Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Evaluasi Kemampuan Keuangan Daerah dan Dinamika Pola Hubungan Fiskal di Kabupaten Raja Ampat Winda Hanifah; Raja Al-Fath
Konstitusi : Jurnal Hukum, Administrasi Publik, dan Ilmu Komunikasi Vol. 2 No. 3 (2025): Konstitusi : Jurnal Hukum, Administrasi Publik, dan Ilmu Komunikasi
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Pengajar Ilmu Hukum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/konstitusi.v2i3.776

Abstract

The implementation of regional autonomy in Indonesia is often assessed through fiscal independence as a measure of a region's capacity to manage its own finances. However, in practice, many regions—including Raja Ampat Regency—remain heavily reliant on central government transfers, highlighting the weakness of local fiscal capacity. This study aims to evaluate the financial capability of the region and examine the dynamics of fiscal relations between the central and local governments in Raja Ampat Regency, Southwest Papua Province. A descriptive quantitative approach was employed, utilizing secondary data from 2020 to 2024. The evaluation is based on five key indicators: the Degree of Fiscal Decentralization (DDF), Degree of Fiscal Autonomy (DOF), Fiscal Need (KbF), Fiscal Capacity (KaF), and the Fiscal Independence Ratio. The analysis reveals that Raja Ampat's fiscal independence is critically low, with an average DDF of only 19.45% and a DOF of merely 1.89%. The region’s high per capita fiscal need (10.45) is not matched by sufficient fiscal capacity (5.85), indicating a significant fiscal deficit. Furthermore, the persistently negative fiscal independence ratio reinforces its strong dependence on central government support. The existing fiscal relationship is characterized as instructive, with central intervention remaining dominant. A reformulation of fiscal policy that is more context-sensitive and equitable is urgently needed to support archipelagic regions such as Raja Ampat in achieving sustainable fiscal independence.
Persepsi Petani terhadap Infrastruktur Pendukung Kawasan Agropolitan di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie Yunita Arafah; Rahmatul Ulia; Winda Hanifah
JPPE : Jurnal Perencanaan & Pengembangan Ekonomi Vol 8, No 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/jppe.v8i2.5291

Abstract

Pembangunan kawasan agropolitan merupakan strategi pengembangan regional yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan sektor pertanian dan peningkatan integrasi antardaerah. Distrik Tangse di Kabupaten Pidie telah ditetapkan sebagai kawasan agropolitan karena potensi produksi pertaniannya yang tinggi; namun, kawasan ini masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar yang mempengaruhi efektivitas sistem agribisnisnya. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi infrastruktur pendukung di kawasan agropolitan dan menganalisis persepsi petani terhadap fungsionalitasnya. Metode deskriptif kuantitatif digunakan, dengan sampel 100 responden yang dipilih melalui sampling probabilitas. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner skala Likert, serta dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan perhitungan indeks persepsi. Hasil menunjukkan bahwa Kabupaten Tangse memiliki produksi pertanian yang tinggi, terutama dalam komoditas jagung, padi, cabai, durian, kopi, dan kakao, yang mendukung potensinya sebagai kawasan agropolitan. Namun, persepsi petani terhadap kondisi infrastruktur bervariasi secara signifikan. Sistem irigasi mendapatkan skor tertinggi sebesar 85,8% (sangat baik), menunjukkan jaringan irigasi yang berfungsi dengan baik. Jalan desa dinilai baik dengan skor 64,4%, meskipun persepsi positif tidak merata di seluruh desa. Jalan antar desa dan jalan desa ke kota dinilai moderat (55,0%) akibat kerusakan jalan yang parah. Infrastruktur pasar dan gudang penyimpanan mendapatkan skor terendah sebesar 37,0% dan 34,4% (buruk), disebabkan oleh ketidakhadiran pasar yang aktif dan penggunaan fasilitas penyimpanan yang minim. Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tangse masih menghadapi tantangan signifikan dalam infrastruktur distribusi dan pemasaran. Oleh karena itu, meningkatkan kualitas jalan, mendirikan pasar lokal yang dikelola dengan baik, dan merevitalisasi gudang penyimpanan merupakan hal yang esensial untuk memperkuat rantai agribisnis, meningkatkan daya tawar petani, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Pendekatan Pembangunan Wilayah Berbasis Komunitas untuk Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Desa Luthu Lamweu Elysa Wulandari; Myna Agustina Yusuf; Winda Hanifah; Siti Zahrina Fakhrana
Bayt ElHikmah: Journal of Islamic Architecture and Locality Vol. 3 No. 1 (2025): Bayt ElHikmah
Publisher : Prodi Arsitektur, Fakultas Sains dan Teknologi bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jial.v3i1.9600

Abstract

This study examines community empowerment strategies to develop Luthu Lamweu Village as a sustainable tourism destination based on community-based tourism (CBT). Strategically located in Sukamakmur District, Aceh Besar Regency, the village boasts significant tourism potential, including natural landscapes, cultural traditions, and local products such as handicrafts and traditional cuisine. However, this potential remains underutilized due to inadequate infrastructure, weak institutional frameworks, limited community capacity in tourism management, and suboptimal promotional efforts. The research utilized a descriptive method with data collected through interviews, questionnaires, observations, and Focus Group Discussions (FGD).