Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Perbandingan Proteksi Tabir Surya Spf 30, 50, dan 100 Terhadap Minimal Erythema Dose Akibat Paparan Sinar UVB Secara In Vivo Dewa Ayu Manik Utari; Stefani Nurhadi; Desy Hinda Pramita; Stephen Akihiro Wirya
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i3.55819

Abstract

Indonesia secara geografis merupakan negara tropis yang terletak di garis khatulistiwa, sehingga menerima sinar matahari dengan intensitas tinggi dan konstan sepanjang hari. Tabir surya melindungi kulit dari paparan sinar matahari dan efektivitasnya diukur melalui Sun Protecting Factor (SPF). Minimal Erythema Dose (MED) adalah interval waktu atau dosis terendah sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan eritema minimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan proteksi tabir surya SPF 30, 50 dan 100 dengan melihat minimal erythema dose pada hewan coba setelah dilakukan paparan sinar UVB. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) sebagai hewan coba. Terdapat 4 kelompok yang terdiri dari 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan dengan sampel setiap 1 kelompok adalah 7 sampel. Kelompok perlakuan dalam penelitian ini adalah kelompok tikus putih yang dioleskan dengan tabir surya dengan sun protecting factor 30, 50, dan 100 yang dipapar dengan sinar UVB, sedangkan kelompok kontrol pada penelitian ini adalah kelompok tikus putih tanpa dioleskan tabir surya yang dipapar sinar UVB. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengukuran waktu MED yang timbul dalam satuan menit. Hasil analisis ANOVA satu arah menunjukkan nilai signifikansi <0,05, yang menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna antara kelompok. Rata-rata waktu MED untuk kelompok kontrol adalah 13,57 menit, sedangkan untuk kelompok SPF 30, 50, dan 100 masing-masing adalah 341,29 menit, 560,43 menit, dan 702,14 menit. Dapat disimpulkan bahwa proteksi tabir surya SPF 30, SPF 50 dan SPF 100 berbanding lurus dengan waktu perlindungan, semakin tinggi nilai SPF tabir surya maka semakin tinggi waktu perlindungannya.
Formulasi dan Evaluasi Pengaruh Sediaan Krim Pelembap Dengan Gliserol Terhadap Kadar Hidrasi Kulit Tikus Putih Yang Dipapar Aseton Sudargo, Iie; Nurhadi, Stefani; Pramita, Desy Hinda; Pribadi, Florence; Sayogo, Wiliam; Adrianto, Hebert; Wirya, Stephen Akihiro
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 11 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i11.3048

Abstract

Kulit kering atau xerosis, ditandai dengan hilangnya fungsi barier kulit dan berkurangnya hidrasi kulit. Gliserol, suatu humektan, dapat meningkatkan hidrasi kulit dengan karena memiliki kemampuan untuk menarik molekul air dengan membentuk ikatan hidrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian krim pelembap dengan berbagai konsentrasi gliserol terhadap kadar hidrasi kulit tikus putih yang dipapar aseton. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar jantan Sampel penelitian dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing terdiri dari 7 ekor tikus. Analisis data dilakukan dengan menggunakan software SPSS. Dari hasil analisis deskriptif didapatkan bahwa rata-rata kadar hidrasi kulit tertinggi dihasilkan oleh krim pelembap formula III yang mengandung 20% gliserol. Hasil uji t berpasangan menunjukkan bahwa sediaan krim pelembap kontrol tanpa gliserol tidak meningkatkan kadar hidrasi kulit pada hari pertama, kedua, dan ketiga sesudah pengolesan. Sediaan krim pelembap formula I, II, dan III yang masing-masing mengandung 5%, 10%, dan 20% gliserol dapat meningkatkan kadar hidrasi kulit pada hari pertama, kedua, dan ketiga sesudah pengolesan. Dari hasil uji t dua sampel bebas ditemukan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara efek hidrasi kulit krim pelembap kontrol dengan krim pelembap formula I, II, dan III. Hasil uji ANOVA satu arah menunjukkan adanya perbedaan efek hidrasi kulit yang signifikan antara sediaan krim pelembap formula I, II, dan III (p<0,05). Penelitian ini menegaskan efikasi gliserol sebagai humektan dalam meningkatkan hidrasi kulit. Temuan ini mendukung pengembangan krim pelembap berbasis gliserol untuk mengatasi kulit kering.
CLINICAL SPECTRUM AND PATIENT CHARACTERISTIC OF CONDYLOMA ACUMINATA: A TWO-YEAR RETROSPECTIVE REVIEW AT DR. MOHAMAD SOEWANDHIE GENERAL HOSPITAL Suryani Novelita Sutrisno, Christine; Hinda Pramita, Desy; Puspita Dewi, Ita
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol. 11 No. 2 (2025): October
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jwm.v11i2.7654

