Borman Sumaji
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Difference in Incision Wound Closure Time Between 10% Povidone-iodine Solution and Chloramphenicol 2% Ointment in Swiss Webster Mice Selina Wissen; Borman Sumaji; Dian Lesmana
Journal of Medicine and Health Vol 2 No 6 (2020)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v2i6.2036

Abstract

Luka adalah cedera fisik yang mengakibatkan rusaknya kulit. Penanganan luka diperlukan untuk mencegah terjadinya infeksi. Agen topikal untuk luka insisi ekstraoral yang umumnya tersedia di puskesmas dan klinik-klinik kesehatan umum maupun gigi yaitu solutiopovidone iodine 10% dan unguentum kloramfenikol 2%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan waktu penutupan luka insisi yang diaplikasikan solutiopovidone iodine 10% dengan unguentum kloramfenikol 2% pada mencit Swiss Webster. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik, menggunakan 30 ekor mencit Swiss Webster yang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok I adalah luka insisi pada paha kanan mencit dan diaplikasikan solutiopovidone iodine 10%. Kelompok II adalah luka insisi pada paha kiri mencit dan diaplikasikan unguentum kloramfenikol 2%. Data yang diukur adalah rerata waktu penutupan luka insisi untuk kedua kelompok, kemudian dianalisis menggunakan uji non parametrik Mann-Whitney. Rerata waktu penutupan luka insisi yang diaplikasikan solutiopovidone iodine 10% adalah 5,07±0,691 hari, dan yang diaplikasikan unguentum kloramfenikol 2% adalah 5,03±0,765 hari. Simpulan penelitian adalah tidak terdapat perbedaan waktu penutupan luka insisi yang diaplikasikan solutio povidone iodine 10% dengan unguentum kloramfenikol 2% pada mencit Swiss Webster. Kata kunci: waktu penutupan luka, luka insisi, solutio povidone iodine 10%, unguentum kloramfenikol 2%
Efek Pemberian Lidokain 2% dan Epinefrin 1:80.000 Terhadap Tekanan Darah Setelah Penyuntikan dan Pencabutan Gigi Rahan Bawah Pasien RSGM Maranatha Bandung Borman Sumaji; Herjanto Kurnia; Claudia Canio Sasongko
SONDE (Sound of Dentistry) Vol. 8 No. 2 (2023): SONDE (Sound of Dentistry)
Publisher : Maranatha Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2016, prevalensi penduduk dengan tekanan darah tinggi secara nasional sebesar 30.9%. Hipertensi merupakan penyakit yang prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia. Seiring dengan meningkatnya prevalensi, dokter gigi pun akan menghadapi lebih banyak pasien hipertensi. Lidokain 2% dan epinefrin 1:80.000 adalah anestetikum lokal yang paling banyak digunakan dalam kedokteran gigi yang dapat memberikan respon hemodinamis salah satunya yaitu tekanan darah. Penelitian ini dilakukan untuk melihat efek pemberian lidokain 2% dan epinefrin 1:80.000 terhadap tekanan darah setelah penyuntikan dan pencabutan gigi rahang bawah pasien RSGM Maranatha Bandung. Metode: Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan desain potong lintang. Data tekanan darah merupakan data primer yang didapat dari 35 subjek yang menjalani tindakan pencabutan gigi dengan teknik anestesi blok rahang bawah. Tekanan darah diukur sebanyak 3 kali, yaitu sebelum penyuntikan, 5 menit setelah penyuntikan dan 5 menit setelah pencabutan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan variasi tekanan darah sistol yang meningkat setelah penyuntikan (+3.06 mmHg), dan kemudian menurun setelah pencabutan (-1.82 mmHg). Pada tekanan darah diastol menunjukkan penurunan setelah penyuntikan (-0.02 mmHg) dan kemudian meningkat setelah pencabutan (+0.88 mmHg). Kesimpulan: Tidak terdapat efek yang signifikan secara statistik dari pemberian lidokain 2% dan epinefrin 1:80.000 pada tekanan darah sistol dan diastol (p>0.05).