Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Strategi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk memperkuat literasi digital mahasiswa Nur Cholifah; Nila Sari; Ade Ricky Rozzaqi; Siswanto Siswanto
Journal of Education, Cultural and Politics Vol. 6 No. 2 (2026): Sixteenth Edition
Publisher : Departemen Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Hukum Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jecco.v6i2.980

Abstract

The increasingly intensive use of social media among university students has reshaped the ways they obtain information, engage in discussion, and form views within the public sphere. This development has positioned digital literacy as an important concern for higher education institutions. Previous studies have largely described students’ levels of digital competence through surveys, while limited attention has been given to how such capacities are developed through learning experiences, particularly within the context of Civic Education. This study aims to examine learning strategies in Civic Education for strengthening students’ digital literacy. A qualitative approach with a case study design was employed at a private university in Semarang. The study involved two lecturers and ten students over one academic semester. Data were collected through observation, in-depth interviews, and document analysis, and were analysed thematically through repeated coding and interpretation. The findings indicate that students became more engaged when course materials were connected to issues closely related to their everyday digital experiences. Discussions concerning misinformation, data privacy, and online ethics made classroom interaction more dynamic and encouraged the habit of verifying information sources before using them as references. Within the same process, students became more careful in expressing their views and more open to differing perspectives. These findings suggest that Civic Education should not be confined to the transmission of normative values, but can extend its function as a pedagogical space for fostering critical, ethical, and responsible digital citizenship. Accordingly, curriculum development needs to provide clearer space for information verification, digital ethics, and healthy public participation.
Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Sosial dalam Tradisi Hajatan di Kelurahan Tanjung Batu Timur Sisi Ayudiah; Nila Sari; Mariyani Mariyani
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 13, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/civicus.v13i2.30801

Abstract

Perubahan Sosial sebagai suatu proses perubahan bentuk yang mencakup keseluruhan aspek kehidupan masyarakat, proses yang berlangsung selama manusia itu hidup, baik lokal maupun global. Perubahan sosial bisa terjadi karena pada dasarnya masyarakat bersifat dinamis sehingga perubahan yang dilakukan bisa mengikuti arus perkembangan zaman. Modernisasi merupakan suatu proses perubahan masyarakat untuk menjadi masyarakat modern. Melibatkan tranformasi budaya dari masyarakat tradisional ke masyarakat berkembang sesuai dengan kehidupan masa kini. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan perubahan sosial pada Tradisi Hajatan di Kelurahan Tanjung Batu Timur, kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Kajian ini juga menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab perubahan sosial dalam adat sedekahan yaitu bertambah dan berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru, konflik yang terjadi dalam masyarakat dan pengaruh masyarakat lain.Social Change as a process of changing forms that covers all aspects of community life, a process that takes place as long as humans live, both locally and globally. Social change can occur because basically society is dynamic so that the changes made can follow the flow of development of the times. Modernization is a process of changing society to become a modern society. Involving cultural transformation from traditional society to developing society in accordance with today's life. This study aims to determine what factors cause social change in the custom of almsgiving in Tanjung Batu Timur Village, this study uses a qualitative approach with a case study method. This study also uses three data collection techniques, namely interviews, observation and documentation. The results of this study indicate that the factors causing social change in the custom of almsgiving are the increase and decrease of the population, new discoveries, conflicts that occur in society and the influence of other communities.
Pendampingan Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Mendesain Instrumen Penilaian Berbasis Kasus (Case Based) di Desa Inderalaya Mulya Alfiandra Alfiandra; Rizki Maharani; Nila Sari; Puspa Dianti; Tri Andyta
Abdimas Galuh Vol 8, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i1.22131

