Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KOMPETENSI PENYULUH AGAMA ISLAM TERHADAP PEMBINAAN NILAI-NILAI MODERASI BERAGAMA DI SULAWESI BARAT: Kompetensi Penyuluh Agama Islam terhadap Pembinaan Nilai-Nilai Moderasi Beragama di Sulawesi Barat Salim Ismail, Nur
Jurnal Diskursus Islam Vol 13 No 1 (2025): Sejarah Islam, Perpustakaan dan Informasi Islam, Pemikiran Islam, Dakwah
Publisher : Program Pascasarjana, UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pokok masalah penelitian ini adalah Kompetensi Penyuluh Agama Islam terhadap Pembinaan Nilai-Nilai Moderasi Beragama di Sulawesi Barat. Standar kompetensi yang digunakan adalah Kompetensi Teknis, Manajerial dan Sosial-Kultural. Selanjutnya dibreakdown ke dalam sub masalah atau pertanyaan penelitian, yaitu: 1) Apa urgensi moderasi beragama bagi masyarakat Sulawesi Barat? 2) Bagaimana kompetensi Penyuluh dalam melakukan pembinaan nilai-nilai moderasi beragama? dan 3) Bentuk-bentuk apa saja yang dilakukan penyuluh Agama Islam dalam menyampaikan pesan moderasi beragama bagi masyarakat? Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif kualitatif. Peneliti turun ke lapangan untuk mengumpulkan data dengan menggunakan wawancara, mengumpulkan dokumen yang memiliki kaitan dengan judul yang diteliti. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa moderasi beragama urgen diterapkan di Sulawesi Barat dengan pertimbangan sebagai daerah yang majemuk. Baik dari sisi kemajemukan agama, budaya, etnis serta berbagai latar belakang lainnya. Kompetensi penyuluh Agama Islam di Sulawesi Barat cenderung berjalan secara personal, belum menjadi standar kompetensi secara umum. Kompetensi teknis para penyuluh agama Islam cenderung positif di wilayah perkotaan. Namun kurang pada aspek managerial dan sosial kultural. Sebaliknya, di wilayah pedesaan, kompetensi managerial dan sosial budaya justeru cukup baik. Strategi penyuluh dalam melakukan transformasi wawasan moderasi beragama secara personal dilakukan dengan bimbingan penyuluhan ke masing-masing objek penyuluhan. Juga dilakukan dengan menggunakan tiga model. Yaitu Model Kampung Moderasi Beragama, Model Desa Sadar kerukunan dan Model Kemitraan. Implikasi penelitian ini adalah: 1) Secara teoritis, jika mendudukkan posisi moderasi beragama dalam 3 (tiga) tipologi, yaitu Agama yang diregulasi (Governed Religion), Agama yang dikaji (Expert Religion), dan Agama sehari-hari (Lived Religion), maka tema moderasi beragama memerlukan formulasi yang lebih aplikatif. Sebab dominan kehidupan beragama diwarnai oleh lived religion. Pada saat yang sama, eksistensi penyuluh mesti didukung oleh penguatan pada sumber daya manusia serta ditunjang oleh sarana operasional yang dapat mendukung aktivitas kepenyuluhan di seluruh objek binaan di Sulawesi Barat.