Ira Rahayu
Prodi Diksatrasia Unswagati Cirebon

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Bilingualisme pada Masyarakat Desa Matanghaji Ira Rahayu
Deiksis : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 4 No 2 (2017): Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/deiksis.v4i2.614

Abstract

Bilingualisme adalah kemampuan menggunakan bahasa oleh seseorang dengan sama baik atau hampir sama baiknya, yang secara teknis mengacu pada pengetahuan dua buah bahasa bagaimanapun tingkatnya. Desa Matanghaji terletak di Kabupaten Cirebon dan berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kuningan. Hali ini berpengaruh pada bahasa yang digunakan oleh masyarakatnya. Diindikasi masyarakat Desa Matanghaji dapat menggunakan dua bahasa dalam aktivitas kesehariannya, yakni bahasa Sunda dan bahasa Cirebon. Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1.Mengetahui bilingualisme masyarakat di Desa Matanghaji. 2.Mengetahui bagaimana aktivitas bilingualisme yang digunakan oleh  masyarakat di Desa Matanghaji. Berdasarkan hasil analisis data penelitian ini, maka dapat disiimpulkan bahwa masyarakat Desa Matanghaji sebagian besar bilingual, B1 masyarakat  Desa Matanghaji adalah bahasa Sunda, sedangkan B2-nya adalah bahasa Cirebon dan bahasa Indonesia. Aktivitas bilingualisme masyarakat Desa Matanghaji, berlangsung situasional saja.
Gelap di Antara Terang Warna Lokal Masyarakat Pesisir Cirebon Sebuah Analisis Cerpen Karya Abdul Majid Ira Rahayu
Deiksis : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 5 No 2 (2018): JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/deiksis.v5i2.1169

Abstract

Penelitian Gelap di Antara Terang Warna Lokal Masyarakat Pesisir Cirebon, sebuah Analisis Cerpen Karya Abdul Majid dilatarbelakangi oleh pentingnya penanaman nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dalam proses pendididikan dan pengajaran sastra. Mahasiswa harus mengkontruksikan pengetahuan atau menyemaikan benih-benih nilai positif dalam dirinya sebagai hasil pemikiran dan interaksinya dengan konteks sosial budaya yang mengepung dan mengkondisikanya. Mahasiswa diharapkan mampu menciptakan karya berdasarkan intraksi antara pengetahuan yang telah dimiliki, diketahui, dan dipercayai dengan gejala gagasan atau informasi baru yang diperoleh dalam proses pendidikan yang di tempuhnya. Oleh karena itu, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang dimaksud harus hadir dalam kelas pembelajaran. Khususnya dalam pembelajaran menulis cerpen pada Mata Kuliah Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi.Kata Kunci: cerpen, warna lokal