Abstract

Pembelajaran pada abad 21 menekankan pengembangan kemampuan berfikir kritis peserta didik. Salah satu pembelajaran yang memfasilitasinya adalah pendekatan pembelajaran berbasis masalah (Case Based Learning). Hasil penelitian kompetitif kami yang didanai dana PNBP Universitas Sriwijaya tentang desain pembelajaran berbasis masalah pada 2022 dan 2024 menyimpulkan salah satu komponen penting adalah penilaian yang juga berbasis masalah. Penilaian berbasis masalah adalah penilaian di mana siswa mengeksplorasi studi kasus nyata atau semi nyata. Guru berperan sebagai fasilitator, sedangkan peserta didik mengembangkan pemecahan masalah melalui analisis kritis, kolaborasi, dan refleksi. Banyak guru mengalami kesulitan merancang instrumen penilaian autentik sesuai prinsip penilaian berbasis kasus, seperti penggunaan kasus relevan, penilaian komprehensif, dan pemberian umpan balik. Untuk itu guru memerlukan pendampingan lewat kegiatan pengabdian masyarakat. Mitra sasaran adalah guru PPKn dalam MGMP PPKn SMP di desa Inderalaya Mulya. Kondisi eksisting mitra ditandai ketimpangan akses pelatihan, fokus sebelumnya lebih pada kurikulum/administrasi, bukan pedagogik dan penilaian kontekstual. Solusi prioritas adalah pelatihan dan simulasi desain penilaian berbasis kasus serta pendampingan implementasi. Tahapan kegiatan: sosialisasi, pelatihan, penerapan, pendampingan, evaluasi. Hasil menunjukkan kehadiran dan keaktifan tinggi, pemahaman peserta meningkat, produk instrumen sangat baik, dan kepuasan guru kategori sangat puas. Kegiatan PPM berhasil meningkatkan kompetensi pedagogik guru dalam mendesain instrumen penilaian berbasis kasus untuk meningkatkan pelayanan pembelajaran.
EFEKTIVITAS PENDEKATAN ETNOPEDAGOGI DALAM MENGINTEGRASIKAN BUDAYA LOKAL PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA Tiara Berliani; Nila Sari
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9392

Abstract

The low level of students' understanding of the diversity of Indonesian society due to the suboptimal integration of local culture in Pancasila Education subjects is the background to the urgency of this research. This study aims to evaluate the effectiveness of the ethnopedagogy approach as a strategy for integrating local culture in Pancasila Education learning. The research method uses a quantitative approach with a quasi-experimental nonequivalent control group design, involving two seventh grade classes at SMP Negeri 18 Palembang as the experimental and control groups. The data collection process was carried out through pretest and posttest instruments whose validity and reliability were tested, then analyzed using prerequisite tests and the Mann–Whitney U Test hypothesis test. The results of the quantitative data analysis showed a significant increase, where the experimental class with the ethnopedagogy approach experienced an average increase in scores from 60.41 to 83.88 or 38.85%, higher than the control class using conventional methods with an increase from 54.02 to 74.16 or 37.28%. Statistical tests confirmed a significant difference in learning outcomes between the two groups. The main conclusion of this study confirms that the ethnopedagogical approach has proven effective in improving students' understanding and successfully integrating local cultural values ​​contextually in Pancasila Education learning, so it is recommended as a relevant pedagogical innovation. ABSTRAK Rendahnya pemahaman peserta didik terhadap keberagaman masyarakat Indonesia akibat belum optimalnya pengintegrasian budaya lokal dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila menjadi latar belakang urgensi penelitian ini. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pendekatan etnopedagogi sebagai strategi pengintegrasian budaya lokal dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental nonequivalent control group design, melibatkan dua kelas VII di SMP Negeri 18 Palembang sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. Proses pengumpulan data dilakukan melalui instrumen pretest dan posttest yang teruji validitas serta reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji prasyarat dan uji hipotesis Mann–Whitney U Test. Hasil analisis data kuantitatif menunjukkan peningkatan signifikan, di mana kelas eksperimen dengan pendekatan etnopedagogi mengalami kenaikan rata-rata nilai dari 60,41 menjadi 83,88 atau sebesar 38,85%, lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional dengan kenaikan dari 54,02 menjadi 74,16 atau sebesar 37,28%. Uji statistik mengonfirmasi adanya perbedaan nyata hasil belajar antara kedua kelompok. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan etnopedagogi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta didik dan berhasil mengintegrasikan nilai budaya lokal secara kontekstual dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, sehingga direkomendasikan sebagai inovasi pedagogis yang relevan.