Febriyanti Nazdain Eka Diana Putri
Ilmu Sosial dan Politik,Sosiologi,Universitas Airlangga

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Praktik Wacana Ketidaksetaraan Gender dalam Tradisi Nyesek bagi Perempuan Sasak di Desa Sade Febriyanti Nazdain Eka Diana Putri
Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik Vol. 5 No. 4 (2025): (JIHHP) Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jihhp.v5i4.4135

Abstract

Idealisasi tubuh khususnya penampilan fisik yang dilakukan masyarakat umum sama halnya dengan tuntutan sosial yang ada dalam tradisi suku Sasak, di mana perempuan diharuskan bisa membuat kain penutup tubuh (nyesek) guna menunjukkan kedewasaan dan menjadi tolok ukur istri idaman. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksetaraan gender di mana standar tubuh ideal dan peran sosial perempuan Sasak sangat ditentukan oleh tradisi ini. Artikel ini mengkaji sentralitas tubuh guna menelaah pemanfaatan wacana nyesek sebagai standar ideal tubuh perempuan Sasak yang merepresentasikan ketidakadilan gender tersebut. Penelitian berupaya mengidentifikasi wacana-wacana tradisional pada suku Sasak dan bagaimana wacana tersebut berperan mendisiplinkan dan mengawasi perempuan. Adapun pandangan perempuan Sasak dari generasi tua dan muda mengenai nyesek turut dikaji guna memahami bagaimana ketidaksetaraan gender dipahami dan direproduksi. Metode deskriptif kualitatif diterapkan dengan mewawancarai sejumlah perempuan Sasak berusia 18-80 tahun, yang sebagian besar adalah penenun kain sesek berbahasa Sasak, sehingga diperlukan penerjemahan oleh perempuan Sasak berusia muda. Penelitian bertujuan menunjukkan bahwa keterampilan nyesek tidak sekadar melestarikan tradisi, namun mendorong peran ekonomi perempuan dalam keluarga petani. Meski demikian, kontribusinya masih terbatas. Kajian penting dilakukan mengingat banyak perempuan Sasak yang belum menyadari praktik pengawasan pada tubuh melalui wacana dalam tradisi nyesek yang merepresentasikan ketidaksetaraan gender