Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Representasi Nilai-Nilai Keislaman Pada Film 99 Cahaya Di Langit Eropa Sausan Nur Shabrina; Maria M Widiantari; Fikri Hasan
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 3 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i3.2461

Abstract

Penelitian ini menyoroti pentingnya memahami representasi nilai-nilai keislaman dalam media massa, khususnya film, sebagai alat komunikasi budaya dan agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis representasi nilai-nilai keislaman dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa dan untuk mengeksplorasi bagaimana film ini dapat mempengaruhi persepsi masyarakat tentang Islam. Film ini dipilih karena mengangkat tema perjalanan spiritual seorang Muslim di Eropa, yang menggambarkan tantangan identitas dan integrasi budaya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi langsung terhadap film dan kajian literatur yang relevan. Data dianalisis menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes melalui tiga elemen utama: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman, seperti aqidah, akhlak, dan syariah, direpresentasikan melalui dialog, adegan, dan simbol budaya. Nilai aqidah tercermin dalam keimanan kepada Tuhan, nilai akhlak dalam interaksi sosial, dan nilai syariah dalam praktik ajaran Islam. Analisis mitos memperlihatkan Islam sebagai agama damai dan toleran, sekaligus melawan stereotip negatif tentang Muslim di Eropa. Kesimpulannya, 99 Cahaya di Langit Eropa tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan dakwah yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat luas.
Pengelolaan Informasi Privat dan Mitigasi Risiko Sosial pada Mahasiswa Kos Pelaku Perilaku Seksual Pranikah di Kota Madiun Neni Utami Ardianingsih; Maria Magdalena; Fikri Hasan
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i1.3989

Abstract

This study explores the privacy communication management of boarding house students in Madiun engaged in premarital sexual behavior through the lens of Communication Privacy Management (CPM). Using a qualitative case study approach, the research focuses on how these individuals manage information ownership, construct privacy boundaries, and navigate turbulence within interpersonal relationships. Data were gathered through in-depth interviews with three students and analyzed using CPM’s core pillars: privacy ownership, boundaries, rules, and turbulence. The findings reveal that students perceive their sexual behavior as highly sensitive private property under their absolute control as information owners. Disclosure is executed selectively, dictated by levels of interpersonal trust, relationship context, and potential social risks. Consequently, students establish situational and flexible privacy rules while designating specific confidants as "co-owners" of the information. When these rules are breached, leading to information leakage, informants experience privacy turbulence that triggers significant emotional responses. However, such turbulence does not invariably result in a total communication breakdown; instead, it prompts students to recalibrate their privacy boundaries and tighten future communication patterns. This research contributes to interpersonal communication studies by demonstrating the resilience of CPM theory in explaining the complex privacy dynamics of students facing intense social stigma and moral risks within a conservative environment.Penelitian ini mengeksplorasi manajemen komunikasi privasi mahasiswa kos di Madiun yang terlibat dalam perilaku seksual pranikah melalui perspektif Communication Privacy Management (CPM). Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, fokus penelitian diarahkan pada bagaimana individu mengelola kepemilikan informasi, mengonstruksi batasan privasi, serta menavigasi turbulensi dalam hubungan interpersonal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga mahasiswa dan dianalisis menggunakan pilar utama CPM: kepemilikan, batasan, aturan, dan turbulensi privasi. Temuan mengungkapkan bahwa mahasiswa memandang perilaku seksual mereka sebagai properti pribadi yang berada di bawah kendali penuh mereka sebagai pemilik informasi. Pengungkapan dilakukan secara selektif, yang ditentukan oleh tingkat kepercayaan interpersonal, konteks hubungan, dan potensi risiko sosial. Akibatnya, mahasiswa menetapkan aturan privasi yang situasional dan fleksibel sambil menunjuk orang kepercayaan tertentu sebagai "pemilik bersama" (co-owners) informasi tersebut. Ketika aturan ini dilanggar dan memicu kebocoran informasi, informan mengalami turbulensi privasi yang memicu respons emosional yang signifikan. Namun, turbulensi tersebut tidak selalu berujung pada pemutusan komunikasi total; sebaliknya, hal itu mendorong mahasiswa untuk melakukan rekalibrasi batasan privasi dan memperketat pola komunikasi di masa depan. Penelitian ini berkontribusi pada studi komunikasi interpersonal dengan menunjukkan ketahanan teori CPM dalam menjelaskan dinamika privasi kompleks mahasiswa yang menghadapi stigma sosial dan risiko moral di lingkungan konservatif. 
Representasi Nilai-Nilai Keislaman Pada Film 99 Cahaya Di Langit Eropa Sausan Nur Shabrina; Maria M Widiantari; Fikri Hasan
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 3 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i3.2461

Abstract

Penelitian ini menyoroti pentingnya memahami representasi nilai-nilai keislaman dalam media massa, khususnya film, sebagai alat komunikasi budaya dan agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis representasi nilai-nilai keislaman dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa dan untuk mengeksplorasi bagaimana film ini dapat mempengaruhi persepsi masyarakat tentang Islam. Film ini dipilih karena mengangkat tema perjalanan spiritual seorang Muslim di Eropa, yang menggambarkan tantangan identitas dan integrasi budaya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi langsung terhadap film dan kajian literatur yang relevan. Data dianalisis menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes melalui tiga elemen utama: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman, seperti aqidah, akhlak, dan syariah, direpresentasikan melalui dialog, adegan, dan simbol budaya. Nilai aqidah tercermin dalam keimanan kepada Tuhan, nilai akhlak dalam interaksi sosial, dan nilai syariah dalam praktik ajaran Islam. Analisis mitos memperlihatkan Islam sebagai agama damai dan toleran, sekaligus melawan stereotip negatif tentang Muslim di Eropa. Kesimpulannya, 99 Cahaya di Langit Eropa tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan dakwah yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat luas.