Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Psychological Capital Terhadap Work Engagement Pada Pegawai Negeri Sipil Bagian Rawat Jalan di Rumah Sakit Dustira Kota Cimahi Ulfah Trijayanti; Bramantio Arif Wibowo
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 5 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i5.7848

Abstract

Pegawai negeri sipil memainkan peran penting dalam memajukan tujuan rumah sakit dengan meningkatkan dampak modal psikologis terhadap keterlibatan kerja, khususnya di bagian rawat jalan Rumah Sakit Dustira Kota Cimahi. Penelitian ini mengkaji variasi dalam budaya usia, jenis kelamin, dan jenis tugas yang belum pernah diteliti sebelumnya. Kerangka teori yang digunakan adalah modal psikologis menurut Luthans (2007) dan keterlibatan kerja menurut Schaufeli dan Bakker (2002). Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif dan metode kuantitatif dengan desain penelitian kausalitas non-eksperimental. Responden dalam penelitian ini berjumlah 47 pegawai negeri sipil di bagian rawat jalan, dengan teknik total sampling dan standar error sebesar 1%. Alat ukur modal psikologis yang digunakan adalah hasil modifikasi dari Setyandari dkk. (2018) yang berjumlah 24 item, sedangkan alat ukur keterlibatan kerja menggunakan hasil modifikasi dari Iwan Sidharta (2018) yang berjumlah 17 item. Kedua alat ukur ini diuji reliabilitasnya dengan nilai koefisien Cronbach's alpha sebesar 0,837 untuk modal psikologis dan 0,912 untuk keterlibatan kerja. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal psikologis berpengaruh terhadap keterlibatan kerja dengan nilai sebesar 39,3% (p<0,001). Dapat disimpulkan bahwa modal psikologis berpengaruh terhadap keterlibatan kerja pada pegawai negeri sipil bagian rawat jalan di Rumah Sakit Dustira Kota Cimahi. Penelitian selanjutnya disarankan untuk lebih mendalami komponen-komponen dari variabel modal psikologis dan keterlibatan kerja.
Pengaruh Psychological Capital Terhadap Work Engagement Pada Pegawai Negeri Sipil Bagian Rawat Jalan di Rumah Sakit Dustira Kota Cimahi Ulfah Trijayanti; Bramantio Arif Wibowo
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 5 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i5.7848

Abstract

Pegawai negeri sipil memainkan peran penting dalam memajukan tujuan rumah sakit dengan meningkatkan dampak modal psikologis terhadap keterlibatan kerja, khususnya di bagian rawat jalan Rumah Sakit Dustira Kota Cimahi. Penelitian ini mengkaji variasi dalam budaya usia, jenis kelamin, dan jenis tugas yang belum pernah diteliti sebelumnya. Kerangka teori yang digunakan adalah modal psikologis menurut Luthans (2007) dan keterlibatan kerja menurut Schaufeli dan Bakker (2002). Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif dan metode kuantitatif dengan desain penelitian kausalitas non-eksperimental. Responden dalam penelitian ini berjumlah 47 pegawai negeri sipil di bagian rawat jalan, dengan teknik total sampling dan standar error sebesar 1%. Alat ukur modal psikologis yang digunakan adalah hasil modifikasi dari Setyandari dkk. (2018) yang berjumlah 24 item, sedangkan alat ukur keterlibatan kerja menggunakan hasil modifikasi dari Iwan Sidharta (2018) yang berjumlah 17 item. Kedua alat ukur ini diuji reliabilitasnya dengan nilai koefisien Cronbach's alpha sebesar 0,837 untuk modal psikologis dan 0,912 untuk keterlibatan kerja. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal psikologis berpengaruh terhadap keterlibatan kerja dengan nilai sebesar 39,3% (p<0,001). Dapat disimpulkan bahwa modal psikologis berpengaruh terhadap keterlibatan kerja pada pegawai negeri sipil bagian rawat jalan di Rumah Sakit Dustira Kota Cimahi. Penelitian selanjutnya disarankan untuk lebih mendalami komponen-komponen dari variabel modal psikologis dan keterlibatan kerja.
The Relationship Between Effort-Reward Imbalance and Subjective Wellbeing (A Study of Temporary Teachers at Public Junior High Schools in Subdistrict X, West Bandung Regency) Ulfah Trijayanti; Titania Farah Salsabila
Journal Research of Social Science, Economics, and Management Vol. 5 No. 11 (2026): Journal Research of Social Science, Economics, and Management
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jrssem.v5i11.1512

Abstract

Temporary teachers play an essential role in maintaining the continuity of education, particularly in public junior high schools where teacher availability and student developmental needs require strong professional commitment. However, temporary teachers often face unequal working conditions, including high workloads, administrative responsibilities, additional school duties, limited financial compensation, and uncertain employment status. This study aims to examine the relationship between effort-reward imbalance and subjective well-being among temporary teachers at public junior high schools in Subdistrict X, West Bandung Regency. A quantitative approach with a non-experimental correlational design was employed. The study population consisted of 32 temporary teachers from four public junior high schools, selected using saturated sampling. Data were collected through online questionnaires via Google Forms and analyzed using JASP software, with validity, reliability, normality, descriptive, cross-tabulation, and Pearson Product Moment correlation tests applied. The findings show a significant negative relationship between effort-reward imbalance and subjective well-being, with a correlation coefficient of r = ?0.639 and p < 0.001, indicating that a higher perceived imbalance between effort and reward is associated with lower subjective well-being. Most respondents were categorized as having rewards greater than effort and moderate subjective well-being. The study concludes that fair rewards, social support, professional recognition, and career certainty are important factors in maintaining the psychological well-being of temporary teachers.