Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Produksi Hukum Islam di Jawa Abad ke-15: Studi Historis atas Peran Walisongo dalam Kesultanan Demak Muflih Rofal; Dzulkifli Hadi Imawan
Islam Nusantara: Journal for the Study of Islamic History and Culture Vol. 6 No. 2 (2025): Islam Nusantara: Journal for the Study of Islamic History and Culture
Publisher : Faculty of Islam Nusantara, Nahdlatul Ulama University of Indonesia (Unusia) Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47776/0m970y67

Abstract

As the first Islamic kingdom in Java, the Sultanate of Demak played a crucial role in integrating Islamic teachings with the pre-existing political and legal structures of the region. Far from being limited to religious rituals or spiritual concerns, the application of Islamic law in Demak extended into various aspects of governance, social regulation, and public ethics. This integration marked a significant transformation in Javanese society, as Islamic norms gradually began to influence decision-making processes, judicial practices, and administrative structures. One of the most significant features of the Demak period was the emergence of Islamic educational institutions, which served as centers for both religious instruction and intellectual development. These institutions not only provided a formal setting for the study of the Qur’an, Hadith, and fiqh (Islamic jurisprudence), but also helped shape a generation of scholars and leaders who would continue the process of Islamization throughout Java. At the heart of this intellectual and spiritual movement were the ulama, particularly the legendary Walisongo (Nine Saints), whose influence extended beyond religious teaching. Through da'wah (missionary work), educational outreach, and social leadership, the Walisongo helped embed Islamic legal and moral values into the everyday lives of the Javanese people. Their holistic approach combined law, ethics, and community welfare, thereby facilitating both spiritual growth and social harmony. The legacy of the Demak Sultanate, therefore, lies not only in its political achievements but also in its pivotal contribution to the institutionalization of Islamic law and education in Java’s historical landscape.
Niat dan Motif dalam Akad Syariah Perspektif Kaidah Fikih Muflih Rofal; Gunawan Gunawan; Asmuni Asmuni
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol. 11 No. 2 (2025): SYARIATI : Jurnal Studi Al Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v11i2.9843

Abstract

Niat dan motif merupakan elemen mendasar dalam hukum Islam yang memengaruhi validitas dan konsekuensi suatu perbuatan. Dalam akad syariah, niat menjadi faktor utama yang menentukan keabsahan suatu perjanjian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran niat dan motif dalam akad syariah melalui perspektif kaidah fikih, khususnya kaidah “Al-umur bimaqasidiha” (segala sesuatu tergantung pada tujuannya). Pendekatan kualitatif dengan metode studi literature, khususnya terhadap kitab yang berjudul Qawaid Al-Fiqhiyah Bain Al-Ashalah Wa Al-Taujih karangan Muhammad Bakr Ismail sebagai rujukan primer digunakan untuk menganalisis konsep-konsep niat, motif, dan penerapannya dalam bidang hukum tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam akad syariah, niat yang sesuai dengan tujuan syar’i, seperti keadilan dan kemaslahatan, menjadi syarat mutlak keabsahan akad. Sebaliknya, niat yang tidak murni dapat mengakibatkan batalnya akad. Makalah ini menegaskan bahwa kaidah fikih memberikan kerangka metodologis yang penting untuk memahami dan menerapkan hukum Islam secara adil dan proporsional. Kajian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan studi hukum Islam yang lebih integratif dalam aspek muamalah.