Economic and Business Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Pustaka Peradaban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59001/pjeb.v5i1.582

Abstract

This study investigates the determinants of the Weighted Average Cost of Capital (WACC) for Indonesian State-Owned Enterprises (SOEs) under the Indonesia Investment Authority (BP Danantara), focusing on the interplay between capital market analyst forecasts and macroeconomic factors. Utilizing a quantitative explanatory design, the research employs logistic regression on a pooled dataset of financial and non-financial SOEs. The findings reveal distinct sectoral variations in WACC drivers. For non-financial SOEs, inflation is the sole significant factor, exerting a negative effect. Conversely, for financial SOEs, the debt-to-assets (DTA) ratio, firm size, and interest rates significantly and negatively influence WACC within a robust model. Notably, analyst forecasts do not yield a direct significant effect for either sector. The study concludes that WACC determinants are fundamentally sector-specific: financial SOEs are more sensitive to monetary policy and capital structure, whereas non-financial SOEs are primarily influenced by real economic conditions. These results suggest that financial SOE managers should prioritize capital structure optimization and interest rate responsiveness, while non-financial SOEs must focus on operational efficiency. Academically, this research affirms that fundamental factors, rather than short-term analyst sentiment, remain the primary drivers of corporate cost of capital in the Indonesian SOE landscape. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan Weighted Average Cost of Capital (WACC) pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah naungan Badan Pengelola (BP) Danantara sebagai Indonesia Investment Authority. Fokus utama penelitian ini adalah interaksi antara proyeksi analis pasar modal dan faktor-faktor makroekonomi. Dengan menggunakan desain eksplanatori kuantitatif, penelitian ini menerapkan analisis regresi logistik pada data panel BUMN sektor keuangan dan non-keuangan. Temuan penelitian menunjukkan adanya perbedaan sektoral yang signifikan pada determinan WACC. Pada BUMN non-keuangan, hanya inflasi yang menunjukkan pengaruh negatif signifikan. Sebaliknya, pada BUMN keuangan, debt-to-assets (DTA), ukuran perusahaan (firm size), dan tingkat suku bunga berpengaruh negatif secara signifikan dalam model yang kokoh. Sementara itu, proyeksi analis tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan pada kedua kelompok tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa determinan WACC bersifat spesifik sektoral: BUMN keuangan lebih sensitif terhadap kebijakan moneter dan struktur modal, sedangkan BUMN non-keuangan lebih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi riil seperti inflasi. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi manajemen BUMN keuangan untuk memprioritaskan pengelolaan struktur modal dan respons terhadap perubahan suku bunga, sementara BUMN non-keuangan perlu memperkuat efisiensi operasional. Secara akademis, hasil ini menegaskan bahwa faktor fundamental, alih-alih sentimen analis jangka pendek, merupakan penggerak utama biaya modal perusahaan.