Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Revitalisasi Aksara Lontara sebagai Identitas Budaya bagi Siswa Suku Bugis Perantauan A. Muh. Ayyub HT; Indriani
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 13 No. 4 Nopember (2024): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.1344

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperkenalkan kembali Aksara Lontara sebagai media tulis pada masyarakat Bugis perantau di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, guna mempertahankan identitas budaya lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan dengan model ADDIE yang meliputi tahapan Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Pasangkayu dengan sampel sebanyak 40 siswa berusia 12–15 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data primer diperoleh melalui wawancara dan angket, sementara data sekunder berasal dari karya siswa berupa surat sederhana yang ditulis menggunakan Aksara Lontara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan Aksara Lontara pada tahap sosialisasi sangat rendah, dengan 97,5% sampel belum memahami aksara tersebut. Namun, setelah dilaksanakan tahapan pengembangan, seluruh sampel mampu menguasai 23 huruf Aksara Lontara dalam penulisan kalimat sederhana. Pada tahap implementasi, seluruh siswa dapat menulis surat sederhana dengan tema “Izin Tidak Hadir ke Sekolah” menggunakan Aksara Lontara. Meski demikian, penguasaan diakritik masih menjadi tantangan, dengan hanya 15% sampel yang berhasil menempatkan diakritik dengan benar. Kesalahan yang umum terjadi meliputi penempatan tanda yang tidak tepat, penghilangan tanda, dan penggunaan tanda yang berlebihan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan Aksara Lontara antara lain penggunaan bahasa Bugis yang sudah berkurang dalam komunikasi sehari-hari, latar belakang keluarga, serta lingkungan sosial yang kurang mendukung.
Farm Income Analysis of Shallot Farmers in Dulang, Enrekang, South Sulawesi Indriani; Halimah Tussadia; Abdul Halim
Agriecobis : Journal of Agricultural Socioeconomics and Business Vol. 6 No. 02 (2023): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/agriecobis.v6i02.29602

Abstract

Shallot, recognized primarily as a spice vegetable, serves a pivotal role within the realm of vegetables. This study, undertaken in Dulang, Malua, Enrekang, South Sulawesi, Indonesia, a prominent hub for shallot production in the Enrekang Regency, involved 90 respondents comprising shallot farmers. The principal objective of this research is to ascertain the income generated by these farmers. Employing a survey method, the study gathered data through direct interviews with shallot farmers, selected through a simple random sampling approach. The findings revealed that the average yield from shallot cultivation ranged between IDR 40,000,000 and IDR 50,000,000 per harvest. This outcome suggests the economic viability of shallot production in Dulang, Malua, Enrekang, South Sulawesi, Indonesia.