Abstract

Condyloma acuminata (CA), primarily caused by low-risk human papillomavirus (HPV) types 6 and 11, is among the most common sexually transmitted infections (STIs) worldwide. Despite its public health importance, local epidemiological data in Indonesia remain limited. This study aimed to describe the demographic characteristics, lesion distribution, and comorbidities of CA patients in a tertiary dermatology outpatient clinic. A retrospective descriptive study was conducted using electronic medical records of patients with confirmed CA at Dr. Mohamad Soewandhie General Hospital, Surabaya, Indonesia, between January 2023 and December 2024. Extracted variables included demographic characteristics, clinical presentation, and comorbidities. Seventy-five patients met the inclusion criteria, consisting of 38 females (50.7%) and 37 males (49.3%). The majority were adults aged 19–59 years (n=71, 94.7%), with smaller proportions of adolescents (n=3, 4.0%) and elderly patients (n=1, 1.3%). Genital lesions were the predominant manifestation across both sexes, whereas anal lesions occurred more frequently in males. HIV was the most common comorbidity, emphasizing the overlap between CA and other STIs. In conclusion, CA primarily affects young adults in their reproductive years, with HIV co-infection representing a major clinical concern. These findings underscore the importance of early detection, comprehensive STI screening, and consideration of gender-neutral HPV vaccination in Indonesia.
Formulasi dan Evaluasi Pengaruh Sediaan Krim Pelembap Dengan Gliserol Terhadap Kadar Hidrasi Kulit Tikus Putih Yang Dipapar Aseton Sudargo, Iie; Nurhadi, Stefani; Pramita, Desy Hinda; Pribadi, Florence; Sayogo, Wiliam; Adrianto, Hebert; Wirya, Stephen Akihiro
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 11 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i11.3048

Abstract

Kulit kering atau xerosis, ditandai dengan hilangnya fungsi barier kulit dan berkurangnya hidrasi kulit. Gliserol, suatu humektan, dapat meningkatkan hidrasi kulit dengan karena memiliki kemampuan untuk menarik molekul air dengan membentuk ikatan hidrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian krim pelembap dengan berbagai konsentrasi gliserol terhadap kadar hidrasi kulit tikus putih yang dipapar aseton. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar jantan Sampel penelitian dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing terdiri dari 7 ekor tikus. Analisis data dilakukan dengan menggunakan software SPSS. Dari hasil analisis deskriptif didapatkan bahwa rata-rata kadar hidrasi kulit tertinggi dihasilkan oleh krim pelembap formula III yang mengandung 20% gliserol. Hasil uji t berpasangan menunjukkan bahwa sediaan krim pelembap kontrol tanpa gliserol tidak meningkatkan kadar hidrasi kulit pada hari pertama, kedua, dan ketiga sesudah pengolesan. Sediaan krim pelembap formula I, II, dan III yang masing-masing mengandung 5%, 10%, dan 20% gliserol dapat meningkatkan kadar hidrasi kulit pada hari pertama, kedua, dan ketiga sesudah pengolesan. Dari hasil uji t dua sampel bebas ditemukan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara efek hidrasi kulit krim pelembap kontrol dengan krim pelembap formula I, II, dan III. Hasil uji ANOVA satu arah menunjukkan adanya perbedaan efek hidrasi kulit yang signifikan antara sediaan krim pelembap formula I, II, dan III (p<0,05). Penelitian ini menegaskan efikasi gliserol sebagai humektan dalam meningkatkan hidrasi kulit. Temuan ini mendukung pengembangan krim pelembap berbasis gliserol untuk mengatasi kulit kering.
Penggunaan Tabir Surya Berbagai SPF dalam Mencegah Lentigo Solaris pada Kulit yang Terpapar Sinar Matahari Nur Faiza, Monica Ambarwati; Nurhadi, Stefani; Pramita, Desy Hinda; Mellyanawati; Wartiningsih, Minarni; Wirya, Stephen Akihiro; Suryadarma, Antonius Yansen
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.306

Abstract

Pendahuluan: Sinar UV dapat mengaktivasi melanosit sehingga meningkatkan produksi melanin dan memicu terbentuknya hiperpigmentasi pada kulit. Lentigo solaris adalah salah satu hiperpigmentasi kulit yang terjadi akibat paparan sinar ultraviolet (UV) jangka panjang. Lentigo solaris tidak menimbulkan masalah kesehatan serius tetapi dapat mengganggu estetika kulit. Tujuan penelitian: Untuk mengevaluasi hubungan penggunaan tabir surya berbagai SPF terhadap pembentukan lentigo solaris pada individu yang terpapar sinar matahari. Metode: Penelitian ini menggunakan desain case control dengan total 85 responden, terdiri dari 17 responden dengan lentigo solaris dan 68 responden tanpa lentigo solaris. Pengukuran lentigo solaris dilakukan menggunakan skin analyzer berdasarkan parameter UV Spots, sedangkan penggunaan tabir surya dinilai melalui kuesioner terstandarisasi. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara penggunaan tabir surya dan kejadian lentigo solaris (p = 0,007). Responden yang tidak menggunakan tabir surya memiliki risiko 5,093 kali lebih besar mengalami lentigo solaris dibandingkan responden yang menggunakan tabir surya (95% CI: 1,643–15,785). Beberapa responden yang tidak menggunakan tabir surya tetapi tidak mengalami lentigo solaris, menunjukkan bahwa faktor lain seperti fototipe kulit dan intensitas paparan UV juga berperan. Kesimpulan: Penggunaan tabir surya merupakan faktor protektif penting dalam mencegah pembentukan lentigo solaris.