Salsabila Pramudita
Politeknik Penerbangan Indonesia Curug

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Dampak Perubahan Minimum Equipment List terhadap Operational Limitation ATR 42-500 Pelita Air Service Salsabila Pramudita; Triyani Retno Putri Sari Dewi; Rivandi Hafieza
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.9149

Abstract

Minimum Equipment List (MEL) merupakan dokumen operasional yang menjadi dasar penentuan kelayakan dispatch pesawat ketika terdapat peralatan yang tidak berfungsi. Revisi MEL ATR 42-500 Pelita Air Service tahun 2025 mencakup perubahan pada 118 item, namun dampak operasional dari perubahan tersebut terhadap operational limitation belum dikaji secara sistematis di tingkat operator. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perubahan MEL ATR 42-500 Pelita Air Service tahun 2025, menganalisis dampaknya terhadap operational limitation, serta menjelaskan implikasinya terhadap pengambilan keputusan operasional. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif-komparatif melalui gap analysis terhadap dokumen MEL sebelum dan sesudah revisi, ditunjang wawancara semiterstruktur dengan Flight Operations Officer, Pilot, dan Aircraft Maintenance Technician. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman serta divalidasi melalui triangulasi sumber dan teknik. Metode ini dipilih karena mampu menggali makna dan konteks operasional yang tidak dapat diperoleh hanya melalui data kuantitatif semata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 118 perubahan pada MEL Operations Part, sembilan item tergolong signifikan karena berkaitan langsung dengan perubahan rectification interval (tujuh item) dan penambahan item baru (dua item). Perubahan tersebut memberikan dampak yang berbeda-beda, mulai dari perpanjangan fleksibilitas operasional hingga pengetatan kategori dispatch pada item yang berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan. Revisi MEL juga memengaruhi keputusan dispatch, jenis penerbangan yang diizinkan, prioritas pemeliharaan, serta koordinasi antara pilot, Flight Operations Officer, dan maintenance. Perbedaan interpretasi yang pernah terjadi pada salah satu item menunjukkan bahwa kategori perbaikan tidak dapat dibaca secara terpisah dari dispatch condition serta prosedur operasional dan pemeliharaan. Dengan demikian, revisi MEL ATR 42-500 meningkatkan kejelasan batas operasional dan konsistensi keputusan dispatch, tetapi efektivitas penerapannya tetap bergantung pada sosialisasi, keseragaman pemahaman, dan koordinasi lintas fungsi. Penelitian lanjutan disarankan mengumpulkan data kuantitatif dispatch reliability untuk mengukur secara empiris dampak revisi MEL terhadap keandalan operasional armada pasca-revisi.